Pedagang Dipungli, Parkir Mahal, Mahasiswa Endus Aroma Korupsi di Ramadhan Fair

161
Mahasiswa tergabung dalam Barisan Mahasiswa Pemerhati Kota Medan menggelar aksi unjukrasa terkait penyelenggaraan Ramadhan Fair.
tobasatu.com, Medan |  Penyelenggaraan Ramadhan Fair yang digelar di Jalan Masjid Raya Al Mahsun, Medan, mendapat sorotan dari sejumlah mahasisw tergabung dalam Barisan Mahasiswa Pemerhati Kota Medan.
Pasalnya Ramadhan Fair yang merupakan ajang tahunan yang digelar Pemko Medan saban bulan Ramadhan itu dinilai tidak beres dalam pelaksanaannya.
Saat menggelar aksi unjukrasa ke Gedung DPRD Medan, Senin (27/5/2019), mahasiswa menyebut ada aroma korupsi yang dilakukan pihak penyelenggara, serta terjadi praktik pungli terhadap pedagang yang berjuan di tempat itu. Belum lagi tarif parkir yang ‘mencekik’ leher pengunjung dimana untuk sepeda motor dikenakan tarif Rp5 ribu dan mobil Rp10 ribu.
Dengan membentangkan spanduk dan sejumlah poster, para pegunjukrasa melakukan orasi yang menyatakan pada Rabu (8/5/2019) dilaksanakan pembukaan Ramadan Fair Kota Medan di Jalan Sisingamangaraja. Wali Kota Medan HT Dzulmi Eldin dalam kesempatan itu menegaskan stan-stan yang ada di Ramadan Fair tidak diperjualbelikan dan diberikan cuma-cuma kepada UMKM.
Menurut pengunjukrasa dalam pernyataannya yang ditandatangani Koordinator Aksi Wildan Lubis dan Koordinator Lapangan Ridwan Siregar, dalam penelusuran dan wawancara yang dilakukan pihaknya kepada beberapa pedagang UMKM yang berjualan pada acara tersebut, ternyata ada oknum di Pemko Medan yang melakukan praktek pungutan liar (Pungli) terhadap pedagang.
Tujuannya untuk memudahkan urusan atau memenuhi kepentingan si pembayar pungutan. Selain itu, pengunjukrasa juga menduga adanya praktek korupsi anggaran Program Pengelolaan Keragaman Budaya Ramadhan Fair Tahun 2019 dari total anggaran Rp3,065 miliar dengan penjabaran, belanja makanan dan minuman kegiatan senilai Rp 165 juta, belanja pakaian kerja lapangan Rp100 juta dan penyelenggara kegiatan (EO) senilai Rp.2,8 miliar.
Disebutkan pengunjukrasa, dengan anggaran sebesar itu harusnya semua pihak terutama masyarakat Kota Medan mendapatkan pelayanan yang maksimal dan tidak terkesan mubazir.
Namun kenyataannya adalah sebaliknya. Masyarakat malah dibebani tarif parkir kendaraan roda dua sebesar Rp5 ribu dan roda empat
Rp10 ribu. Tentu saja tarif parkir ini harusnya tidak perlu diadakan karena mengingat anggaran biaya untuk program acara Ramdhan Fair tahun ini sungguh sangat luar biasa besar.
Yang sangat mengecewakan, ujar pengunjukrasa, disinyalir terjadi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Medan karena adanya dugaan pungli pada acara tersebut.
Untuk itu pengunjukrasa meminta agar Kadis Kebudayaan Kota Medan dan penyelenggara kegiatan (EO) Ramadan Fair tahun 2019 ditangkap karena diduga melakukan praktek korupsi dana APBD Program Pengelolaan Keragaman Budaya Ramadhan Fair tahun 2019 dan dugaan adanya Pungli terhadap para pedagang UMKM.
Pengunjukrasa juga minta agar dilakukan audit dana Program Pengelolaan Keragaman Budaya Ramadhan Fair tahun 2019.
Selain itu, diminta agar pelaksanaan Ramadan Fair tahun 2019 dievaluasi  dan meminta Wali Kota Medan mencopot Kadis Kebudayaan Kota Medan. (ts-02)
BACA JUGA  Pagelaran Seni Budaya Multi Etnis Upaya Kembangkan Budaya Lokal
Loading...
loading...