Pukat Trawl Berkeliaran, Ribuan Nelayan Tradisional di Sergai Unjuk Rasa di Laut

2880
tobasatu.com, Sergai | Ribuan nelayan tradisional di Serdang Bedagai (Sergai) menggelar unjuk rasa Kamis (21/3/2019) menolak beroperasinya kapal pukat trawl.
Meski diguyur hujan, massa tetap menggelar unjuk rasa di laut mulai pukul 10.00 WIB. Sebelum turun ke tengah laut, semua nelayan berkumpul di Desa Bagan Kuala Kecamatan Tanjung Beringin, Sergai, dengan ratusan kapal motor. Aksi ini dikawal oleh Polres Sergai, dan aparat Keamanan Laut.
Aksi ini melibatkan nelayan tradisional dari Kecamatan Tanjung Beringin, Bandar Khalipah dan Teluk Mengkudu.
Kordinator Aksi Zulham, menyampaikan tuntutannya persis di tengah laut peraian Kecamatan Bandar Khalipah, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) yang berbatasan dengan Kecamatan Pagurawan, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.
Zulham menuturkan ribuan nelayan yang tergabung dalam Kesatuan Nelayan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), meminta agar pukat trawl jangan beroperasi lagi karena telah melanggar Kepmen 02/2015. Selanjutnya, Pukat Apung dan Ancau harus menjauh dari lokasi kegiatan nelayan tradisional 4 mil ke atas.
Masih kata Zulham, nelayan tradisional sangat mengharapkan pihak yang berwenang menindaklanjuti tuntutan aksi nelayan tradisional. Dikatakannya, nelayan tradisional secara tegas mengutarakan aspirasinya bahwa jika masih operasi pukat yang merugikan nelayan tersebut, maka nelayan akan mengambil tindakan sendiri.
Aktivitas pukat trawl akhir-akhir ini, sebut Zulham, sudah sangat bebas beroperasi di perairan Sergai. Bahkan dalam minggu ini sempat terjadi permasalahan yakni ada 3 kejadian yang menyebabkan perahu nelayan hancur akibat ditabrak pukat trawl dan mengakibatkan nelayan tradisional mengalami luka-luka.
“Sekarang banyak nelayan yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarga setiap harinya, karena hasil tangkap nelayan jauh berkurang sehingga banyak yang tidak melaut,” katanya.
Zulham melanjutkan, mereka yang beroperasi bukan di wilayah tangkapannya, tapi sudah melanggar zona yang ditentukan dan setiap hari mereka melaut. (ts-18)
BACA JUGA  Imbas Bangkai Babi Hanyut, Masyarakat tak Bisa Pergunakan Lagi Air Sungai
Loading...
loading...