Beroperasi di Laut Sergai, Kapal Pukat Trawl Batubara Dibakar 

758
tobasatu.com, Sergai | Sebuah kapal pukat trawl asal Pagurawan Kabupaten Batubara dibakar nelayan tradisional Kamis (28/3)  di bibir Pantai Merdeka Dusun I Desa Bagankuala, Kecamatan Tanjungberingin, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai). Kuat dugaan pembakaran akibat aksi kapal pukat trawl yang kerap beroperasi di perairan Sergai.
Keterangan dihimpun, awalnya sekira 20 sampai 30 kapal kecil tradisional di sekitar Tanjung Beringin, terpancing amarahnya akibat melihat kapal pukat trawl kembali melancarkan aksinya menangkap ikan.
“Kapal pukat trawl yang beroperasi itu ditarik ke bibir pantai dan berujung aksi pembakaran hingga nyaris tinggal abu. Beruntung seorang ABK dan seorang kapten kapal yang tak diketahui identitasnya selamat dari insiden itu karena berhasil meloloskan diri,” kata seorang sumber yang mintq namanya dirahasiakan.
Dia juga mengungkapkan, awalnya sebelum kepolisian tiba di lokasi, kapten kapal dan ABK sempat diamankan warga di pos KPLP yang tak jauh dari lokasi kejadian. Guna menghindari konflik, keduanya dipulangkan ke Pagurawan Batubara dengan menaiki ojek.
“Kami menduga, aksi pembakaran ini merupakan buntut kekecewaan warga terhadap kapal pukat trawl yang semakin merajalela akibat minimnya tindakan dari pihak terkait,” paparnya.
Warga sekitar yang tinggal sekira 50 meter dari lokasi kejadian bernama Mail, mengaku tidak mengetahui siapa pelaku pembakaran kapal pukat trawl itu.
Hal senada juga disampaikan Kepala Desa Bagankuala Syafril, saat dikonfirmasi wartawan di lokasi kejadian. Dia juga mengungkapkan, nelayan Desa Bagankuala saat kejadian posisinya banyak yang belum melaut dikarenakan air laut masih surut.
Kasat Polair Iptu CT Situmorang, beserta anggota yang mendapat informasi langsung turun ke lokasi kejadian. Namun, kondisi kapal sudah ludes terbakar hanya tersisa mesin jenis dong feng saja. Kapal yang dibakar itu terlihat dibiarkan begitu saja tanpa diberikan police line oleh pihak kepolisian.
Kepada wartawan, Kasat Polair Sergai mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan dan mencari informasi lanjutan atas peristiwa itu. Saat ditanya mengapa kejadian itu bisa terjadi, pihaknya mengaku penanganan kapal pukat trawl bukan hanya kepada  pihaknya saja, namun masih ada instansi yang lain.
Ketika disinggung kembali berapa kapal pukat trawl yang sudah di tindak Satpolair Sergai, dia mengatakan sejak 2018, ada 5 kapal yang ditindak. Sedangkan untuk 2019 belum ada tindakan sama sekali.
Sebelumnya, ribuan nelayan tradisional yang tergabung di Kelompok Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Sergai Kamis (21/3) lalu,telah melakukan aksi sweeping di tengah laut Tanjungberingin. Aksi itu merupakan buntut kekesalan nelayan, akibat kian maraknya kapal pukat trawl di perairan Sergai. Bahkan dalam aksi itu, nelayan sempat mengultimatum agar permintaan mereka dalam pemberantasan pukat trawl segera ditindak lanjuti oleh pihak terkait supaya menghindari hal-hal yang tak diinginkan.(ts-18)
Loading...
loading...