Disulut Rasa Cemburu Kepada Istri, Ayah Tega Bunuh Anaknya Sendiri

3210
Tersangka (baju orange) pembunuh anak kandung saat di Polres Humbahas. (tobasatu.com)

tobasatu.com, Humbahas | Nyawa Aldi Sibarani (10), warga Desa Aeklung, Kecamatan Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan (Humbahas) berakhir di tangan ayah kandungnya Mangasa Sibarani. Motifnya pun hanya karena tersangka cemburu kepada istrinya yang dituding telah berselingkuh.

Peristiwa pembunuhan itu diketahui, Jumat (18/2/2017) kemarin. Pihak kepolisian Polres Humbahas yang bergerak cepat berhasil meringkus Mangasa Sibarani, Selasa (21/2/2017) malam dari kediamannya.

Berdasarkan keterangan Kapolres Humbahas, AKBP Nicholas Lilipaly, Rabu (22/2) dua tahun belakangan ini memang hubungan Mangasa dengan istrinya tidak harmonis. Dimana Mangasa menetap di kampung halaman bekerja sebagai sopir angkot dan sang istri bekerja di Medan sebagai penjahit bersama anak bungsu dan anak sulungnya.

Seminggu sebelum terjadinya pembunuhan itu, istri pelaku sempat kembali ke kampung halaman. Sedangkan anak bungsunya bernama Andre Sibarani (4) sudah bersama Mangasa sejak dua bulan belakangan lantaran hendak masuk Taman Kanak-kanak (TK).

Beberapa saat di kampung, istri tersangka berpamitan untuk kembali ke Medan guna mengambil barang-barangnya sekaligus menjemput anak sulung mereka. Saat itu korban pun mengantarkan ibunya ke loket bus. Namun setelah korban kembali ke rumah, tersangka bertanya kepada korban ibunya diantar kemana, saat itu korban mengaku jika ia mengantar ibunya ke samping Polsek Dolok Sanggul yang nota bene bukan loket bus.

Jawaban itu lantas membuat Mangasa curiga. Ia berpikir kalau istrinya sudah berselingkuh. Bagitupun pikiran itu ia pendam dalam-dalam. Sore harinya, korban diminta untuk membeli rokok oleh korban, namun beberapa saat ditunggu korban tidak datang juga. Dugaan korban bermain-main bersama teman sebayanya.

Kesal dengan itu, tersangka bersama anak bungsungnya pun menjemput korban ke warung. Hanya saja saat itu tersangka tidak menemukan anaknya, sementara pemilik warung mengaku jika korban telah pulang dan membawa rokok yang dibeli. Ia kembali mencari ke tempat lain mengendarai angkotnya.

Berjarak 500 meter dari kediaman mereka, korban yang bersembunyi lantaran takut kena marah keluar dan tersenggol angkot ayahnya itu. Mengetahui itu, tersangka turun dan memarahi anaknya. Emosi tersangka semakin memuncak ketika mengingat kalau istrinya sudah berselingkuh.

Mangasa memukul kepala dan mencekik leher korban hingga beberapa kali hingga korban tersungkur dan duduk tersandar ke bagian belakang angkot. Belum puas, pelaku lalu membenturkan kepala korban ke bagian bamper mobil yang terbuat dari besi, tak sampai di situ, pelaku masih terus menendangi bagian perut korban.

Usai menendang perut korban beberapa kali, pelaku lalu tersadar dan buru-buru membawa korban ke Pos Kesdes, sekira 300 meter dari lokasi. Sampai di Pos Kesdes, pelaku lalu memutar angkotnya dan berniat menurunkan korban. Namun saat masih di dalam angkot, ia memegang nadi korban dan tidak merasakan denyut nadinya lagi. Curiga jika anaknya sudah meninggal, Mangasa lalu membakar rokok yang dibeli anaknya dan menyulut api rokok itu ke tangan kanan dan kiri korban.

Saat itu, korban tak lagi bereaksi, yakin jika anaknya sudah meninggal, ia panik kemudian menggendong korban di depan sementara anak bungsunya digendong di belakang. Pelaku lalu membawa korban ke semak-semak dan menyembunyikan korban di semak sekira 200 meter dari pemukiman warga.

“Jadi tersangka ini cemburu kepada istrinya dan emosi, ditambah lagi anaknya lama pulang saat disuruh beli rokok, akhirnya dia lepas kendali dan menganiaya anaknya hingga anaknya meninggal,” sebut Nicholas Lilipaly.

Hal itu juga diakui oleh pelaku saat diwawancarai kru media ini. Menurutnya, selama ini ia memang curiga jika istrinya selingkuh, emosinya kian memuncak saat anaknya yang lama pulang ketika disuruh membeli rokok. Meski begitu, ia mengaku menyesal karena telah membunuh anaknya.

Terkait dengan kondisi tubuh korban yang masih segar saat ditemukan 6 hari kemudian, Kapolres menyebut jika keterangan sementara dari dokter forensik bahwa korban dinyatakan meninggal 6 hari sebelum ditemukan, sesuai dengan keterangan Mangasa. Namun karena kondisi jasad korban tidak menyentuh tanah, maka jasad korban tidak hancur.

“Berdasarkan keterangan sementara dari dokter forensik, bahwa korban diduga meninggal pada hari Minggu malam. Namun kalau untuk resminya, mungkin kira-kira dua minggu lagi hasil otopsi keluar dari RS Bhayangkara Medan.  Kita belum menemukan kejanggalan terkait dengan kejiwaan pelaku, meski begitu kita akan membawa pelaku ke psikolog untuk memastikan kejiwaan pelaku. Disangkakan melanggar pasal 338 dan 351 ayat 1 dengan ancaman 20 tahun penjara,” tandas kapolres. (ts-17)