Pasca Idul Adha, Harga Daging Sapi Masih Mahal

432
Ilustrasi daging sapi (ist)

tobasatu.com, Medan | Pasca Idul Adha ternyata harga daging sapi di pasaran belum kunjung turun. Padahal seperti tahun sebelumnya harga daging sapi akan mengalami penurunan disebabkan datangnya Idul Adha. Namun untuk tahun ini harga daging sapi mengalami lonjakan sehingga menjadi sorotan tersendiri dari Asosiasi Peternak Sapi dan Lembu di Sumatera Utara.

Seperti yang dikatakan Ketua Asosiasi Peternak Sapi dan Lembu, Yasir, melambungnya harga daging sapi dan lembu di pasaran diperkirakan sudah berlangsung sejak dua bulan lalu. Dan ini bukanlah hanya disebabkan karena memasuki hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

“Sebenarnya, ini adalah tanggung jawab pemerintah. Apa kerja mereka, pasti dasarnya itu. Melambungnya harga ini malah sudah terjadi sejak bulan Ramadhan lalu. Sementara di tahun-tahun sebelumnya harga daging akan naik jika menjelang hari raya saja,” ujar Yasir, Minggu (4/10/2015) di Medan.

Dia menjelaskan, harga daging sapi dan lembu yang tak kunjung turun adalah disebabkan berbagai faktor, diantaranya karena anjloknya kurs rupiah terhadap US dolar, yakni dilevel Rp 14.709/USD. Kemudian, ketersediaan daging sapi dan lembu di pasaran yang juga sangat minim.

“Faktor inikan pasti berdampak. Nah, sekarang kalau komentar pemerintah sendiri pasti akan mengatakan ternak mencukupi tetapi hitungan itu berdasarkan dari peternak bukan stok yang ada di pemerintah. Boleh cek di rumah potong hewan,” tegasnya.

Jika ditelaah, lanjut dia, yang berlaku pasti hukum ekonomi, kurs rupiah anjlok, ketersediaan barang sedikit, otomatis harga pasti akan melambung. “Nah, ini dikhawatirkan akan menjadi kisruh,” ucapnya.

Adapun, harga daging sapi dan lembu di pasaran berkisar Rp100 ribu-Rp120 ribu per kilogram (kg). Sedangkan harga pengumpul ke pedagang berkisar Rp 80 ribu per kg. “Tapi, harga ini tergantung antara perusahaan, pengumpul dan pedagang,” katanya.

BACA JUGA  Panitia Kurban di Sumut Juga Gunakan ‘Besek’ Sebagai Pengganti Kantong Plastik

Dia mengungkapkan, telah berupaya melakukan audiensi ke Dinas Peternakan Sumut dalam membicarakan persoalan harga daging ini. Namun, hingga saat ini belum juga mendapatkan titik temu yang memuaskan.

“Saya harap pemerintah dapat memikirkan hal ini, jangan malah melakukan pengalihan isu dengan menyoroti harga ayam dan telur yang juga sedang melambung tinggi. Jangan sampai, masalah ini menjadi keluhan baru bagi masyarakat, apalagi saat ini untuk makan saja sudah susah,” tukasnya.

Sementara ekonom Sumut M.Ishak mengatakan bahwa kenaikan ini banyak faktor pendukung. “Pemerintah seharusnya lebih peka dalam menyelesaikan harga daging maupun pangan lainnya, isu politik terkadang dapat memicu terganggunya harga pasar,”ujarnya.

Selain itu, Ishak juga meminta agar pemerintah bukan sekedar sidak ditiap pasar namun harus ikut memantau harga pangan terutama daging agar tidak terjadinya spekulan.

“Banyak sekarang pengusaha yang selalu mencari keuntungan saat asa kisruh politik ditambah kurs dollar yang melemah, dan disinilah seharusnya pemerintah sigap untuk menghidari para pelaku usaha yang melakukan kecurangan. Dam akhirnya berdampak pada konsumen,”pungkasnya. (ts-mnl)

Loading...
loading...