Siswa ‘Kelas Siluman’ Dikeluarkan, Oknum yang Terlibat Juga Harus Diberi Sanksi

505
Anggota DPRD Sumatera Utara HM Nezar Djoeli ST.(tobasatu.com/nida)

tobasatu.com, Medan | Anggota DPRD Sumut HM Nezar Djoeli mendesak agar Gubernur Sumut dan Ketua DPRD memberikan perhatian dan mengambil langkah tegas terhadap ‘wabah’ kelas siluman yang diduga melibatkan oknum kepala sekolah, oknum guru dan oknum Dinas Pendidikan Sumut (Disdiksu).

“Kita meminta Bapak Wagirin Armand dan Erry Nuradi segera mengambil langkah tegas terhadap oknum-oknum yang terlibat dalam kasus ‘Kelas Siluman’. Ini sudah menjadi wabah dan telah mempermalukan wajah Sumut,” tutur Nezar Djoeli dan Ari Wibowo, Minggu (17/9/2017).

Hal ini dikatakannya menanggapi keluarnya surat edaran tentang dikeluarkannya 77 orang siswa kelas 1 di SMA Negeri 13 Medan yang dituding masuk melalui jalur sisipan.

Nezar menjelaskan, Pemprovsu melalui Dinas Pendidikan bersama DPRD Sumut harusnya menyelesaikan masalah ini di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mencari solusi terbaik, agar para siswa yang sudah terlanjur masuk tanpa melalui jalur resmi bisa terakomodir dengan baik. Paling tidak, para siswa tersebut diterima kembali dan belajar di sekolah tersebut tanpa harus dikeluarkan.

“Jangan ujuk-ujuk main keluarkan saja. Ini akan menjadi beban moral bagi orang tua dan siswa. Kalau sudah seperti ini ceritanya, kami meminta oknum guru, kepala sekolah dan oknum pegawai di Disdik Sumut yang terlibat, juga harus dipecat dan diberikan sanksi pidana jika terbukti terlibat. Ini harus mereka terima, karena merekalah yang harus bertanggungjawab,” ketus keduanya.

Tidak hanya itu, Nezar dan Ari juga mendesak Inspektorat dan Ombudsman agar menginvestigasi lebih dalam lagi permasalahan ini. Bila perlu, seluruh SMA/SMK di Sumut diinvestigasi, apakah ada menerima siswa tanpa melalui jalur resmi.

“Kita juga mendesak Ombudsman dan Inspektorat untuk menginvestigasi seluruh SMA/SMK di Sumut, apakah ada siswa yang masuk tanpa melalui jalur resmi,” tandas keduanya.

BACA JUGA  Subsidi Dicabut, PLN Harus Berikan Pelayanan Terbaik kepada Pelanggan

Sebelumnya, puluhan orangtua siswa SMA Negeri 13 Medan di Jalan Kanal, Medan Johor, Jumat (15/9/2017) menggelar aksi protes ke sekolah. Protes ini mereka lancarkan, menyusul keluarnya surat edaran tentang dikeluarkannya 77 orang siswa kelas 1 yang dituding masuk lewat jalur siluman.

Sebagai bentuk kekecewaan, para orangtua siswa ini langsung melakukan sweeping ke ruang kepala sekolah untuk mempertanyakan kebijakan yang dianggap menyalah.

“Kami tidak terima anak-anak kami dipecat. Sudah berjalan 3 bulan anak kami sekolah” teriak para orangtua tersebut.

Aksi para orangtua ini mungkin tidaklah berlebihan, karena ini menyangkut mental anak mereka di masa depan.

“Ini bukan solusi, melainkan ekskusi. Jangan korbankan anak kami hanya karena kepentingan” sebut Ade, salahseorang orangtua siswa.

“Tuduhan pihak sekolah yang mengatakan anak kami masuk ke sekolah ini lewat jalur siluman tidak berdasar. Karena anak kami semua tercatat sebagai peserta PPDB online dan sudah tercatat dalam SK data pokok pendidikan” cetusnya. (ts-02)

Loading...
loading...