Menilik Peran Bank Sumut dalam Pertumbuhan UMKM di Sumatera Utara

930
Pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang digelar PT Bank Sumut beberapa waktu lalu. (tobasatu.com/T Bobby Lesmana).

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan suatu potensi yang sangat besar di Indonesia. UMKM merupakan instrument yang selalu digadang-gadangkan oleh setiap oknum atau institusi yang dialunkan pada periode kampanye.

Sejarah ekonomi di negeri ini telah membuktikan bahwa UMKM mampu bertahan dan survive pada saat krisis ekonomi dan moneter berulang kali menerpa negeri ini. Sayangnya pemerintah dan dunia perbankan enggan secara sungguh-sungguh membantu dan menjaga agar UMKM ini semakin besar dan berjaya.

Data yang dilansir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5, awal tahun 2016 tercatat bahwa serapan kredit usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM di Sumatera Utara pada tahun 2015 sudah mencapai 28,82 persen dari total kredit perbankan daerah itu atau Rp51,67 triliun. Serapan yang semakin besar itu dipicu terus naiknya kredit UMKM dari perbankan. Kredit UMKM tahun 2015 itu misalnya naik Rp5,9 triliun dari 2014.

Pelaku UMKM di Sumut berharap agar PT Bank Sumut dapat menjadi mitra bagi tumbuh kembang UMKM di daerah ini. (tobasatu.com)
Pelaku UMKM di Sumut berharap agar PT Bank Sumut dapat menjadi mitra bagi tumbuh kembang UMKM di daerah ini. (tobasatu.com/T Bobby Lesmana)

Bahwa dari total penyaluran kredit UMKM, sebagian besar atau 71,99 persen disalurkan empat bank umum yakni BRI, BTPN, Mandiri, Mestika Dharma dan satu bank daerah yaitu Bank Sumut.

Peraturan Bank Indonesia No.14 tahun 2012 telah mewajibkan bank umum menyalurkan kredit UMKM minimal 5 persen di tahun 2015, 10 persen 2016, kemudian 15 persen di tahun 2017 dan minimal 20 persen di tahun 2018.

Aturan itu menunjukkan kepedulian dan keseriusan pemerintah atas UMKM yang memang diakui sudah terbukti memberikan andil besar dalam pergerakan ekonomi Indonesia. Bahkan UMKM memberikan kontribusi yang cukup besar pada ketahanan perekonomian sehingga tidak terlalu anjlok saat terjadi krisis moneter dan global.

Wakil Ketua Umum bidang UMKM, Koperasi dan Industri Kreatif Kadin Sumut, Ichsan Taufiq dalam suatu pertemuan di Medan menyebutkan mulai tahun 2015, sektor UMKM di Sumut semakin mengalami persaingan ketat dengan masuknya era Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA. Untuk itu, semakin diperlukan dukungan kuat, termasuk pendanaan murah dari pemerintah.

Peran Bank Sumut dalam pertumbuhan UMKM juga semakin diharapkan pasca pemberlakuan Masyarakat Ekonomo Asean (MEA). (tobasatu/com/T Bobby Lesmana).
Peran Bank Sumut dalam pertumbuhan UMKM juga semakin diharapkan pasca pemberlakuan Masyarakat Ekonomo Asean (MEA). (tobasatu/com/T Bobby Lesmana).

Lantas bagaimana pelaku UMKM di Kota Medan melihat peran Bank Sumut dalam tumbuh kembang Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) di daerah ini?.

Dhian seorang praktisi usaha makanan ringan di Medan menyatakan bahwa saat ini perbankan banyak membantu dalam permodalan usaha, bahkan secara berkala pihak bank seperti Bank Sumut selalu memberikan pelatihan kepada para nasabahnya, semisal pelatihan keuangan, pengemasan makanan dan sister pemasaran yang baik.

Bahkan pihak perbankan juga selalu memberikan kesempatan kepada para mitranya untuk mengikuti bazar dan promosi usaha di event-event mereka, termasuk juga bekerjasama dengan pihak pemerintah seperti Dinas Koperasi Sumut dan Medan juga Dinas Perdagangan. Salah satu bantuan bank adalah turut membantu dalam pengurusan Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal.

