Rumah Karya Indonesia Gelar Ritual Penusur Sira di Dokan Art Festival #3

1730
Rumah Karya Indonesia akan menggelar Dokan Art Festival #3, yaing akan menghadiran ritual bernama “Penusur Sira” atau menurunkan garam, di Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, pada 11 Mei 2017 mendatang. (tobasatu.com).

tobasatu.com, Medan | Rumah Karya Indonesia akan menggelar Dokan Art Festival #3, yaing akan menghadiran ritual bernama “Penusur Sira” atau menurunkan garam.

Brevin Tarigan selaku Manajer Dokan Art Festival #3 , dalam keteranganya yang diperoleh tobasatu.com, Selasa (9/6/2017), menyatakan kegiatan itu akan digelar pada Kamis, 11 Mei 2017 saat matahari mulai terbit di Desa Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.

Dokan Arts Festival adalah sebuah pagelaran seni budaya dengan usaha menggali keraifan lokal Batak Karo dengan  disesuaikan dengan kondisi kekinian pada masyarakat secara umum.

Ritual Penusur Sira dalam keyakinan yang disebut ‘Pemena’ tersebut diyakini dapat menerawang hal baik dan buruk. Sira (Garam) yang ada di rumah adat Siwaluh Jabu diyakini masyarakat Dokan adalah jelmaan dari nini si br pakkar.

Menurut beberapa narasumber yang ada di Desa Dokan, sumber garam yang ada di Siwaluh Jabu tidak pernah habis walaupun telah dipakai berkali-kali khusus untuk aktivitas masyarakat setempat. Tradisi kuno tersebut saat ini seakan menjadi kenangan yang tersimpan rapi sebagai kearifan lokal Desa Dokan.

Namun pemilik sira yaitu Ginting Mergana beserta Anak Beru bersedia apabila ritual tersebut dilaksanakan dalam rangka penyelenggaraan Dokan Arts Festival #3. Meskipun konteks zaman kini sudah modern, ritual tetap dijalankan seperti cara pelaksanaan ritual akan tetap dijalankan sebagaimana mestinya.

Menurut Brevin, pihaknya mengharapkan kehadiran dari seluruh masyarakat, tanpa memandang ras dan status sosial agar menjadi saksi peradaban masyarakat Karo di Desa Dokan khususnya menyaksikan Ritual Penusur Sira.

“Beramai-ramai datang menyaksikan sebuah ritual yang bersifat sakral di suatu daerah tidak uasemestinya diartikan sebagai tontonan semata, sebab hal tersebut adalah warisan budaya yang patut diapresiasi oleh seluruh masyarakat. Selain itu, melalui ritual budaya generasi muda dapat mempelajari nilai-nilai tradisi yang memercikkan rasa cinta akan budaya tersebut sehingga suatu hari seluruh generasi muda dapat ‘menghadiahkannya’ kepada anak cucu sebagai peninggalan paling mahal,” ujarnya. (ts-02)