Menko Rizal Kritisi Program Pertamina Bangun Storage

396

tobasatu, Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli mengkritisi rencana pemerintah yang merencanakan pembangunan kilang dan penampungan bahan bakar minyak (BBM) atau storage.

Proyek yang akan dibangun oleh Kementerian ESDM dan PT Pertamina itu dianggapnya bukan rencana yang tepat untuk kondisi Indonesia saat ini.

“Untuk inefisiensi listrik dan energi Pertamina, kemarin kami laporkan ada rapat bersama Presiden (bahwa) ada keinginan Pertamina membangun storage, ini supaya stok (BBM) naik dari 18 hari ke 30 hari. Tapi ini bukan prioritas,” kata Rizal saat rapat Badan Anggaran (Banggar) di DPR RI, Jakarta, Rabu (9/9/2015).

Rizal menganggap pembangunan proyek ini tidak diperlukan, karena dalam pembangunannya dipastikan membutuhkan biaya yang sangat besar, yaitu senilai US$2,4 miliar.

Menurutnya, pembangunan storage ini bukan sebagai kebutuhan yang mendesak untuk saat ini. Meskipun, dalam memasok BBM, Indonesia masih mengandalkan impor, hal itu masih dianggap nilai yang kecil.

“Karena mereka (Pertamina) impor masih hanya 500 ribu barel perhari untukĀ  minyak mentah dan 500 ribu barel per hari untuk BBM, jadi untuk apa bikin storage,” katanya.

Seperti diketahui, rencana pembangunan storage dimaksudkan untuk penampungan BBM jangka panjang. Selain itu, Indonesia juga saat ini tidak mempunyai cadangan BBM sedikitpun.

Indonesia saat ini hanya memiliki cadangan operasional BBM di tiap SPBU dan tangki BBM yang sangat minim, yakni hanya cukup sampai 18 hari saja.

Dengan adanya hal ini, menggambarkan Ketahanan energi di Indonesia terbilang sangat rentan. Karena jika dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang punya cadangan BBM hingga 6 bulan.

Nantinya pembangunan storage ini diperuntukan untuk kebutuhan mendesak seperti terjadinya perang atau bencana alam. (ts-04)

Loading...
loading...