Masalah yang acapkali ditemukan pada UMKM adalah persediaan bahan baku yang kadang sulit diperoleh karena berdasarkan panen ikan. Sementara untuk daya beli masyarakat yang sekarang cenderung menurun mengingat naiknya bahan baku dipasaran sehingga fluktuasi harga tidak bisa diprediksi

Menurut Dhian sendiri UMKM saat ini masih kuat. UMKM sekarang banyak yang berkembang dan  berinovasi dengan bahan baku yang tersedia dan lebih kreatif. UMKM  sekarang juga banyak membantu pemerintah di dalam pendapatan daerah serta mengurangi pengangguran di Indonesia karena pada saat ini generasi yang diusia produktif tidak lagi memikirkan untuk menjadi pekerja tetapi sudah mempunyai pemikiran dan kemampuan untuk berwirausaha.

BACA JUGA  Meriahkan HUT ke-55, Bank Sumut Gelar Beragam Kegiatan

Efrizal Adil SE. MA selaku akademisi di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan juga menangani Unit Kegiatan Mahasiswa Usaha Kecil dan Menengah Center yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto melihat saat ini bantuan bank terhadap UMKM masih terbatas, juga ketidakyakinan  perbankan sendiri terhadap para pengusaha mikro. Jikapun ada bantuan terhadap mereka (UMKM—red), nilainya sangat kecil dan terbatas sehingga kemampuan usaha mikro tersebut menurut mantan aktifis dan penggiat lingkungan hidup ini, untuk meningkat juga susah.

Padahal di beberapa universitas wirausaha sudah masuk dalam kurikulum, jadi sebenarnya tinggal menggandeng bank untuk skema usaha dan prosedur pinjaman terhadap UKM tersebut.

Sedangkan terhadap usaha mitra binaan bank yang tidak sehat dan menimbulkan masalah dikemudian hari, Efrizal mengatakan bahwa perbankan perlu melakukan dialog dan evaluasi sehingga timbul solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, apakah keputusan terhadap produk dilanjutkan atau mengalihkan usaha dan produk sehingga tidak ketinggalan di pasar.

Peningkatan terhadap pengetahuan produk, keterampilan dan Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan perlu dilakukan melalui pelatihan dan capacity building dalam menghadapi persaingan bisnis terkait berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Berbeda dengan perusahaan besar, UMKM lebih lincah dalam bermanouver seperti menurunkan value produk saat terjadinya pelemahan daya beli dan meningkatnya biaya produksi akhir-akhir ini. Disinilah UMKM unggul selangkah ketimbang perusahaan besar.

Setali tiga uang dengan penuturan Efrizal dan Dhian, Okriananda seorang pebisnis kuliner di kawasan tengah kota Medan menuturkan bahwa peningkatan kapasitas karyawan sesuai bidang keahliannya perlu ditingkatkan dalam menghadapi MEA ini.

Salah satu nasabah Bank Sumut ini menuturkan bahwa pasang surut pelanggan dalam mengelola usaha bukan hanya dari pelanggan semata, bisa jadi karena krisis ekonomi, stabilitas keamanan juga berperan, sehingga moralitas orang berkurang semisal takut keluar malam karena perampokan (begal-red).

Okri juga mengamini bahwa peran perbankan sudah bagus saat ini, tetapi masuh dirasa kurang pada satu sisi, misalnya edukasi perbankan terhadap mitranya masih dirasa rendah, seharusnya perbankan lebih dapat mendevelop mitranya.

“Sehingga peran perbankan terhadap peningkatan pangsa pasar produk UMKM masih belum berdampak,”  tutur pria ramah ini disela-sela ramainya pengunjung menikmati suasana malam di tempat usaha yang sudah dirintisnya lebih dari dua tahun ini. Untuk menjalin hubungan baik dengan pihak bank Okri menjelaskan bahwa jangan sampai terjadi kredit macet.

Anomali cuaca, menurut seorang pebisnis kedai kopi di kawasan Medan Baru, juga merupakan sesuatu yang tidak dipikirkan oleh orang awam tetapi sudah dirasakan oleh pengusaha UMKM. Perubahan iklim secara global juga mempengaruhi kunjungan konsumen dan pasokan bahan baku termasuk mutu dan harganya.

Mensiasati fluktuasi harga bahan baku tersebut pria tinggi berkacamata ini melakukan range harga yang fluktuatif sehingga kerugian bisa diminimalisir. Senada dengan para pengusaha UMKM yang sudah disebutkan diatas, Denny juga menegaskan bahwa SDM dan mutu produk barang yang dijual harus ditingkatkan dalam menghadapi pasar bebas dan Masyarakat Ekonomi Asean.

