PA Kelas I Medan Tangani 3.000 Kasus, Dominan Masalah Perceraian

85
Ketua Pengadilan Agama Kelas I Medan, Drs Misran SH M.Hum, saat bersilaturrahmi dengan Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi, Rabu (11/4/2018), di rumah dinas wali kota. (tobasatu.com)

tobasatu.com, Medan | Pengadilan Agama Kelas I Medan menangani 3.000 kasus setiap tahunnya, dimana hampir 80 persen merupakan kasus perceraian, sementara sisanya merupakan masalah harta warisan, harga gono-gini, hak asuk anak serta ekonomi syariah.

Demikian diungkapkan Ketua Pengadilan Agama Kelas I Medan, Drs Misran SH M.Hum, saat bersilaturrahmi dengan Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi, Rabu (11/4/2018), di rumah dinas wali kota.

“Saya baru menjabat sebagai Ketua PA Kelas I Medan. Untuk itu saya datang untuk bersialturahmi sekaligus menjalin sinergitas dengan Bapak Wali kota,” jelas Misran.

Misran memaparkan, faktor yang menjadi penyebab utama kasus perceraian yang ditangani menyangkut masalah ekonomi, kurang bertanggung jawab, adanya pihak ketiga serta adanya campur tangan keluarga.

“Tapi pemicu utama perceraian yang kita tangani adalah faktor ekonomi. Dari 80 persen kasus perceraian yang kita tangani, lebih 50 persen pemicunya disebabkan karena faktor ekonomi,” paparnya.

Diakui Misran, pihaknya juga berupaya sekuat tenaga melakukan mediasi dengan pasangan suami istri yang mengajukan gugatan cerai. Untuk mendukung mediasi, Misran mengatakan, mereka juga melibatkan  sejumlah mediator seperti orang-orang terkedat, keluarga dan ulama agar pasangan suami istri berdamai kembali sehingga mengurungkan niat melakukan perceraian.

Guna mencegah terjadinya perceraian, Misran pun berpesan kepada warga yang hendak menikah agar memahami dan sadar akan hukum. Lalu memikirkan apa dampak yang timbul dari perceraian, terutama menyangkut anak serta tidak mudah terpengaruh dengan kondisi lingkungan tempat tinggal.

Mendengar penjelasan tersebut, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mengaku prihatin dan merasa miris atas tingginya kasus perceraian di Kota Medan.

“Saya sangat prihatin dan merasa miris dengan tingginya angka perceraian di Kota Medan. Padahal  kita ketahui bersama bahwa anaklah yang menjadi korban akibat dampak dari perceraian tersebut.  Selain psikologis, masa depan anak juga ikut terganggu. Untuk itulah saya berpesan kepada pasangan suami istri agar berpikir panjang sebelum memutuskan perceraian,” kata Wali Kota.

Didampingi Asisten Umum Ikhwan Habibi Daulay dan Kabag Agama Setdakot Medan Adlan, Wali Kota pun berharap agar  pihak PA Kelas I Medan berupaya semaksimal mungkin untuk menekan angka perceraian tersebut. Apalagi sebelum memutuskan perkara perceraian, pihak PA lebih dulu melakukan mediasi.

“Saya berharap mediasi yang dilakukan dapat mengubah keinginan pasangan suami istri yang ingin bercerai menjadi tidak bercerai. Apalagi perceraian merupakan hal yang paling dibenci oleh Allah SWT walaupun diperbolehkan dalam konteks tertentu. Insha Allah dengan mediasi yang baik dilakukan pihak PA, perceraian dapat diatasi,” harapnya. (ts-02

Loading...
loading...