Siswa Dianiaya Oknum Guru, DPRDSU Desak Polda Sumut Turun Tangan

162
Siswa SMAN 1 Amandraya Kabupaten Nias Selatan yang dianiaya oknum gurunya. (tobasatu.com)

tobasatu.com, Medan | DPRD Provinsi Sumatera Utara meminta Polda Sumut turun tangan terkait kasus penganiayaan yang dilakukan oleh oknum guru di SMAN 1 Amandraya Kabupaten Nias Selatan berinisial NH, sebab hingga kini kasus tersebut belum diproses secara hukum.

Padahal, kasus itu sudah dilaporkan sebelumnya ke Polres Nias Selatan pada 3 November 2017 dengan nomor laporan 148/XI/2017/SPK ‘C’/SU/Res-Nisel.

“Kasus kekerasan yang dilakukan seorang guru tidak bisa ditolerir dan diabaikan begitu saja, tapi harus segera dituntaskan, demi tegaknya hukum di mata masyarakat,” tegas Ketua Komisi A DPRD Sumut HM Nezar Djoeli ST kepada wartawan, Kamis (8/3/2018) di Gedung Dewan.

Anggota Fraksi Partai Nasdem DPRD Sumut ini lebih lanjut menyatakan kasus kekerasan yang dilakukan seorang guru SMA Negeri sudah dilaporkan ke aparat penegak hukum Polres Nisel dan sudah muncul di beberapa media, seharusnya tidak bisa didiamkan begitu saja, tapi harus segera ditindaklanjuti dan diusut sampai tuntas.

“Setiap kasus penganiayaan dilakukan siapa saja, tidak zamannya lagi ada main backing agar kasus didiamkan. Jika hal ini terjadi, ada kekhawatiran akan memicu perseteruan, bahkan tidak tertutup kemungkinan terjadi konflik horizontal,” ujar Nezar.

Karena, kata Nezar lagi, dari informasi yang diperoleh bahwa kasus kekerasan dilakukan oknum guru berinisial NH (Guru SMAN I Amandraya Nisel) diduga belum diproses lebih lanjut, meski PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polres Nisel sempat mendatangi lokasi sekolah diduga untuk melakukan pemeriksaan dan bertemu langsung dengan para siswa yang menyaksikan insiden kekerasan dilakukan NH terhadap JM.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, kasus kekerasan guru terhadap siswanya  dilakukan oknum guru SMAN I Amandraya berinisial NH terhadap siswanya JM hingga mengalami pembekuan darah di bagian kepala. Korban sempat dirujuk ke RS Murni Teguh di Medan guna mendapatkan perawatan yang intensif.

Abang korban Boi Mendrofa menyebutkan, pemukulan dan kekerasan dilakukan oknum guru SMAN I Amandraya Nisel, pada 19 Agustus 2017.

“JM mengalami pemukulan pada bagian kepala dan tengkuk, bahkan sempat pingsan. Awalnya JM tidak sakit, tapi sampai di rumah baru terasa sakit kepala, sehingga dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa  dirontgen,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, lanjutnya, pihak rumah sakit merujuk ke rumah sakit di Medan sebelum penyakitnya parah dan mempengaruhi pikiran dan kepala JM. Dari diagnosa terdapat pembekuan darah pada bagian kening diduga akibat pemukulan yang dilakukan NH.

“Saat ini korban terpaksa kembali ke Nisel, karena mengikuti ujian mid semester,” ujarnya. (ts-02)

Loading...
loading...