Perjuangan India Melawan Covid-19

5103
Tim medis di India tengah melakukan penanganan terhadap pasien Covid-19.

tobasatu.com, Jakarta | Perdana Menteri India, Narendra Modi berbicara di telepon pada tanggal 29 April dengan Bapak Joko Widodo, Presiden Indonesia. 

Kedua pemimpin bertukar pikiran tentang penyebaran pandemi COVID-19 di kawasan masing-masing dan di dunia. Presiden Indonesia menghargai fasilitasi yang diberikan oleh Pemerintah India untuk pasokan produk farmasi ke Indonesia. Narendra Modi memastikan bahwa India akan melakukan upaya-upaya yang terbaik untuk mencegah hambatan-hambatan pada pemasokan produk-produk medis atau komoditi lainnya yang diperdagangkan antara kedua belah pihak. 

Kedua pemimpin negara tersebut membahas masalah-masalah terkait warga negaranya masing-masing yang masih berada di negara sahabatnya tersebut, dan sepakat bahwa tim masing-masing akan saling menjalin komunikasi yang erat untuk memastikan semua kemudahan bagi warga negaranya bisa terlaksana sebaik-baiknya. 

Perdana Menteri India menggarisbawahi fakta bahwa Indonesia adalah mitra maritim yang penting di daerah sekitar India, dan kekuatan hubungan bilateral akan membantu kedua negara dalam memerangi dampak pandemi. Beliau juga menyampaikan ucapan selamat menjalani bulan suci Ramadhan kepada Presiden Widodo dan kepada rakyat Indonesia.

Meski tergolong negara yang padat penduduknya, angka kematian akibat Covid-19 di India relatif kecil hanya sekitar 3 persen.

India, meskipun menjadi negara terpadat ke-2 di dunia dengan populasi 1,3 miliar orang, telah melaporkan hanya 31.000 kasus di mana 8.534 pasien telah pulih sepenuhnya, sementara lebih dari 1.000 orang telah meninggal.

Tingkat pemulihan di India lebih dari 16% sementara tingkat kematian sekitar 3%, angka yang sangat baik dibandingkan dengan tingkat kematian di negara lain, seperti Spanyol 10%, USA 5%, Belanda dan Prancis 11%, serta Inggris dan Italia 13%. Rasio kematian per 1 juta di India hanya berkisar 0,3, sangat rendah dibandingkan dengan rata-rata global 17,3.

Terlepas dari populasi yang besar dan kepadatan yang tinggi, tingkat penyebaran virus di India relatif lebih lambat dibandingkan dengan sebagian besar negara-negara dengan kasus tinggi, yakni sekitar 9 kasus infeksi tiap satu juta penduduk, sedangkan di negara-negara seperti Italia, Inggris, Prancis dan Amerika Serikat, hanya butuh 2-4 hari untuk menggandakan kasus terinfeksi.

India telah menerapkan gabungan langkah-langkah manajemen krisis yang mencakup screening turis-turis dalam skala besar, metode social-distancing, peningkatan infrastruktur kesehatan yang serta-merta, peningkatan produksi obat-obatan, bantuan-bantuan sosial yang ditujukan untuk mengurangi kesulitan-kesulitan yang tak terhindarkan dari masyarakat yang miskin dan program paket stimulus ekonomi yang ditujukan khusus untuk ekonomi sektor menengah dan kecil.

Lebih dari 3000 institusi kesehatan telah dikerahkan untuk berfungsi 24 jam sehari non-stop, membangun 266 laboratorium pengujian, satu juta tempat tidur, 290.000 ruang isolasi dan 55.000 tempat tidur ICU. Lebih dari 850.000 sampel telah diuji sejauh ini. 

Perusahaan-perusahaan swasta India telah dilibatkan penuh untuk membuat produk-produk alternatif lokal yang lebih terjangkau. Misalnya, sekarang ada 32 perusahaan India yang telah mulai bekerja untuk memproduksi Alat Pelindung Diri (APD). Sebanyak 40.000 tempat tidur isolasi tambahan pun telah disiapkan dengan memodifikasi 2.500 gerbong kereta api. 

Statistik India yang baik telah menjadi acuan optimis bagi negara-negara lain yang sedang berjuang untuk mengatasi penyakit ini. Dunia dan beberapa lembaga termasuk WHO, kini memandang ke India untuk memimpin perang melawan COVID-19.

India telah berada di garis depan dalam upaya global untuk memerangi pandemi ini. Pada tanggal 15 Maret, Perdana Menteri India mengundang semua negara SAARC untuk konferensi video membahas strategi terhadap situasi COVID-19 dan menetapkan serangkaian langkah-langkah termasuk suatu komitmen untuk menyediakan US $ 10 juta untuk bantuan kesehatan. 

Selama Pertemuan Para Menteri Luar Negeri dari negara-negara BRICS pada tanggal 28 April, India menegaskan kembali komitmennya untuk bekerjasama dengan negara-negara BRICS.

Produksi obat-obatan seperti tablet-tablet anti-piretik dan Hydroxychloroquine telah diperbanyak untuk memenuhi kebutuhan domestik dan untuk ekspor ke negara-negara lain. Pemerintah juga telah mendesak para peneliti dan ilmuwan untuk membuat testing-kit atau reagen baru yang dapat membantu memerangi penularan virus corona.

Sampai saat ini, India telah menyediakan pasokan medis dan bantuan ke Maladewa, Sri Lanka, Nepal, Bangladesh, Mauritius, Seychelles, Myanmar, Cina, Iran, Italia, dan Bhutan. Dikenal sebagai Apotek Dunia dan sesuai dengan reputasinya sebagai penyedia produk farmasi yang diakui dunia, India telah mengirimkan pasokan komersial dan juga pasokan bantuan berupa produk-produk utama medis ke Indonesia, Amerika Serikat, Spanyol, Brasil, dan Israel serta beberapa negara di Afrika, Amerika Latin dan Karibia.

Pemerintah India secara aktif mendorong para ilmuwan India untuk melakukan uji coba vaksin untuk mengembangkan vaksin, baik itu vaksin penguat kekebalan maupun vaksin pencegahan penyakit, untuk menangkal infeksi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19. 

Para ilmuwan India dan beberapa lembaga penelitian medis yang terkenal seperti Indian Council for Medical Research; Serum Institute of India dan Biotechnology Industry Research Assistance Council saat ini memimpin India dalam upaya di bidang ini.

Bahkan dalam menghadapi resesi ekonomi yang mengancam seluruh dunia, IMF telah memproyeksikan India untuk mencatat tingkat pertumbuhan tertinggi 1,9% pada tahun 2020 dan 7,9% untuk tahun fiskal 2021. (***)

(Penulis: YM Raghu Gururaj, Konsulat Jenderal India, Medan

BACA JUGA  Terdampak Pandemi covid-19, Masyarakat Sumut Bakal Terima Bansos Rp600.000/Bulan
Loading...
loading...