Rp200 Triliun ‘Kue’ Iklan di Indonesia Kini Lebih Banyak Mengalir ke Dunia Maya

445
Anggota Dewan Pers tengah melakukan Sosialisasi Indeks Kemerdekaan Pers (IKPP tahun 2019.

tobasatu.com, Medan | Sekitar Rp200 triliun ‘kue’ iklan di Indonesia yang selama ini dinikmati pemilik media perlahan semakin menghilang, akibat terjadinya pergeseran audiens media massa dari dunia abstrak ke dunia maya.

Akibatnya kini banyak pemilik media yang mengeluhkan hilangnya omset iklan. sebab iklan tersebut tak lagi tersalur ke media massa melainkan ke media sosial seperti Youtobe, Instagram, Twitter, Facebook dan Yahoo.

Hal ini diungkapkan Anggota Dewan Pers Agung Dharmajaya saat menyampaikan materi dengan judul “Temuan Survey Indeks Kemerdekaan Pers di Provinsi Sumatera Utara”, Rabu (11/12/2019).

Agung yang juga pemilik sebuah stasiun radio menyatakan pergeseran audiens media massa ini selain mengancam pemilik media massa karena terancam bangkrut juga mengancam kompetensi wartawan.

Survey Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) tahun 2019 mengambil tiga indikator yakni bidang politik, ekonomi dan hukum.

Dari variabel yang berada dalam lingkungan ekonomi, variabel tata kelola perusahaan memiliki indeks yang paling rendah. Rendahnya indeks variabel ini disumbang oleh rendahnya indeks terkait sejauh mana wartawan mendapat paling sedikit 13 kali gaji setara UMP dalam satu tahun, jaminan sosial lainnya sebagaimana diatur dalam Peraturan Dewan Pers Nomor 4/Peraturan-DP/III/2008 tentang Standar Perusahaan Pers.

Isu ini merata hampir diseluruh provinsi. Kondisi ini disebabkan oleh faktor ekonomi yang belum tumbuh sehingga banyak pelaku usaha dan pemerintah daerah yang mengurangi belanja iklannya.

Selain itu, dengan perkembangan media sosial, banyak perusahaan yang mengurangi belanja iklan di media massa dan mengalihkannya pada penggunaan media sosial yang dimilikinya. Sementara di sisi lain, terjadi ledakan pertumbuhan media terutama yang berbasis online. Mudah dan murahnya pendirian media online menyebabkan suburnya pertumbuhan media online. Dengan demikian, di satu sisi kue belanja iklan semakin mengecil, sementara media yang memperebutkan kue iklan tersebut semakin banyak. Pada posisi ini, kesejahteraan wartawan menjadi taruhannya.

BACA JUGA  FJPI Sesalkan Kriminalisasi Atas Maria Ressa

Berdasarkan data yang ada, sebagian besar gaji wartawan di daerah berada di bawah UMP. Pada akhirnya, banyak perusahaan media dan wartawan yang menggadaikan idealismenya untuk sekedar dapat bertahan hidup.

“Di titik ini, independensi media dan kemerdekaan pers berada pada posisi yang kritis. Oleh karena itu, perlu ada langkah strategis untuk mengatasinya,” ujar Agung. (ts-02)

Loading...
loading...