Pemerintah Kurang Tanggap Atasi Keterpurukan Perekonomian

937
Prof. Dr. Drs. M. Arif Nasution, MA

tobasatu, Medan | Kondisi perekonomian yang morat-marit beberapa waktu terakhir, menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi kalangan akademisi. Pemerintah dan elit Parpol dinilai tidak memiliki komitmen dalam berbangsa dan bernegara. Pemerintah saat berada dalam kondisi kehancuran secara sistematis.

Demikian diungkapkan Ketua Program Studi Magister Studi Pembangunan (MSP) Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. Drs. M. Arif Nasution, MA, menanggapi kondisi perekonomian di Indonesia yang terus merosot saat ini, Senin (13/4/2015)

Dikatakan Arif, perekonomian di Indonesia belakangan ini terus merosot yang ditandai tingginya harga dollar, kebutuhan pokok tidak terpenuhi, angka pengangguran cenderung meningkat, gas elpiji 3 kg sulit didapat. Namun pemerintah menurutnya kurang tanggap dalam menyelamatkan keterpurukan perekonomian tersebut.

“Penurunan rupiah, naiknya angka pengangguran menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola negara ini secara baik. Jika tidak dibenahi maka akan menjadi persoalan serius yang akan mengarah pada kehancuran negara,” tutur Arif.

Kondisi ini, sebut Arif, akan memancing rasa ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah baik itu di pusat maupun daerah. Pembiaran yang terjadi, juga menunjukkan adanya upaya sekelompok orang untuk menghancurkan pemerintah secara sistematis, dan menunjukkan ketidakpedulian pemerintah dan elit parpol.

“Intinya, melihat kondisi yang terjadi pemerintah dalam titik yang mengkhawatirkan,” sebutnya.

Guru Besar USU ini melihat elit politik dan pemerintah terus mengeruk kekayaan daerah dengan sangat rakus. “Sehingga ladang kehidupan dihabisi dan hidup terlantar. Ini menunjukkan elit politik tidak terpengaruh dan tidak peduli dengan bangsa ini lagi,” sebutnya.

Masyarakat yang kebanyakan miskin dan tidak berpendidikan nantinya akan menjadi sasaran utama dari para elit politik dan pemerintah untuk merongrong segala macam segi kehidupan masyarakat. Masyarakat miskin dimanfaatkan untuk merongrong kekayaan negara.

Karena itu, tambah Arif, masyarakat harus bisa memberikan reaksi yang tegas dan positif terhadap ketidakbenaran. “Elit politik dan pemerintah sekarang tidak memiliki komitmen dalam berbangsa dan bernegara,” sebutnya.

Menurut Arif, menumpahkan segala ketidakberesan yang terjadi saat ini hanya di pundak seorang Presiden Jokowi, juga bukan merupakan suatu penyelesaian. “Karena siapapun pemimpinnya jika elit politik dan pemerintah tidak memiliki komitmen dalam berbangsa dan bernegara, kondisi serupa akan terus terjadi,” sebutnya. Yang terpenting, pemerintah harus mampu segera mengatasi kemerosotan ekonomi, agar masyarakat tidak menjadi korbannya. (ts-02)