6 dari 100 Orang Indonesia Membawa Gen Thalasemia

915

ny sutias

tobasatu|Sebanyak 6 – 10 dari 100 orang Indonesia membawa gen penyakit Thalasemia, yakni salah satu jenis anemia hemolitik dan merupakan penyakit keturunan yang diturunkan secara autosomal yang paling banyak dijumpai di Indonesia dan Italia.

“Enam sampai sepuluh dari setiap 100 orang Indonesia membawa gen penyakit ini. Kalau sepasang dari mereka menikah, kemungkinan untuk mempunyai anak penderita thalasemia berat adalah 25 persen, 50 persen menjadi pembawa sifat (carrier) thalasemia, dan 25 persen kemungkinan bebas Thalasemia. Sebagian besar penderita Thalasemia adalah anak-anak usia 0 hingga 18 tahun,” tutur dr Rahayu Sp A, salah seorang dokter spesialis anak, dihadapan Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Sumut Hj Sutias Handayani, pada acara Sosialisasi Penyakit Thalasemia di RS Sari Mutiara Medan, Rabu (21/1).

Untuk mencegah terjadinya Thalasemia pada anak, kata dr Ayu, pasangan yang akan menikah perlu menjalani tes darah, baik untuk melihat nilai hemoglobinnya maupun melihat profil sel darah merah dalam tubuhnya.

Peluang untuk sembuh dari thalasemia memang masih tergolong kecil karena dipengaruhi kondisi fisik, ketersediaan donor dan biaya. Untuk bisa bertahan hidup, penderita thalasemia memerlukan perawatan yang rutin, seperti melakukan tranfusi darah teratur untuk menjaga agar kadar Hb di dalam tubuhnya ± 12 gr/dL dan menjalani pemeriksaan ferritin serum untuk memantau kadar zat besi di dalam tubuh.

Sementara itu Sutias Handayani yang merupakan istri Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho mengajak masyarakat mendeteksi penyakit Thalasemia sejak dini.

Hadir acara tersebut Direktur RSU Sari Mutiara dr  Tahim Solin MMR, Manager RSU Sari Mutiara Medan dr. Tuahman F. Purba M.Kes, Sp.An,  dr Sugiani Sp.A Penanggung Jawab Ruang Inap Talasemia, dr Syaiful Ramadhan Penanggung Jawab Ruang Jalan Talasemia, dr Theresia F Purba dan dr Sahat Pasaribu team dokter pemeriksa Talasemia, dr Rahayu Sp A salah satu dokter anak.

Sementara Manager RSU Sari Mutiara Medan dr Tuahman mengajak kerjasama rumah sakit lain yakni RSU Sari Mutiara, Rumah Sakit Adam Malik dan Rumah Sakit Pringadi untuk menangani penyandang penyakit  thalasemia dan yang umumnya masyarakat menegah kebawah dan pengguna BPJS Kesehatan.

“Penyandang  Thalasemia harus melakukan transfusi darah seumur hidup. Dan setiap dua minggu sekali para penyandang tersebut  harus transfusi darah. Dan RSU Sari Mutiara  memberi fasilitas mulai dari tanpa antrian, layanan kamar yang lengkap tentunya harus peserta BPJS,”ujarnya.

Dikutip dari laman thalesmia.net, Thalasemia merupakan penyakit menurun yang ditandai dengan gangguan dan ketidakmampuan memproduksi eritrosit dan hemoglobin. Gejala penyakitnya bervariasi, dapat berupa anemia, pembesaran limpa dan hati, atau pembentukan tulang muka yang abnormal. (ts-02).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here