Selain Penyertaan Modal, Dana Operasional PDAM Tirtanadi Juga Didapat dari Pelanggan

62
Sosialisasi kenaikan tarif air PDAM Tirtanadi yang diadakan di Kecamatan Medan Sunggal, Selasa (18/4/2017). (tobasatu.com).

tobasatu.com, Medan| PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara mengalokasikan dana sekitar Rp320 miliar untuk membangn sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) pada tahun 2017 ini, untuk mencukupi kebutuhan air bagi pelanggan.

Menurut Ketua Tim Penyesuaian Air Ir Zulkifli Lubis, untuk program 2017 PDAM Tirtanadi antara lain telah menyusun program berupa uprating IPA Sunggal yang memiliki kapasitas 400 liter/detik, dibutuhkan dana 65 miliar ; uprating IPA Deli Tua yang memiliki kapasitas 300 liter/detik dengan dana Rp35 miliar; pembangunan IPA Medan Denai dengan kapasitas 240 liter / detik dengan biaya Rp66 miliar; pengembangan IPA Tirta Lyionnaisse Medan (TLM) dengan kapasitas 400 liter/detik dengan biaya Rp144 miliar dan pembangunan IPA Pancur Batu dengan kapasitas 40 liter/detik .

Keseluruhan Instalasi tersebut nantinya akan menghasilkan 1.380 liter/detik air bersih. Untuk itu, PDAM Tirtanadi telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp320 miliar.

Untuk tahun 2017, PDAM Tirtanadi diketahui mendapatkan penyertaan modal sebesar Rp73 miliar dari Pemprovsu.

“Karena itulah PDAM Tirtanadi harus melakukan penyesuaian tarif, untuk menutupi kekurangan biaya operasional,” tutur Zulkifli, saat melakukan sosialisasi kenaikan tarif air di Kecamatan Medan Sunggal, Selasa (18/4/2017).

Sosialisasi dihadiri dihadiri Direktur Air Limbah PDAM Tirtanadi Ir Heri Batangari M.Psi dan akademisi Jauharis Lubis yang juga Direktur Lembaga Kajian Pelayanan Publik (LKPP), Camat Medan Sunggal Muhammad Yunus, Kacab Sunggal Umar Khan Ritonga, para lurah dan unsur warga di sekitarnya.

Zulkifli mengatakan, Permendagri Nomor 71 tahun 2016 tentang perhitungan dan penetapan tarif air minum menyebutkan bahwa perhitungan dan penetapan tarif air minum didasarkan pada keterjangkauan dan keadilan, mutu pelayanan, pemulihan biaya, efisiensi pemakaian air, perlindungan air baku, transparansi dan akuntabilitas.

Selain dana penyertaan modal dari Pemprovsu, maka PDAM Tirtanadi sangat berharap dari operasional lainnya yang berasal dari pelanggan sendiri. Maka tak heran, kalau 28 persen lagi masyarakat Medan tak dapat air karena belum adanya air baku, minimnya produksi dan pipa-pipa yang sudah tua dan perlu diganti.

Disamping itu tambah, Zulkifli yang juga Kadiv SDM ini menerangkan, subsidi pelanggan rumah tangga (RT) II mencapai 20,9 persen dan RT III 41,6 persen yang menjadi beban bagi perusahaan.

Direktur Air Limbah Heri Batangari memaparkan alasan penyesuaian tarif air baru ini disebabkan tingginya inflasi setiap tahunnya rata-rata 8 persen di tahun 2016 yang berkisar saat ini 23,11 persen. Upah Minimum Kota (UMK) mencapai 37,7 persen (2016) dan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 58,4 persen di tahun ini.

Bahkan dalam menyikapi keluhan pelanggan, PDAM menggunakan sistem online untuk sambungan baru bagi pelanggan untuk menghindari praktek calo dan mengantisipasi oknum nakal yang memanipulasi rekening pelanggan.

Sementara akademisi Unimed Joharis Lubis memberikan apresiasi kepada direksi PDAM Tirtanadi yang kedepannya diharapkan terus mengupayakan kualitas air yang lebih baik kepada pelanggan. Selain itu mengharapkan adanya pergantian pipa distribusi baru yang sudah tak layak digunakan dan penanggulangan subsidi RT II dan RT III yang menjadi beban bagi PDAM.

Dalam pertemuan tersebut berbagai pertanyaan dan keluhan warga mendapat respon positif dan akan ditindak lanjuti seperti masalah kualitas air, pipa distribusi yang bocor, adanya warga yang sudah lama mendaftar tapi belum dilakukan survei ke pelanggan baru dan jaminan ketersediaan air menjelang bulan puasa Ramadhan. Namun warga sepakat dan mendukung kebijakan PDAM Tirtanadi melakukan penyesuaian tarif air. (ts-02)

loading...