Buang Bangkai Babi ke Sungai Terancam 3 Tahun Penjara dan Denda Rp3 Miliar

310
Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir Lubis bersama Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Hendra Dermawan Siregar, Kepala Dinas Kesehatan Alwi Mujahid, Kadis Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut M Azhar, Kepala Dinas SDA Tata Ruang dan Cipta Karya Alfi Syahriza, dan Kepala Dinas Badan Lingkungan Hidup Binsar Situmorang, memberikan keterangan pers terkait virus hog cholera babi di Kantor BPBD Sumut, Jalan Medan-Binjai, KM 10, 3 Nomor 8, Minggu (10/11/2019).

tobasatu.com, Medan | Ratusan bangkai babi mati ditemukan mengapung di sejumlah sungai di Kota Medan dan sekitarnya, diantaranya Sungai Bedera. Babi tersebut diduga mati akibat terjangkit virus Hog Cholera yang kini sudah menyebar ke 11 kabupaten/kota.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengimbau kepada warga agar tidak membuang ternak babi yang mati ke aliran sungai, karena itu melanggar Undang-Undang No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).

“Dilarang membuang ternak babi yang mati ke sungai atau ke hutan dan segera menguburnya. PPNS kita akan bekerja sama dengan kepolisian siap menindak siapa saja yang melanggarnya,” ujar Gubernur, Minggu (10/11/2019).

Berdasarkan penelusuran tobasatu.com, dalam UU No.32 tahun 2009 dikatakan, bahwa setiap orang yang melanggar baku mutu air limbah, emisi, atau baku mutu gangguan, akan diancam pidana penjara  paling lama 3 tahun dan denda paling  banyak 3 miliar.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara Binsar Situmorang, menyatakan pihaknya pada tanggal 6 November silam, telah mengambil sampel air dari Sungai Badera dan Sungai Deli.

“Hasil uji sampel itu akan kami umumkan secepatnya ,” ucap Binsar Minggu (10/11/2019) saat konferensi pers di Kantor BPBD Sumut.

Tidak Menular ke Manusia

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumut Alwi Mujahid juga menegaskan bahwa virus hog cholera hanya menular dari babi ke babi, tidak ada kasus virus tersebut menular pada ternak lain atau pun manusia.

“Sampai saat ini virus tersebut hanya dari babi ke babi, belum ada laporan bisa meninfeksi ternak lain, namun dengan adanya pembuangan bangkai babi ke sungai maka akan terjadi pencemaran air, yang bisa menimbulkan penyakit diare, namun saat ini juga belum ditemukan kasus karena pencemaran air tersebut,” tambahnya.

BACA JUGA  9.421 Ekor Babi Mati Akibat Kolera, Pemprov Sumut akan Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pembuang Bangkai

Ia juga mengharapkan agar bangkai yang telah dibuang ke sungai atau pun hutan agar segera dievakuasi.

“Kami pun berharap agar bangkai babi ini segera dievakuasi dari sungai sehingga air aliran sungai tidak tercemari lagi, dan kemudian mengubur bangkai tersebut, sehingga wabahnya tidak menimbulkan penyakit lain,” tambahnya. (ts-02)

Loading...
loading...