Pembangunan 6 Desa di Karo Tertinggal, Infrastruktur Memprihatinkan

742
Ilustrasi infrastruktur yang memprihatinkan. (tobasatu.com/ist)

tobasatu.com, Medan | Enam desa di Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Karo lama tidak tersentuh pembangunan. Banyak infrastruktur, drainase dan saluran irigasi yang tidak berfungsi membuat warga kesulitan untuk melakukan aktifitas sehari-hari.

“Kondisi infrastruktur yang memprihatinkan ini membuat petani kesulitan mengangkut perlengkapan untuk pertanian maupun hasil komoditasnya. Bahkan ada lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi kolam ternak,” tutur Anggota DPRD Sumut Astrayuda Bangun, terkait hasil resesnya di Daerah Pemilihan (Dapil) XI meliputi Kabupaten Karo, Dairi dan Pakpak Bharat, Rabu (30/12/2015).

Menurut Politisi Partai Gerindra tersebut, ke enam desa yang tertinggal tersebut diantaranya Desa Talim Baru 1, Semangat, Sinaman, Talim Baru 2, Rumamis dan Tambunan.

Dikatakan Astrayuda, dari ke enam desa tersebut, kondisi infrastruktur yang paling memprihatinkan adalah Desa Talim Baru 1. Warga kesulitan untuk mengangkut perlengkapan untuk pertanian maupun hasil komoditi. Karena jalan di desa ini sudah tidak bisa lagi dilalui kendaraan, baik roda 2 ataupun 4.

“Bahkan kabarnya dulu kereta lembu bisa melintasi jalan ini namun sekarang sudah tidak bisa,” kata Astrayuda. Hal ini ditengarai karena Desa Talim Baru 1 letaknya yang berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Simalungun. Sehingga aparatur Pemkab Karo jarang turun ke lokasi untuk meninjau kondisi infrastruktur.

“Padahal masyarakat sudah berulangkali mengadu ke Pemkab Karo, namun belum juga terealisasi,” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, warga di Talim Barus 1 yang sebagian besar bermatapencaharian petani juga mengeluhkan lahan yang sudah beralih fungsi dari lahan pertanian menjadi kolam ternak.

“Seharusnya lahan seluas 500 hektar yang berada di enam desa ini jangan dialihfungsikan karena Kecamatan Barus Jahe merupakan daerah penghasil jeruk di Karo,” tegasnya.

BACA JUGA  Pemerintah Jangan Anaktirikan Korban Erupsi Sinabung

Karena itu, kata Astrayuda, Pemkab Karo atau jika memungkinkan Badan Ketahanan Pangan dari Sumut membantu untuk membuat akses jalan agar masyarakat bisa maksimal bekerja mengurus lahan pertanian mereka.

“Di daerah ini sumber airnya cukup besar karena ada sungai. Namun karena tidak ada sentuhan pembangunan dan pembenahan, sehingga air sungai ini tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal,” terangnya.

Tidak hanya itu, Desa Dokan, Kecamatan Merek juga memiliki nilai pariwisata yang potensial. Di daerah ini masih ada rumah adat Karo yang berusia lebih dari 200 tahun yang tidak ada perawatan dari Pemkab Karo.

Padahal, lanjut Astrayuda, jika rumah adat ini direnovasi atau diperbaiki maka akan menjadi daya tarik untuk tujuan wisata. Namun fasilitas di desa itu tidak memadai.

“Ada 4 rumah adat di kawasan ini. 3 rumah sudah direnovasi dan satu lagi belum. Selain itu, tidak ada lampu jalan menuju ke lokasi. Sehingga wisatawan enggan untuk mengunjungi rumah adat itu dikarenakan gelap. Saat ini ada delapan kepala keluarga yang tinggal di rumah itu,” jelasnya.

Karena itu, tambahnya, dimintakan kepada Pemkab Karo melalui dinas Pariwisata agar memperhatikannya.

“Kalau dari Kabanjahe jarak tempuhnya sekira 15 sampai 20 kilometer menuju lokasi rumah adat itu,” ujarnya. (ts-02)

 

Loading...
loading...