Jejak Digital Bisa Berpengaruh pada Masa Depan

227
Peserta talkshow edukatif yang digelar Sisternet dari XL Axiata berfoto bersama usai acara, Sabtu (12/7/2019).

tobasatu.com, Medan | Era teknologi saat ini membuat media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu masyarakat harus bijak dalam menggunakan media sosial. Sebab jejak digital yang kita tinggalkan akan sangat mempengaruhi masa depan kita.

Setidaknya hal ini menjadi pengalaman berharga bagi Founder Belantara Budaya, Diah Kusumawardani Wijayanti dan Founder dari Rumah Uis, Everiana Barus.

Diah dan Everiana berbagi cerita saat tampil menjadi pembicara pada Kelas Literasi Digital Sisternet, yakni program CSR dari XL Axiata yang konsern terhadap pemberdayaan perempuan, Sabtu (13/7/2019) di Plaza Medan Fair Jalan Gatot Subroto, Medan.

Menurut Diah, jejak digital itu sangat jahat dan bisa mempengaruhi kehidupan kita. Oleh karena itu dia mengimbau agar masyarakat bijak dalam mempergunakan media sosial dan mengisinya dengan konten-konten yang bermanfaat.

“Jangan rasis, memaki, memfitnah atau menghina seseorang yang bisa memberi energi jahat. Hiasilah media sosial kita dengan hal-hal yang positif yang bisa memberi energi positif pada orang lain yang berteman dengan kita,” ujarnya.

Dia merasa heran dengan orang yang selalu menumpahkan setiap detail kehidupan di berbagai platform media sosial.

“Kadang kesal langsung bikin status di insta story, marah juga dijadikan status sedih pun langsung dijadikan status menunjukkan emosional tidak stabil,” ujarnya.

Pengalaman berharganya soal jejak digital media sosial dirasakan Diah saat hendak mengurus visa ke Amerika Serikat.

“Saat kita mengurus visa, pihak Kedubes melacak media sosial kita, dan memeriksa jejak digital kita untuk mengetahui latar belakang kehidupan kita,” tutur Diah.

Beruntung Diah berhasil mendapatkan visa dari kedubes dan akhirnya bisa menetap selama lima tahun di negeri Paman Sam.

BACA JUGA  Peringati HAN dan Hari Donor Darah Sedunia, XL Axiata Gelar Donor Darah

Sementara temannya yang juga sama mengurus visa ke Amerika gagal berangkat karena visa nya tidak keluar.

“Mungkin saat dilacak ada jejak digitalnya yang jelek sehingga pihak kedubes tidak mengeluarkan visa,” sebut Diah.

Diah menyatakan dirinya memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan Yayasan Belantara Budaya Indonesia (BBI) yakni yayasan yang memiliki 12 sekolah tari tradisional gratis di Indonesia dengan jumlah murid mencapai 2.138 orang.

Sementara Everiana Barus yang merupakan founder Rumah Uis, mempergunakan media sosial Instagram untuk memasarkan produk kain ulos Karo yang mereka produksi. Dia berpesan, kaum muda khususnya wanita agar memanfaatkan teknologi berbasis internet untuk mendatangkan income.

Averiana yang memiliki latar belakang jurnalis itu memberi tips berjualan di Instagram yakni dengan mengunggah foto dan caption yang menarik, serta konsisten dalam menguploadnya ke media sosial.

Group Head XL Axiata West Region, Francky Rinaldo Pakpagan mengatakan sebagai perusahaan penyedia layanan internet dan data dengan puluhan juta pelanggan di seluruh Indonesia, XL Axiata tidak mau asal berjualan layanan data saja.

“Kami akan senang jika para pelanggan dan masyarakat secara umum bisa memanfaatkan layanan kami secara positif, lebih-lebih bisa mendorong produktifitas,” sebutnya.

Program Sisternet sendiri telah hadir sejak tahun 2015, yang memberikan warna bagi pemberdayaan perempuan Indonesia. (ts-02)

Loading...
loading...