Dianiaya Guru, Siswa SMAN 1 Nisel Terpaksa Dioperasi

181
Jurdil Mendrova, siswa SMAN 1 Andraya, Kabupaten Nias Selatan terpaksa dioperasi, karena mengalami penganiayaan yang diduga dilakukan oleh gurunya. (tobasatu.com)

tobasatu.com, Medan | Kekerasan dalam dunia pendidikan masih terjadi di tanah air. Jurdil Mendrova (17), siswa SMAN 1 Andraya, Kabupaten Nias Selatan mengalaminya. Kekerasan diduga dilakukan oleh oknum gurunya, Nestor Halawan.

Akibat kekerasan yang dialaminya, jurdil mengalami penggumpalan darah, dan terpaksa menjalani operasi di RS Murni Teguh, Medan.

Informasi diperoleh tobasatu.com, Rabu (28/2/2018), kasus pemukulan yang terjadi pada 19 Agustus 2017 itu sudah dilaporkan ke Polres Nias Selatan dengan nomor laporan /148/XI/2017/SPK ‘C’/SU/Res-Nisel.

Surat Tanda Bukti Lapor ke Polres Nisel. Namun hingga kini pengaduan tersebut belum ditanggapi. (tobasatu.com)

Menurut abang korban, Firdaud Mendrofa (27), warga Desa Sifaoroasi, Kec. Amandraya, Kab. Nias Selatan, kasus penganiayaan itu terjadi pada Sabtu (19/8/2017) sekira pukul 12.00 wib. Saat kejadian, para guru sedang melayat karena orangtua salah seorang guru meninggal dunia. Sedangkan para siswa/i tinggal di sekolah dan sebagian bermain volly.

Namun sekira pukul 12.00 wib, salah seorang guru Nestor Halawa datang ke sekolah. Nestor langsung ke ruangan tata usaha dan mengambil mic untuk meminta para siswa/i masuk ke ruangan.

Setelah Jurdil masuk ke sekolah, Nestor bertanya kenapa lama kali masuk. Jurdil mengatakan tak ada mendengar permintaan agar masuk ke ruangan.

Saat korban menuju ruangan ia meludah dan dilihat Nestor. Merasa dilecehkan, Nestor kemudian memanggil korban dan langsung memukul kepala bagian belakangnya. Selain memukul kepala, wajah Jurdil juga ditampar. Saat itu, korban langsung pingsan.

Dengan keadaan pingsan, Jurdil dibawa teman-temannya ke puskesmas terdekat untuk menjalani perawatan. “Saya tak tahu kenapa guru itu nekad memukul adikku. Padahal ia meludah bukan untuk melecehkan gurunya,” ujar Firdaud Mendrofa.

Melihat kondisinya yang semakin lemah, keluarga kemudian membawa Jurdil ke RS Murni Teguh di Medan. Dari hasil pemeriksaan dokter, ada gumpalan darah dan harus dioperasi.

“Adikku terpaksa dioperasi karena ada gumpalan darah dan sering membuat ia pusing,” tambah Firdaud Mendrofa.

Firdaud Mendrofa menyesalkan Polres Nias Selatan yang dinilai tidak serius menangani kasus tersebut. “Sudah empat bulan kejadian, namun Polres Nias Selatan sepertinya tak serius menanganinya,” tambah Firdaud Mendrofa.

Menurut Firdaud, kasus tersebut diadukan ke polisi setelah tiga bulan karena tak adanya niat baik tersangka. “Kami mencoba bersabar hingga tiga bulan, namun niat baik tersangka tak ada,” terangnya seraya menambahkan biaya operasi adiknya sebesar Rp 20 juta.

Firdaud Mendrofa menerangkan, jika kasus ini tak ditangani, pihaknya akan mengadu ke Propam Polda Sumut.

Kasat Reskrim Polres Nias, AKP Antony Tarigan yang dikonfirmasi melalui telepon selular tak berhasil dihubungi. (ts-02)

Loading...
loading...