Menuju B100, Tata Kelola Harus Jadi Prioritas

179
tobasatu.com, Medan | Pemerintah telah mengimplementasikan penggunaan Bakan Bakar Minyak (BBM) Biodisel 20 (B20) dan Biodisel 30 (B30). Kini peta jalan (road-map) B100 telah disiapkan untuk menjadi pembangunan nasional.
Bila terlaksana, penggunaan bahan bakar nabati dari minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), B100 ini akan menjadi potensi bagi Indonesia, dan bisa mengurangi ekspor. Apalagi, sebelumnya diskriminasi produk sawit Indonesia terus dilontarkan.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Perkebunan Sumut, Herawati, usai hadiri acara Dialog Publik Biodiesel 50 dan Deklarasi Forum Wartawan Perkebunan (Forwabun) Sumut di Aula PPKS, Kamis (27/6/2019).
“Saat ini produksi CPO Indonesia mencapai 40 juta ton, bila B100 diterapkan maka kita butuh bahan baku CPO 50 juta ton. Artinya kita butuh 10 ton lagi, hal ini tentu bisa mengurangi ekspor dan kita pergunakan sendiri. Jadi, tidak peduli dengan protes-protes yang diberikan oleh Uni Eropa kepada produk kita,” ujar Herawati.
Katanya, permasalahan dalam sawit, bukan lagi soal penghentian pembelian Bahan Bakar Nabati oleh Uni Eropa. Lebih dari itu, masalah yang segera harus diperbaiki adalah soal tata kelola, khususnya di Sumatera Utara.
“Jumlah lahan perkebunan sawit di Sumut ada 1,3 juta hektar, terbesar ke dua setelah Riau. Dari 1,3 juta hektar itu, mayoritas dimiliki oleh petani. Makanya tata kelola kelapa sawit di petani harus diperbaiki, dan semua stakeholder harus kita berperan. Tidak bisa hanya pemerintah saja,” ujarnya sembari mengatakan moratorium pengelolahan kelapa sawit harus dibuka kembali.
Hingga saat ini, masalah di kalangan petani adalah soal legalitas dan lahan petani masuk dalam tata ruang atau kawasan hutan. “Pemerintah daerah, baik itu di tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota serta seluruh stake holder dalam sawit ini harus bersinergi,” katanya.
Dijelaskannya, hingga kini, Pemprov terus fokus dalam Percepatan Program Peremajaan Tanaman Kelapa Sawit Perkebunan Sumut. “Dari tahun 2017, kita sudah melaksanakan peremajaan di sebanyak 5000 hektar lahan perkebunan sawit di Sumut, dan terus berjalan,” katanya.
Herawati juga mengingatkan kepada para petani, khususnya mahasiswa yang mengambil jurusan pengelolaan kelapa sawit yang hadir dalam dialog publik tidak perlu khawatir. Dengan diterapkannya B100, maka masa depan kelapa sawit akan terus cerah.
“Fluktuasi harga di subsektor perkebunan dan pertanian itu biasa. Tidak perlu khawatir, bahkan bosnis benih pun masih cerah,” katanya. (ts-24)
Loading...
loading...