Penanganan Gizi Buruk di Sergai Perlu Libatkan Lintas Sektor

829
Bupati Sergai Soekirman saat membuka Seminar dan Workshop Gizi Buruk dan Stunting pada Balita di Kabupaten Sergai bertempat di Aula Sultan Serdang Komplek Kantor Bupati Sergai di Sei Rampah, Kamis (23/1/2019).

tobasatu.com,Sergai l Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir.Soekirman menyatakan penanganan gizi buruk di Kabupaten Sergai perlu melibatkan berbagai sektor.

Dijelaskan Bupati, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) Tahun 2018 prevalensi stunting di Indonesia berada di angka 30,8%. Angka ini menurun dari 37,2% pada Riskesdas tahun 2013.

“Menurut Riskesdas tahun 2018 di Sumut ditemukan 32,4% balita stunting dan untuk Kabupaten Tanah Bertuah Negeri Beradat ditemukan ada 30%,” jelas Bupati Sergai Soekirman saat membuka Seminar dan Workshop Gizi Buruk dan Stunting pada Balita di Kabupaten Sergai bertempat di Aula Sultan Serdang Komplek Kantor Bupati Sergai di Sei Rampah, Kamis (23/1/2019).

Menurut data laporan bulanan gizi, lanjut Bupati, sampai bulan November 2019 dari 20 Puskesmas yang ada di Sergai, terdapat 349 balita dengan kasus 2T yakni balita yang dua kali ditimbang di posyandu tidak naik berat badannya,  65 balita kasus gizi buruk, 231 balita kasus kurang gizi, stunting 79 balita dan Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak 154 balita.

Untuk target stunting 2019 Sergai 27,8% sedangkan pencapaian sampai dengan November 2019 adalah 2,02%.

Bupati menyebut, masalah ini menjadi perhatian khusus bagi Presiden Joko Widodo yang diungkapkan pada Rekernas tahun 2017 lalu. Saat itu Presiden Jokowi mengatakan bahwa tidak boleh ada lagi gizi buruk dan stunting yang terjadi di Indonesia.

“Masalah gizi merupakan hal yang sangat kompleks dan penting untuk segera diatasi. Terutama karena Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai permasalahan gizi paling lengkap,” ujar bupati.

Selanjutnya komitmen pemerintah dalam upaya perbaikan gizi telah dinyatakan melalui Perpres Nomor 42 Tahun 2013 tanggal 23 mei tahun 2013. Sebagai bentuk komitmen yang tinggi di Kabupaten Sergai dalam upaya menzerokan balita gizi buruk dan stunting maka penurunan balita gizi buruk dan stunting ditetapkan sebagai program prioritas daerah yang dimasukan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

BACA JUGA  Pemko Bahas Penanganan Stunting di Kota Medan

“Masalah balita stunting yang ada di Sergai tidak dapat diselesaikan oleh bidang kesehatan saja, namun memerlukan intervensi yang terpadu mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif, maka perlu adanya dukungan dan kontribusi lintas sektor, profesi dan semua mitra pembangunan yang ada di Sergai,” ungkap Bupati.

Bupati menggarisbawahi bahwa percepatan perbaikan gizi di Sergai merupakan upaya bersama antara pemerintah daerah dan masyarakat melalui penggalangan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi dengan priorotas seribu hari pertama kehidupan (1.000 HPK). Melalui penetapan strategi Simanja (Sistem Informasi Manajemen Noktifikasi Kinerja) bikin gemas (Gerakan Empati Masyarakat Sakit) dengan pendekatan keluarga (PIS-PK) dan sikarbu lihat (Sistem Informasi kartu Ibu Bersalin Sehat).

Sebelumnya Ketua Panitia kegiatan drg. Tatik Iswandari, M.Kes melaporkan peserta kegiatan ini berjumlah 165 orang yang berasal dari, Lintas Sektor, Lintas Profesi dan Organisasi Masyarakat. Aadapun tujuan diselenggarakan seminar ini adalah mewujudkan cita-cita Kabupaten Sergai untuk mewujudkan zero Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), stunting dan gizi buruk di Kabupaten Sergai melalui sinkronisasi program dan kegiatan yang ada di tingkat kabupaten, kecamatan, desa dan masyarakat menuju Sergai yang Unggul, Inovatif dan Berkelanjutan, kata drg Tatik.(ts-18)

Loading...
loading...