Nirwana Penyangga Perekonomian Sumatera Utara

1353

Pariwisata adalah aktivitas perjalanan dari tempat berpijak sekarang, hari ini, menuju tempat berikutnya tergantung selera ke mana hati ingin menepi, baik berkelompok maupun seorang diri.

Setiap orang bebas menenetukan ke mana ia akan singgah. Menapak tiap daerah, menoreh langkah pada spot yang masih perawan alias belum menjadi rutinitas para petualang, atau menjejak surga yang tersembunyi di beberapa lokasi yang sangat jarang dikunjungi bahkan sama sekali belum pernah ditemui.

Setiap orang juga memiliki alasan tersendiri untuk bepergian. Ada yang ingin berbulan madu, bermeditasi, mengeksplorasi, berpartisipasi, teracuni promo-promo murah dari perusahaan wisata, atau melarikan diri. yang pasti, pada setiap tujuan dan serangkaian alasan, tentu saja mereka membawa alat tukar beruapa uang untuk dibelanjakan.

Mereka harus menyewa transportasi untuk kawasan yang tidak terjangkau kenderaan pribadi, membayar sewa resor, hotel atau tempat penginapan selama bermukim, menyicip berbagai kuliner yang ditawarkan, sampai hal remah-remah (penting) lainnya seperti menyewa snorkling, perlengkapan menyelam, tikar, juga mengeluarkan sejumlah uang demi berhore-hore di arena permainan. Kemudian di akhir perjalanan, cinderamata dengan segala bentuk dan rupa wajib menjadi penghuni ransel dan bagasi.

Maka, berkaca pada faktor di ataslah yang membuat industri pariwisata berkembang pesat di berbagaidaerah. Mereka hadir dan tumbuh menjadipilar penting penyangga perekonomian banyak negara. Sebab, tanpa industri pariwisata, sebuah negara terkuat dan terkaya di dunia pun diyakini bisa goyah –karena industri ini terbukti bebas krisis ekonomi.

Karena itu, dengan semangat hari jadi ke-67, pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan pesona pariwisata yang berdaya saing menuju Sumut Bangkit.Dengan semangat hari jadi ke-67, Pemerintah hendak mengoptimalkan kekayaan sumber daya Sumatera Utara hingga mampu menjadi industri pariwisata bertaraf Internasional, yang dapat mendongkrak kesejahteraan serta menghidupkan sendi-sendi ekonomi pada tiap-tiap wilayahnya.

Hal ini jugadijelaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 tahun 2009 tentang fungsi dan tujuan pariwisata yakni, Kepariwisataan berfungsi memenuhi kebutuhan jasmani, rohani, dan intelektual setiap wisatawan dengan rekreasi dan perjalanan serta meningkatkan pendapatan negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Kepariwisataan bertujuan untuk:a. meningkatkan pertumbuhan ekonomi;b. meningkatkan kesejahteraan rakyat;c. menghapus kemiskinan;d. mengatasi pengangguran;e. melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya;f. memajukan kebudayaan;g. mengangkat citra bangsa;h. memupuk rasa cinta tanah air;i. memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa; danj. mempererat persahabatan antarbangsa.

Selama ini, Pemerintah hanya ‘menjual’ Danau Toba dan Tangkahan, yang sebenarnya tak perlu lagi digembar gemborkan. Sebab dua kawasan wisata ini sudah banyak diketahui dan dikunjungi wisatawan, dan telah menjadi buar bibir di kalangan penggila travel. Karena itu, Pemerintah harus serius menggali potensi daerah yang masih ‘virgin’, untuk dijadikan objek wisata sekaligus berperan sebagai industri pariwisata yang dapat menjadi sumber pajak dan pendapatan daerah.

BACA JUGA  Percepatan Pembangunan Danau Toba, Pemprov Sumut Minta Dukungan Pemerintah Pusat

Sebenarnya ada banyak tempat-tempat menarik di Sumatera Utara yang sangat layak dijadikan tujuan wisata. Namun sarana dan pra-sarana yang belum memadai menjadi kendala bagi para wisatawan untuk berkunjung ke sana.

Di Bukit Kapur, Tinggi Raja di Simalungun, ironi itu terpampang nyata. Kawah putih itu memiliki danau air panas yang berwarna biru kehijauan. Ia mengepulkan uap panas yang bisa mematangkan telur jika direndam ke dalamnya. Namun kalau dilihat sepintas, kawasan Bukit Kapur ini seperti diselimuti salju yang tak bermusim. Ia memutih pada pasir dan bebatuan. Danau kawah putih, begitu para pengunjung kerap menyebutnya, berada di tengah-tengah kawasan hutan lindung sehingga membuatnya sangat elok dan mengundang decak kagum. Tapi rute menuju ke sana sangat buruk. Jalannya sempit dan berbatu. Apalagi jika ditempuh saat hujan, jalan menjadi licin dan tidak aman. Di kawasan ini juga sangat minim fasilitas. Tidak adanya toilet, tidak terdapat tempat persinggahan yang mendukung keelokan Kawah Putih, lokasi parkir yang semerawut, serta munculnya pungutan-pungatan tak resmi yang konon akan digunakan untuk merenovasi Kawah Putih.

Dewasa ini, geliat pariwisata semakin heboh. Persaingan semakin ketat menyusul daerah lain juga terus berupaya menarik wisatawan lebih banyak. Pemerintah harus bekerja keras untuk menarik wisatawan dengan memperbaiki infrastruktur dari segala sisi. Kalaupun dengan beberapa perbaikan ini para wisatawan akan dikenakan kontribusi yang cukup mahal, kiranya tidak akan menjadi persoalan jika fasilitas dan kualitas yang didapatkan sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan.Diharapkan, melalui industri ‘murah’ ini pemerintah dapat menarik keuntungan yang besar dari para pengunjung, sehingga ‘nirwana’ yang terbentang di Sumatera Utara dapat berfungsi dengan baik, sebagai penyangga perekonomian penduduknya.

BACA JUGA  Manager Geosite Kaldera Toba Akan Diusulkan Oleh Kepala Daerah

Seperti yang dilansir dari situs Kementrian Dalam Negeri, menurut Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Wien Kusdiatmono, kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Utara pada 2013 mencapai 259.299 orang, naik dibanding 2012 yang tercatat 241. 833 orang. Menurut Wien, kenaikan ini belum cukup signifikan mengingat angka 250ribuan orang di tahun 2013 masih jauh di bawah realisasi tahun 1990-an yang sempat mencapai 500-ribuan orang.

Hendaknya, gebyar semangat hari jadi ini akan berkembang menjadi usaha, bukan sekedar niat yang berakhir di penghujung acara.Untuk itu, niat ini memerlukan peran dan kesadaran dari berbagai kalangan seperti perusahaan wisata, organisasi non pemerintah, serta masyarakat, untuk bahu membahu menjaga alam dan lingkungan, membangun infrastruktur seperti akses ke daerah wisata, dan sarana seperti transportasi dan penginapan. Di samping itu pemerintah juga harus menggalakkan program-program menarik untuk menggaet wisatawan baik dalam maupun luar negeri. (Aman Kurnia Habibi, wartawan tobasatu.com)

 Tulisan ini dibuat sebagai sarat untuk mengikuti lomba karya tulis yang diadakan diskominfo