Polemik Pemusnahan Ternak Babi Berpotensi Picu Kerusuhan

291
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi diwawancarai wartawan usai rapat bersama Forkopimda membahas isu pemusnahan ternak babi.

tobasatu.com, Medan | Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengajak masyarakat untuk tidak lagi memperpanjang polemik isu pemusnahan ternak babi.

Menurut Gubernur, isu pemusnahan ternak babi di Sumatera Utara saat ini telah “digoreng” dan digiring oleh  sekelompok oknum agar suasana di Sumut yang sebelumnya harmonis menjadi tidak kondusif.

Dia menegaskan akan mencari sampai dapat oknum yang mencari ‘panggung’ dengan ‘menggoreng’ isu pemusnahan ternak babi ini ke arah isu bernuansa Suku, Ras dan Agama (SARA).

“Karena itu saya minta mari kita hentikan polemik isu pemusnahan ternak babi,” tutur Gubernur dalam rapat bersama Forum Komunikasi Pemerintah Daerah (Forkopimda), Kamis (13/2/2020) di Gedung DPRD Sumut.

Rapat yang dipimpin Ketua DPRD Sumut Baskami Ginting itu juga diikuti Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin, dan Kajatisu Amir Yanto.

Dalam kesempatan itu, Gubernur menyatakan virus yang melanda ternak babi di Sumut sebelumnya Hog Cholera atau Kolera Babi, kini telah berkembang menjadi virus African Swine Fever (ASF) yang hanya menyerang ternak babi.

Edy menuturkan, sejak tanggal 25 September 2019, banyak bangkai babi itu terbuang di jalan dan sungai di sejumlah daerah di Sumut. Lalu, ia pun mengumpulkan seluruh OPD dan aparat terkait untuk mencari tahu kenapa ada banyak babi yang mati mendadak dan bangkai babi dibuang dengan sembarangan. Berdasarkan data yang ada diperkirakan ada 29 ribu babi yang mati mendadak.

“Atas kejadian ini kita lalu menyurati Kementrian Pertanian dan Kesehatan. Dan mereka tindaklanjuti pada 4 November 2019 dengan datang ke Sumut membicarakan hal ini,” katanya.

Langkah awal sebelum pihak Kementrian datang, Pemprov Sumut telah mengeluarkan kebijakan melarang masyarakat membuang bangkai babi ke sembarang tempat. Melarang babi terserang penyakit ke luar dari tempat peliharaan karena dapat membawa wabah serta membentuk tim untuk membantu masyarakat yang ternak babinya mati. “Saat itu, saya belum tahu apa penyebab itu semua,” ucap Edy Rahmayadi.

Kemudian DPR RI Komisi IV datang dan membahas permasalahan ini hingga diketahui bahwa penyebab dari kematian babi ini karena virus ASF yang pertama ditemukan terjangkit di Negara Taiwan. Hingga saat ini vaksin virus ASF tersebut belum ditemukan.

“Nah disana dibahas dilakukan pemusnahan babi yang terjangkit virus itu. Namun diambil kesimpulan tidak bisa dimusnahkan karena virus ini tidak menjangkit hewan yang lain ataupun manusia,” jelas Edy Rahmayadi.

Menjawab tuntutan masyarakat, pemerintah diminta untuk mengganti kerugian ternak babi yang mati. Hal ini juga telah dipikirkan Pemprov Sumut, namun tidak bisa dilakukan karena melanggar Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. “Garis besarnya bahwa pemerintah tidak bisa mengganti ternak yang mati karena virus,” katanya.

Menurut Gubernur apa yang terjadi merupakan musibah. Sehingga dia mengajak masyarakat untuk sama-sama mencari solusinya.

Gubernur menilai, demo yang dilakukan sekelompok orang yang menentang pemusnahan babi bukannya memberikan solusi, namun berpotensi menimbulkan kerusuhan dan perpecahan.

“Saya tak mau ini menjadi benturan nanti menjadi rusak semuanya.

Ada orang-orang yang tidak bertanggungjawab, saya minta segera minggir. Saya tidak mentolerir orang-orang ini,” ujar Edy.

Sementara itu Kapolda Sumut Irjen Pol Drs Martuani Sormin, menyatakan  tidak ada niatan Gubernur untuk memusnahkan babi.

Justru babi yang dimusnahkan menurut Kapolda adalah babi yang terpapar virus hog cholera, bukan seluruhnya.

“Ketika ada kesimpang-siuran ini berita, terjadi mispersepsi dan multitafsir, kemudian digoreng orang untuk membuat ketidakstabilan Kamtibmas di Sumut. Satu yang membahagiakan saya, ketika demo #Savebabi berlangsung tertib 

Andaikan itu tidak tertib, saya tidak bisa membayangkan, akan terjadi lagi aksi kontra dan kontra,” ujarnya.

Kapolda mengimbau masyarakat jangan mau kita diadu-domba dengan pemutarbalikan isu-isu yang tidak benar untuk distabilisasi kamtibmas di Sumut.

“Stop isu babi karena bukan mendidik tapi isu yang memecah belah rasa kebangsaan keberagaman pluralisme yang bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat yang mendukung dan kontra,” sebut Kapolda.

Kapolda berharap mudah-mudahan tidak ada lagi unjuk rasa-unjuk rasa yang lain, karena dengan teriak-teriak di jalan menurutnya tidak akan menyelesaikan masalah (ts-02)

BACA JUGA  Dirgahayu Sumatera Utara, Wujudkan Sumut Bermartabat dan Sukseskan Pemilu 2019
Loading...
loading...