Tarif Tol Mahal Bikin Jalan Primer Tetap Macet

443
Ketua Fraksi PKS DPRD Medan H.Jumadi. (tobasatu.com/ist)

tobasatu.com, Medan | Tingginya tarif tol masih dikeluhkan pengguna jalan di Sumatera Utara, sehingga masyarakat pun lebih memilih untuk menggunakan jalur umum. Jalan bebas hambatan yang dimaksudkan untuk mengurai kemacetan pun gagal menjalankan fungsinya, karena tarifnya dianggap warga mencekik leher.

Sebagai contoh, tarif jalan tol Tanjungmulia ke Sei Rampah dikenakan biaya sebesar Rp50 ribu, Amplas-Rampah Rp47 ribu.

Menyahuti keluhan masyarakat ini, Ketua F-PKS DPRD Medan Jumadi, Selasa (7/8/2018) mengungkapkan bahwa tingginya tarif tol tersebut dikarenakan tidak dikelola murni oleh PT Jasa Marga.

“Kalau dulu, penetapan tarif tol berdasarkan kesepakatan dengan DPR. Berapa presentase kenaikan, kapan waktu dinaikan. Itu semua ada tahapan-tahapannya,” ujar Anggota Komisi B DPRD Medan itu kepada wartawan.

 

Saat ini kata Jumadi, banyak jalan tol yang dikelola pihak ketiga, baik swasta asing maupun swasta dalam negeri. Dengan kondisi ini, tarif yang mereka berlakukan tentu saja mengacu kepada harga tarif standar internasional.

“Pertanyaannya, dengan penetapan tarif tinggi tersebut apakah sudah sesuai dengan kondisi ekonomi kita. Demikian juga dengan kemampuan masyarakat untuk menggunakan tol tersebut,” ujarnya lagi.

Dia mengilustrasikan, tarif tol dari Medan menuju Sei Rampah yang jaraknya 42 Km. Pengguna jalan tol dikenakan biaya sebesar Rp41 ribu. Demikian pula dari Bandara Kuala Namu ke Sei Rampah berjarak 42 kilometer, harus membayar Rp41 ribu.

Sementara, jalan tol yang dikelola oleh PT Jasa Marga dari Tanjungmorawa ke Belawan dengan jarak 32 kilometer, hanya dikenakan Rp8 ribu. “Dengan jarak tersebut, perbedaanya sangat mencolok.Cukup jauh perbedaan tarifnya,” cetus Jumadi.

Disebutkannya, keberadaan jalan tol bukan semata-mata bagian dari bisnis. Sebab jalan tol itu merupakan sarana pelayanan publik yang digunakan masyarakat banyak. Lagipula tujuan dibangunnya jalan tol juga untuk mengurai kemacatan lalu lintas di jalan primer, mempercepat transportasi pelayanan darat, ujarnya.

“Dengan mahalnya tarif tersebut akhirnya masyarakat umum enggan melaluinya. Artinya, rencana untuk mengurangi dampak kemacetan lalu lintas yang ada di jalan primer, tidak tercapai. Karena kendaraan umum dan truk lebih banyak memilih jalan melalui jalan primer karena mahalnya tarif tol,” ujarnya lagi.

Kalaupun selisih dua jam lebih lambat jika melalui jalan primer, paling tidak menurutnya para pengusaha dan supir bisa menghemat biaya.

“Meksipun selisih waktu tempuh sampai dua jam, apabila sekali melintas dikenakan Rp122 ribu, supirnya pasti berpikir, uang sebanyak itu bisa digunakan untuk makan dua hari. Ini jadi pertimbangan rakyat kecil, khususnya supir,” sebutnya. (ts-02)

Loading...
loading...