Raih Emas di Porwil Sumut, Adinda Mawaddah Optimis Dapat Tiket ke PON XX di Papua

281
Atlet Silat dari Kota Medan Adinda Mawaddah yang berhasil meraih medali emas pada Porwil Sumut, merasa optimis mendapatkan tiket untuk mengikuti PON ke XX tahun 2020 di Papua. (tobasatu.com)

tobasatu.com, Medan | Salah seorang atlet Pencak Silat Kota Medan, Andinda Mawaddah, sukses meraih medali emas untuk kategori Kelas C Putri pada Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) Sumatera Utara yang digelar di Kabupaten Langkat pada 4-8 Mei 2018.

Suksesnya itu menjadi tiket bagi Adinda untuk mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XX yang akan dilaksanakan di Provinsi Papua tahun 2020. Ini merupakan langkah awal bagi Dinda untuk bisa mencapai tujuannya tersebut.

Adinda Mawaddah saat ini merupakan mahasiswi semester enam Fakultas Pertanian Jurusan Agroteknologi, Universitas Sumatera Utara (USU). (tobasatu.com)

Dinda merasa optimis bisa mengikuti PON XX yang akan dilaksanakan di Papua. Selain karena dukungan penuh dari keluarganya, hal lain yang tidak terlepas adalah usaha Dinda yang selalu bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuanya tersebut. Dinda berharap kedepannya apa yang telah ditargetkannya untuk karir dan pencak silat kedepannya dapat terpenuhi.

Adinda yang biasa disapa Dinda saat ini juga menjadi pelatih beladiri Pencak Silat. (tobasatu.com)

Adinda Mawaddah yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara merupakan mahasiswi semester enam Fakultas Pertanian Jurusan Agroteknologi, Universitas Sumatera Utara (USU). Ditengah-tengah kesibukannya berlatih untuk mengikuti pertandingan Pekan Olahraga Wilayah Sumatera Utara, tidak membuat dara  kelahiran Medan 20 tahun yang lalu itu melupakan kewajibannya sebagai mahasiswi begitu saja.

Dinda mengenal olahraga Silat sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Ketika duduk di kelas lima SD, dengan seragam putih merahnya, Dinda ternyata memiliki ketertarikan tersendiri kepada dunia olahraga. Ia bahkan mengikuti semua ekstrakurikuler olahraga yang ada di sekolahnya mulai dari renang, basket, hingga pencak silat.

Alasan utama Dinda menekuni bela diri karena ia merasa membutuhkan perlindungan untuk membela diri. Selain itu, ada banyak perempuan yang ditindas dan perasaan Dinda ingin menolong mereka selalu muncul. Tetapi untuk menolong, Dinda harus memiliki kemampuan terlebih dahulu.

Tidak ada niatan Dinda bisa menjadi atlet silat. Ia hanya menekuninya setelah keasyikan dan nyaman dengan silat akhirnya ia memutuskan untuk melanjurkan karirnya di bidang olah raga silat.

Sempat dilarang oleh Ibu

Sebagai anak perempuan, ada banyak kekuatiran yang disuarakan oleh ibunya. Meskipun dibolehkan untuk belajar silat untuk membela diri, tetapi ibunya sempat menolak ketika Dinda mengukuhkan niatnya untuk berlanjut di dunia silat.

Namun Dinda tidak berhenti, ia malah semakin gigih berlatih silat. Kegigihan tersebut dilihat oleh ibunya. Hati ibunya mulai luluh ketika Dinda mendapatkan juara dari berbagai pertandingan yang ia ikuti, hingga akhirnya sang ibu memberikan jalan untuk Dinda menjadi pesilat.

Siapa sangka akibat kecintaannya terhadap pencak silat membuat ia bisa menjadi seorang guru honorer di salah satu sekolah kota Medan yaitu SMA 1 Muhammadiyah Medan.

Perempuan ini dipercaya pihak sekolah untuk menjadi pelatih seorang pelatih pencak silat. Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati seperti pribahasa ini selain kemampuan bela dirinya dipakai saat pertandingan dan menjaga diri, ternyata kemampuan ini juga bisa membuatnya menjadi seorang guru honorer di usianya yang masih muda. (Amalina Darayani P)

 

Loading...
loading...