Kondisi Bocah Korban Kekerasan di Medan Labuhan Berangsur Pulih

363
MD bocah korban kekerasan yang dilakukan orangtuanya, kondisinya berangsur membaik. Pemprovsu akan mencarikan tempat pembangunan baru bagi MD, pasca keluar dari RS Bhayangkara Medan. (tobasatu.com)

tobasatu.com, Medan | Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menanggulangi biaya perobatan MD (8) bocah korban kekerasan yang mengalami 25 persen luka bakar di tubuhnya akibat dianiaya orangtua angkatnya.

(Baca Sebelumnya : Disiksa Orangtua Angkat, Bocah 8 Tahun Kritis di RS Bhayangkara)

Selain menanggulangi biaya perawatan MD, Pemprovsu juga akan mencarikan tempat penampungan bagi bocah warga Jalan Sidomulyo Dusung 4 Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang itu, pasca keluar dari RS Bhayangkara Medan.

Ketika Kepala Biro PP Anak dan KB Provsu, Nurlela bersama Ketua KPAID Sumut, Zahrin Piliang menjenguknya di RS Bhayangkara, Sabtu (24/9) MD terlihat kondisi MD sudah semakin membaik. Bahkan, sudah terlihat bermain boneka dan makan dengan lahap. Meski ketika akan duduk ataupun bergeser dari tempat tidur, punggungnya masih terasa sakit akibat luka bakar siraman air panas yang dideranya.

“Aduh sakit,” ujarnya merintih. Namun, meski sakit MD terlihat semangat dan lahap makan.

Suster RS Bhayangkara yang ditemui sedang merawat MD, Mika bersama pengawas RS Aipda Ani Ariani mengatakan dari hasil diagnosis dokter MD mengalami luka bakar di seluruh badannya sebesar 25 persen. Luka bakar yang dialaminya juga berada pada daerah vital yakni punggung dan selangkangan. “Makanya MD jadi kesulitan untuk duduk dan mengenakan pakaian,” ujar Mika.

Selain mengalami luka bakar, MD juga didiagnosis mengalami anemia juga mengalami hypo alubumen yakni kekurangan cairan di tubuh.

“Selain itu kami juga menemukan bekas-bekas luka lama di seluruh badannya, juga luka bekas sayatan pisau. Di kakinya juga kami temukan seperti bekas ikatan dan ketika masuk ke RS mata sebelah kanannya memar karena dipukul pakai kayu,” jelas Mika.

Tak hanya itu, lanjut Mika tangan sebelah kiri MD juga didiagnosis patah dan kedua kakinya bengkok atau tidak bisa lurus. Sejak sepekan berada di RS Bhayangkara yakni Sabtu (17/9), MD sudah menerima perawatan mulai dari pemberian transfusi darah, juga perawatan untuk luka bakar.

“Awal masuk ke sini HB nya hanya 4, sekarang sudah normal HB nya 11. Untuk luka bakarnya awalnya dokter meminta agar dilakukan pengikisan (debridamen), namun ketika kami rawat dengan salep, saat ini luka bakarnya sudah berangsur-angsur membaik, sehingga tidak lagi kami lakukan tindakan pengikisan,” terang Mika.

Kondisi MD yang sudah berangsur membaik tak jauh beda dengan HL (28), yang juga merupakan korban penganiayaan yang dilakukan keluarga Yasmin Laia (38). Namun, di sekujur tubuh HL juga terlihat banyak bekas luka akibat dipukul dan dihantam pakai benda keras.

Penganiayaan yang dilakukan terhadap dirinya dikatakan HL hanyalah disebabkan hal-hal yang sepele seperti tidak bersih mencuci piring, tidak mencuci baju atau hal lainnya.

Kepala Biro PP, Anak dan KB Sumut, Nurlela mengatakan dirinya sangat prihatin terhadap kondisi MD dan HL, oleh karena itulah pihaknya akan berupaya sekuat tenaga untuk mencari solusi kepada kedua korban.

“Setelah kita menjenguk korban maka untuk biaya perawatannya dan penanganannya pasca keluar dari RS akan kita upayakan untuk tangani bersama. Hari Senin (26/5), kami akan melakukan rapat antar instansi terkait untuk mencari solusi untuk korban,” ujar Nurlela.

Ketua KPAID Sumut, Zahrin Piliang mengapresiasi respon yang dilakukan Kepala Biro PP, Anak dan KB Provsu, diharapkannya dengan hal ini menunjukkan ke depan usaha untuk mengatasi persoalan anak bisa ditingkatkan. (ts-02)

Loading...
loading...