Selain Media Sosial, Masyarakat Perlu Waspadai Game Online Disusupi Pelaku Teror

603
Kasi Partisipasi Masyarakat BNPT, Setyo Pranowo (baju putih) berfoto bersama saat acara Rembuk Aparatur Kelurahan dan Desa Tentang Literasi Informasi Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara tahun 2019 yang digelar di Hotel Grand Kanaya Jalan Darussalam, Medan, Kamis (5/9/2019).

tobasatu.com, Medan | Kemajuan teknologi menjadikan arus informasi menjadi tak terbendung. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini berpotensi memicu terjadinya aksi radikalisme dan terorisme.

Salah satu bentuk kemajuan teknologi informasi adalah trend penggunaan media sosial dan penyebaran berita melalui media siber, serta merebaknya game online yang juga berpotensi disusupi oleh pelaku teror.

Menurut Setyo Pranowo yang berbicara mewakili Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), salah satu penyebab tingginya potensi radikalisme dan terorisme belakangan ini adalah faktor kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan literasi bagi masyarakat.

“Era disrupsi atau banjir informasi menjadikan masyarakat yang tidak siap mengalami kesulitan dalam membedakan mana informasi yang benar dan yang salah. Situasi ini diperparah dengan semakin merebaknya berita bohong (hoax) yang mengalir deras di dunia maya, sehingga membutuhkan kehati-hatian kita untuk dapat bersikap cerdas dan bijak dalam menggunakan fasilitas yang ada di dunia maya,” tutur Setyo Pranowo, Kamis (5/9/2019).

Hal itu diungkapkan Pranowo pada Kegiatan Rembuk Aparatur Kelurahan dan Desa Tentang Literasi Informasi Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara tahun 2019 yang digelar di Hotel Grand Kanaya Jalan Darussalam, Medan.

Acara dibuka Ketua FKPT Sumut, Zulkarnain Nasution dan dihadiri Kasat Binmas Polrestabes Medan AKBP Rudy Hartono, SIK, MM.

Kemajuan teknologi yang mengakibatkan tumbuh suburnya platform media sosial, menurut Prasetyo juga mengharuskan orangtua untuk mewaspadai game-game online yang memungkinkan anak-anak dimanfaatkan oleh pelaku teror. Sebab saat ini di game online, penggunanya bisa berinteraksi secara langsung.

Apalagi dalam beberapa kasus aksi terorisme, pelaku teror kerap menggunakan anak-anak dan remaja untuk melancarkan aksinya. Karena saat ini anak usia remaja sangat rentan terpapar aksi terorisme yang masuk ke lingkungan mereka dengan berbagai cara, termasuk menyusup melalui kampus tempat para remaja menimba ilmu.

BACA JUGA  Bom di Tangsel, 3 Teroris Tewas 1 Diamankan Densus 88 Antiteror

Selain itu hal lainnya yang dapat memantik radikalisme menurut Setyo Pranowo adalah sikap intoleran diantara pemeluk beragama. Sikap ini menurutnya harus dihindari.

“Sebab terkadang orang-orang melihat satu persoalan secara parsial, fanatik dan melihat dirinya paling benar, Itu berarti sudah terpapar. Selain itu kelompok masyarakat yang bersikap ekslusif, membentuk kelompok kecil dan menjauhkan diri kelompok besar, juga kemungkin terpapar aksi radikalisme dan terorisme,” sebut Setyo Pranowo.

Disebutkan Pranowo, melalui kegiatan ini BNPT dan FKPT ingin mengajak aparatur kelurahan dan desa untuk senantiasa mewaspadai hoaks atau berita bohong, yang belakangan telah dimanfaatkan untuk menyebarluaskan paham radikal terorisme.

Sementara itu tokoh masyarakat Drs.Eddy Syofian, MAP dalam paparannya menjelaskan bahwa tumbuh suburnya media daring (media online) atau dikenal juga sebagai media siber juga membuat penyebaran berita hoaks menjadi tak terbendung.

Dewan Pers mencatat saat ini ada sekitar 43.000 situs yang mengklaim sebagai portal berita. Namun hanya sekitar 300-an media siber yang sudah terferivikasi secara resmi. Itu artinya, media yang tidak terferivikasi berpotensi untuk menyebarkan berita bohong (berita hoaks).

Karena itu, menurut Eddy Syofian masyarakat harus cerdas menggunakan media sosial yakni dengan menangkal berita hoaks.

“Cara menangkalnya antara lain hati-hati dengan judul berita yang provokatif, cermati alamat situs, periksa fakta suatu berita, cek keaslian foto, kembangkan rasa penasaran, edukasikan masyarakat serta penegakan hukum jangan tebang pilih,” sebut Eddy Syofian.

Acara itu juga menghadirkan pakar komunikasi publik sekaligus psikolog DR.Devie Rahmawati, S.Sos, M.Hum dari Universitas Indonesia. (ts-02)

Loading...
loading...