Saat Pelajar Asal Main ‘Coblos’

409

tobasatu, Siantar | Sejak Komisi Pemilihan Umum (KPU) mensosialisasikan pemilu kepada siswa SMA, jumlah pemilih pun semakin banyak. Dari siwa/siswi dan yang baru saja tamat sekolah berlomba menggunakan hak pilihnya.

Selain sosialisasi, mereka juga diberikan simulasi bagaimana cara mencoblos sebagai pemilih pemula. Namun, sosialisasi ini disalah artikan oleh GS (16) pria asal Jalan Kain Suji, Kelurahan Bane, Kecamatan Siantar Utara. Lantaran asal coblos, ia pun menjadi buronan Polisi.

GS, baru saja menamatkan sekolahnya di bangku SMA. Saat di sekolah, GS sempat berkenalan dengan Mawar (17) yang kini masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Sejak melihat Mawar, GS langsung ingat dengan sosialisasi pemerintah tentang pemilu, apalagi dalam waktu dekat pemilihan serentak akan dilaksanakan.

Sebagai pemilih yang cerdas, GS pun lemat-lemat mengamati Mawar. Ia ingin menggunakan hak pilihnya secara bijak, agar tercipta program yang bijak pula. Apa yang diharapkan pun berhasil, Mawar sebagai pilihanya berhasil menang. Pelan-pelan GS mengenali riwayat hidup Mawar.

Setelah berhasil, GS pun menggunakan hak coblosnya. Tapi bukan hak coblos di bilik pemilihan, GS nyoblos di atas kasur, dan sebagai media coblos adalah Mawar. Bahkan GS ‘nyoblos’ sampe tujuh kali, sampe-sampe Mawar dilarang pulang selama tiga hari.

Keruan saja, katidak pulangan ini membuat keluarga Mawar kelimpungan. Setelah dicari ke sejumlah bilik suara (baca:kampung), Mawar pun ditemukan dan dicecar sejumlah pertanyaan. Dari sana barulah diketahui kalau GS sudah melakukan hak pilihnya terhadap Mawar.

Kasus ‘coblos-menyoblos’ ini pun langsung dilaporkan ke Polres Siantar. Ya sudah, GS pun resmi menjadi buronan polisi. Disebut Kapolres Siantar AKBP Slamet Loesino, GS akan dijerat pasal 81 subs 82 UU RI nomor 23 tahun 2002, tentang perlindungan anak dengan ancaman minimal 3 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara.

Ini akibat nyoblos secara tidak resmi. (ts-05)