Stigma Negatif Terhadap Perempuan dengan HIV/AIDS Munculkan Praktik Diskriminasi

805
Sekjen FJPI Khairiah Lubis memaparkan pentingnya jurnalisme empati dalam pemberitaan perempuan dengan HIV/AIDS.

tobasatu.com, Medan | Media massa perlu melakukan jurnalisme empati dalam pemberitaan terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) khususnya perempuan.

Pasalnya, stigma negative terhadap perempuan penderita HIV/AIDS, memunculkan praktik-praktik diskriminasi mulai dari penolakan, pengucilan dari masyarakat, harga diri rendah atau persepsi diri yang negatif, pelecehan verbal, dan ketakutan.

Sehingga pada akhirnya akibat diskriminasi itu, menjauhkan perempuan dari layanan yang dibutuhkan dan kerentanan terhadap mereka yang berpotensi mengidap HIV.

Sekjen Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Khairiah Lubis, Head of Sales Greater Medan XL Axiata, Horas Lubis dan Ketua FJPI Sumut, Lia Anggia Nasution saat penyerahan sertifikat kegiatan Workshop di Grha XL Medan, Jalan Diponegoro No. 5 Medan. Kamis (23/1).

Aktifis perempuan dari Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (HAPSARI) Leli Zailani menuturkan perempuan yang terjangkit virus HIV/AIDS cenderung mendapatkan stigma yang lebih berat dibandingkan laki-laki, sebagai ‘pembawa aib’ dan ‘pendosa’. Padahal dalam banyak kasus, perempuan dalam hal ini ibu rumah tangga justru mendapatkan virus tersebut dari orang terdekatnya yakni suami.

Dia menilai masyarakat perlu diedukasi mengenai penyakit HIV/AIDS, termasuk cara-cara penularannya. Sehingga di masa mendatang, masyarakat bisa mengambil tindakan yang disebutnya ‘jauhi penyakitnya, bukan orangnya’.

“Saat ini stigma mayarakat terhadap HIV/AIDS adalah penyakit sosial dan yang memalukan, kotor, dan mematikan dimana penderitanya misterius dan tidak bisa disembuhkan,” tutur Leli Zailani saat menjadi narasumber pada Workshop Pemberitaan Perempuan dan HIV, penguatan kapasitas jurnalis dalam memberitakan kasus perempuan, ibu rumah tangga dan HIV, yang digelar di Grha XL di Jalan Diponegoro Medan, Kamis (23/1/2020).

Para peserta workshop berfoto bersama.

Workshop yang diikuti anggota Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumut berkerjasama dengan XL Axiata ini merupakan program dari Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) yaitu Citradaya Nita 2019, dengan tema  Leadership fellows for Female Journalist.

Dikatakan Leli Zailani, perlu diketahui bahwa HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang hanya terdapat di dalam tubuh manusia dan menyebabkan turunnya sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh gagal melawan infeksi. Sedangkan AIDS (Aqquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala penyakit  (Infeksi Oportunistik) yang disebabkan oleh punurunan kekebalan tubuh, akibat ketularan virus HIV, sehingga sangat mudah mengalami penyakit lainnya.

BACA JUGA  Urun Rembug Tokoh Pers di Sumut Sosialisasikan Kompetisi Nasional Media Piala Presiden 2019

Masyarakat, tambah Leli, perlu mengenali, mewaspadai dan menghadapi penyakit tersebut. Sehingga bila masyarakat sudah mengetahui misalnya bahwa virus HIV tidak akan menular melalui berjabat tangan, maka mereka tidak akan mengucilkan penderita HIV/AIDS.

“Jika kita terinfeksi HIV, kita dapat menularkan infeksi ini pada orang lain. Darah, air mani, cairan vagina dan cairan dubur mengandung cukup banyak virus untuk ditularkan pada orang lain. Namun resiko tertular  hanya bila salah satu cairan ini masuk ke tubuh orang lain, langsung pada aliran darah atau akibat hubungan seks tanpa kondom melalui vagina, dubur, atau mulut,” ujarnya.

Selain melalui hubungan seksual yang beresiko dan penggunaan jarum suntik tidak steril, penularan juga terjadi dari Ibu yang HIV positif kepada bayi yang dikandungnya (Mother to Chilid Transmission).

Sementara itu Sekretaris Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Khairiah Lubis yang berhasil mendapatkan beasiswa Leadership fellows for Female Journalist dari PPMN Citradaya Nita 2019 lewat tulisannya ‘Kondisi Ibu Rumah Tangga Terdampak ODHA di Sumut’ menuturkan bahwa dalam melakukan pemberitaan perempuan dengan HIV/AIDS seorang jurnalis perlu melakukan jurnalisme empati.

Jurnalisme empati menurut Khairiah yang akrab disapa Awie, adalah suatu metode dimana kita berempati yakni merasakan apa yang dirasakan orang lain, atau misalnya kita bisa membayangkan andaikan kita berada di posisi korban.

“Jurnalisme empati ini berpihak kepada korban dan survivor,” tutur Khairiah Lubis, yang juga merupakan seorang jurnalis di DAAI TV Medan.

Menghadapi stigma negative dalam pemberitaan, Khairiah menyatakan jurnalis perlu menghadirkan hati ketika meliput, pahami kondisi ibu rumah tangga. Perbanyak berita solutif tentang apa yang harus dilakukan pemerntah, masyarakat, para suami agar ibu rumah tangga terlindungi dari HIV.

BACA JUGA  Kepengurusan FJPI Sumut Periode 2018-2021 Dilantik

Selin itu dia juga mengimbau agar media memperbanyak liputan dari sisi inisiatif suami untuk melindungi istri, perbanyak berita edukatif tentang penularan HIV pada ibu rumah tangga.

“Selain itu perbanyak kisah-kisah inspiratif dan optimism dari ibu-ibu rumah tangga ODHA yang mampu tetap berjuang sehat,” sebut Khairiah.

Mengutip data dari Kementrian Kesehatan, pada tahun 2018 terdapat 16.844 Ibu Rumah Tangga ODHA, mayoritas terdampak dari suami. Sementara di Sumatera Utara berdasarkan data dari Dinkes Sumut pada 2018, menurut factor resiko pasangan suami istri ODHA sebanyak 21 persen.

Sementara itu Head of Sales Greater XL Axiata Medan, Horas Lubis, dalam kesempatan itu menyambut baik workshop yang diselenggarakan, karena menurutnya masyarakat perlu mendapatkan informasi yang lebih luas mengenai HIV/AIDS.

“Harapan saya semoga media juga bisa memberikan edukasi kepada masyarakat sehingga penyakit HIV/AIDS kedepannya bisa tersosialisasi dan penderitanya tidak dikucilkan,” sebut Horas Lubis.

Workshop tersebut juga menampilkan narasumber dr.Yulia  Maryani M.Kes dari Dinas Kesehatan Sumut serta Afnita Yohana yang merupakan lembaga pendampingHIV/AIDS dari Medan Plus. (ts-02)

 

Loading...
loading...