Kota Medan Penyumbang Terbesar Inflasi Sumut

130

tobasatu.com, Medan | Bank Indonesia mencatat Kota Medan berkontribusi paling besar, atau mencapai 82 persen dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya dalam penyumbang inflasi.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumut, Wiwiek Sisto Widayat saat temu pers di Habitat Coffee, Rabu (14/8/2019). Katanya, komoditas penyumbang inflasi diantaranya cabai merah, bawang merah, bawang putih, ayam ras dan sebagainya.

Melihat hal ini, Bank Indonesia Perwakilan Sumatra Utara (Sumut) meminta pemerintahan Provinsi Sumatera Utara untuk lebih fokus menstabilkan harga bahan pokok di Kota Medan.

“Kenapa tidak difokuskan ke Kota Medan. Kalau Medan terkendali maka inflasi Sumut akan terkendali, karenakan 82 persen kontribusi dari Medan,” katanya.

Diakui Wiwiek, hingga Juli tingkat inflasi Provinsi Sumut secara year to date telah mencapai 5,21 persen, berada di atas inflasi Sumatera dan Nasional. Secara tahunan, inflasi IHK Sumut periode Juli mencapai 6,28 (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,87 (yoy). Lonjakan IHK bersumber dari kelompok komoditas volatile food (VF) yang mencatatkan angka 15,75 (yoy).

Ia menjelaskan harga bahan pokok, cabai merah masih menjadi faktor utama panyebab inflasi di beberapa daerah, termasuk Sumut. Menurutnya, hal tersebut sebagai akibat dari kemarau panjang.

“Selain itu, kami juga dapat info dari petani ada beberapa hama yang membuat keriting daun cabai, sehingga membuat cabai busuk sebelum matang,” jelasnya.

Guna menggendalikan inflasi daerah, BI bersama dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menemukan solusi-solusi baik dari jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

“Apa yang dikerjakan TPID, untuk mencoba agar inflasi tidak terlalu tinggi, terus melakukan berbagai upaya agar tidak terlalu tinggi. Caranya kita tetap mengacu road map yang sudah ditandatangani Sumut di 33 kabupaten, yaitu bagimana kita menjaga ketersediaan pangan, keterjangkauan harga, menjaga kelancaran distribusi, kita tetap melakukan komunikasi kepada stakeholders, asosiasi perdagangan, asosiasi komoditi para pedagang dan masyarakat, semua elemen dan dan semua unsur,” ungkap Wiwiek.

BACA JUGA  Bank Indonesia Siapkan Uang Kartal Rp2,36 Triliun untuk Natal dan Tahun Baru

Sebelumnya, pihaknya bersama Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi melakukan survei di kabupaten Batubara. Menurutnya, daerah Batubara dapat menjadi sentra baru produksi cabai merah. “Totalnya sangat menjanjikan, kurang lebih ada lahan 400 hektar di Batubara untuk produksi cabai,” jelasnya.

Wiwiek menjelaskan pengendalian harga juga dapat dilakukan dengan controlled atmosphere storage (CAS), yakni teknologi pengkondisian atmosfer pada ruang penyimpanan komoditas hortikultura. Itu digunakan untuk mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpan buah dan sayuran.

“Kalau yang jangka panjang bisa belajar dari DKI Jakarta dengan membentuk Badan Usaha Pangan, mereka berhasil menstabilkan harga bahan pokok. Sumut apalagi sebagai produsen pasti lebih mudah,” katanya. (ts-24)

Loading...
loading...