Akhyar Enggan Bahas Soal Manuver ke Demokrat 

519

 

tobasatu.com, Medan | Plt Walikota Medan Akhyar Nasution enggan membahas manuvernya dengan Demokrat terkait Pilkada 2020.

“Kan sudah ada keterangan dari Herri Zulkarnain, ya udah itu ajalah,” kata Akhyar kepada wartawan, seusai meninjau kesiapan menghadapi masa kenormalan baru (new normal) di Viahara Borobudur, Jalan Imam Bonjol, Medan, Selasa (16/6/2020) sore.

Akhyar menegaskan enggan membahas keputusannya bergabung dengan Demokrat. Pun ketika dihubungkan dengan posisinya di PDI Perjuangan. “Inilah dulu kita bahas (new normal). Jangan bahas politik, sudah jenuh kali aku bicara politik. Betul, jenuh kali,” tukasnya.

Diketahui, Akhyar merupakan kader PDI Perjuangan. Dia menjadi Wakil Walikota Medan berpasangan dengan Dzulmi Eldin pada Pilkada Medan 2015 juga lantaran diusung PDI Perjuangan.

Dalam tahapan Pilkada Medan kali ini, dia juga mendaftar sebagai calon di PDIP, bersaing bersama Bobby Nasution. Namun, ketika PDIP belum membuat keputusan siapa yang akan diusung, Akhyar mendadak bermanuver ke Demokrat.

Meski awalnya Sekretaris DPD Demokrat Sumut, Meilizar Latif mengatakan pihaknya masih membahas hal tersebut, tak berselang lama Plt Ketua DPD Partai Demokrat Sumut, Herri Zulkarnain mengonfirmasi lebih terbuka.

“Kita berikan surat rekomendasi kepada beliau (Akhyar) untuk maju. Karena Demokrat juga belum cukup, kursi kita 4, dia harus mencari partai lainnya, misalnya PKS, PAN atau yang lainnya lah, yang menurutnya bisa bersama dengan dia, termasuk wakilnya, kita serahkan sama beliau,” kata Herri, Selasa (16/6/2020).

Dalam kesempatan ini, Herri juga memastikan Akhyar Nasution tidak diharuskan menjadi kader Demokrat. “Kita berikan kebebasan kepada Pak Akhyar, jika ada yang bilang dia sebagai kader (Demokrat), itu tak betul. Dia kader PDI Perjuangan,” ungkapnya.

Pengamat politik Sohibul Anshor Siregar mengatakan bakal terjadi gejolak di internal masing-masing partai yang beririsan. Demokrat misalnya, akan terjadi kebingungan lantaran tidak ada kader yang diusung. Sedangkan PKS seakan harus rela kadernya hanya akan jadi wakil Akhyar. Demikian pula di PDIP. “Jika (akhirnya) Akhyar akan keluar dari PDIP, maka dia melakukan pilihan sulit. Kawan-kawannya di PDIP akan tegang karena marah, meski ada juga yang akan merasa Akhyar sudah mengambil keputusan tepat,” kata Sohibul, Senin (15/6/2020) petang.

BACA JUGA  [video] Perayaan Festival Pesona Lokal Medan

Lantas bagaimana dengan PKS? Menurut Sohibul berat rasanya partai lain bergabung. Maka, jika PKS tidak menerima tawaran hanya sebagai wakil, maka Pilkada Kota Medan akan diikuti satu calon saja.

PDIP sendiri masih enggan mengomentari melompatnya Akhyar ke Demokrat. Sekretaris PDIP Sumut Sutarto mengaku belum mengetahui hal itu. “Saya belum tahu, nanti saya cek dulu. Saya akan tanyakan dulu,” katanya. (ts05)

Loading...
loading...