Pasar Keuangan Terpuruk, Rupiah Kembali Melemah

438

tobasatu, Medan | Terpuruknya kinerja pasar keuangan, Kamis (29/10/2015) berimbas pada nilai tukar Rupiah yang melemah ke level 13.609 atau 0.96%. Bila dibandingkan penutupan sehari sebelumnya, Rupiah berada di level 13.480.

Selain itu, IHSG juga terpuruk 2.97% atau turun 136,719 poin di level 4.472,021.

Menurut Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin, pelemahan pasar keuangan saat ini merupakan konfigurasi antara sentimen internal dan eksternal.

Dari sentiment internal, masalah pembahasan APBN yang berlarut-larut dan belum mencpai kata sepakat tersebut menjadi sentiment negatif bagi pasar keuangan.

“Jika terus berlarut maka potensi tekanan ke pasar keuangan kita akan semakin besar. Terlebih jika sentiment eksternal juga menekan kinerja pasar keuangan kita. Secara keseluruhan saya melihat sentiment yang menekan pasar keuangan kita lebih banyak didominasi oleh perkembangan hasil rapat FOMC yang sejauh ini memungkinkan kenaikan suku bunga acuan di Desember mendatang,” bilang Gunawan dalam siaran persnya, Kamis sore.

Sambungnya, hasil rapat FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dilevel rendahnya saat ini (0 – 0,25 persen). Kebijakan ini dilandasi sejumlah perkembangan penting dalam ekonomi AS yang tumbuh moderat. Belanja konsumen dan investasi AS dinilai bertumbuh pesat. Kenaikan serapan tenaga kerja melambat dan tingkat pengangguran cenderung stabil. Laju inflasi masih dibawah target jangka panjang The Fed, seiring turunnya harga energi dan produk impor non energi.

The Fed menyatakan akan terus memonitor perkembangan indikator makro utama seperti pasar tenaga kerja, laju inflasi, ekspektasi inflasi, serta perkembangan sektor keuangan dan ekonomi global. “Dalam pernyataan resminya, The Fed tidak lagi menyebutkan kekhawatiran akan risiko ekonomi dan keuangan global yang berdampak negatif pada ekonomi AS,” tambahnya.

BACA JUGA  Rupiah Makin Melemah, Ditutup Rp14.266/USD

Hal ini yang membuka keyakinan dan spekulasi dikalangan pelaku pasar bahwa normalisasi kebijakan moneter AS berupa kenaikan bunga acuan, akan terjadi setidaknya di bulan Desember mendatang.

Sementara itu, publikasi terbaru data ekonomi datang dari Jepang. Penjualan retail Jepang menurun 0,2 persen YoY di bulan September, atau jauh di bawah median konsensus yaitu naik 0,4 persen. Penurunan ini disebabkan melemahnya penjualan BBM, peralatan mesin dan produk otomotif. Dibandingkan bulan sebelumnya, penjualan retail September masih mencatat kenaikan 0,7 persen.

“Sejauh ini, perkembangan yang mengejutkan dan di bawah target Bank Sentral AS atau The FED membuat spekulasi kenaikan suku bunga acuan The FED berpeluang berubah. Artinya kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The FED Desember nanti bukan harga mati,” pungkasnya. (ts-04)

Loading...
loading...