Dia juga mengatakan bahwa bank perlu lebih meningkatkan kemudahan syarat bagi UMKM dalam akses kredit untuk usaha. Pria yang sudah hampir 5 tahun menekuni usaha kedai kopi ini yakin UMKM bisa survive terhadap kondisi perekonomian saat ini. Niat baik dari UMKM untuk meningkatkan usaha pasti ada pada semua pengusaha, tetapi terhalang dengan birokrasi perbankan yang ada ujar pria yang cafenya sudah dikenal oleh penggila kopi level dunia.

BACA JUGA  Terkait Isu Write Off, OJK akan Tegur Bank Sumut

Kendati perbankan ditargetkan menyalurkan kredit sebesar sepuluh persen oleh Bank Indonesia seperti yang disebutkan di atas, kenyataannya petugas bank cenderung mengabaikan ketentuan yang disyaratkan, penyeleksian calon debitur kurang mendalam, track record si peminjam termasuk penilaian asset kurang tajam, selanjutnya secara umum kekurangan UMKM adalah faktor permodalan.

Sementara Sulianti, seorang mantan direktur Bank Perkreditan Rakyat yang juga dosen di sebuah perguruan tinggi yang terletak di kawasan Padangbulan Medan, menyebutka perlu tenaga ekstra dan waktu oleh perbankan untuk membangun UMKM yang handal. Sebab menurutnya pada hakikatnya ada benang merah antara UMKM dengan UMKM lainnya. Chain Value atau lazim disebut dengan rantai nilai terjalin kuat sesama UMKM.

“Satu UMKM  gulung tikar dapat mempengaruhi UMKM yang lain, juga sebaliknya,” ujar alumni Fakutas Ekonomi USU ini. Bank perlu menjaga dan membina mitra UMKMnya sehingga berdampak terhadap penguatan UMKM lainnya.

Senada dengan dua akademisi sebelumnya, Drs. Raja Bongsu Hutagalung MSi yang juga mantan Rektor III USU berpendapat bahwa persyaratan dan kriteria perbankan terhadap UKM sebaiknya tidak berat. Selain itu pemerintah harus betul-betul turun andil dalam melindungi UKM dalam era MEA ini, dimana pelatihan dan penguatan terhadap UKM saat ini masih jauh dari harapan. Kreatitivas dan daya saing UKM menurutnya harus benar-benar ditangani secara serius.

Menanggapi dituntutnya UMKM harus kreatif Fachriz Tanjung sebagai Sekretaris Forda UKM Sumut dan pelaku usaha biji kopi mengatakan bahwa hal tersebut merupakan suatu keharusan di era serba digital ini.

Pengusaha memang dituntut untuk bisa menciptakan produk-produk yang terbarukan dan inovatif lanjutnya lagi.  Pasar sekarang cukup majemuk dan industri kreatif merupakan entitas bisnis yang patut untuk dijajaki karena faktanya industri kreatif Indonesia telah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional ujah pengusaha yang ramah ini. Diakui bahwa Bank Sumut sebagai agen pembangunan di daerah mempunyai peran dalam pertumbuhan UMKM.

Fachriz melanjutkan lagi bahwa kendala utama para UMKM adalah akses pasar, begitu banyak saat ini produk UMKM yang mencoba menjajaki pasar namun terbendung oleh kapasitas dan kualitas, itu dari sisi internal.

Sementara untuk eksternal Fachriz menyebutkan banyaknya gangguan dari luar seperti keamanan. Ia menambahkan bahwa hambatan terbesar bagi UMKM adalah pungli baik dari hulu hingga ke hilir, telah menjadi cost yang terbesar dalam proses produksi dan distribusi industry UMKM.

Fachriz menilai bahwa peran perbankan terlihat cukup dalam meningkatkan UMKM. Saat ini perbankan tidak hanya menjual produk kredit dengan bunga ringan, tapi telah turut mengintervensi secara teknis dan non-teknis industry UKM seperti yang dituturkan Dhian sebelumnya. From Zero to Hero, perbankan tidak terlepas dari banyak kisah sukses itu  ujar nya dengan penuh semangat. (T. Bobby Lesmana)

*Tulisan ini akan diikutsertakan dalam lomba karya tulis ‘Bank Sumut Journalism Award’ yang digelar PT Bank Sumut.

Loading...
loading...