New Normal Bisa Jadi Bencana, Gubsu Jangan Buru-buru Gunakan Dana Refocusing Tahap II

432
Ketua Pansus Covid-19 DPRD Sumut Akbar Himawan Buchori.

tobasatu.com, Medan | Ketua Pansus Covid-19 DPRD Sumut Akbar Himawan Buchori meminta Gubernur Sumut Edy Rahmayadi tidak buru-buru menggunakan anggaran refocusing tahap II sebesar Rp500 miliar yang akan digelontorkan dalam waktu dekat.

Pasalnya, kata politisi Partai Golkar itu, situasi pandemi Covid-19 saat ini sudah memasuki fase New Normal. Bila tidak cermat dalam menggunakan anggaran, maka New Normal justru bisa berbalik menjadi bencana.

“Gubsu jangan buru-buru lah menggunakan anggaran refocusing tahap dua. Jika tahap pertama untuk tanggap darurat, maka tahap dua harus fokus pada stimulus ekonomi dan prefentif,” ujar Akbar Himawan Buchori kepada tobasatu.com, Selasa (2/7/2020).

Dijelaskannya, Pemprov Sumut dalam menggunakan anggaran tahap II harus lebih terukur dan memilih skala prioritas.

Yang terpenting saat ini adalah memberikan stimulus ekonomi kepada masyarakat, agar perekonomian kembali tumbuh dari keterpurukan.

Bila keterpurukan ekonomi dibiarkan lebih lama, maka dikhawatirkan akan terjadi resesi ekonomi yang membuat negara di ambang kehancuran.

Selain itu, ketimbang menghamburkan uang negara untuk membeli alat Rapid Test yang dinilai kurang akurat, menurut Akbar, Gubsu lebih baik menggunakan anggaran yang ada untuk merevitalisasi rumah sakit milik pemerintah daerah yang ada di kabupaten/kota.

Semua rumah sakit milik Pemda kata Akbar, berpotensi untuk dijadikan rumah sakit rujukan.

“Sehingga tidak hanya mengandalkan rumah sakit rujukan yang ditunjuk pemerintah diantaranya RS GL Tobing di Tanjung Morawa dan RS Martha Friska di Jalan Multatuli Medan,” ujarnya.

Selain itu, dana refocusing tahap II juga bisa digunakan untuk membangun laboratorium yang bisa melakukan test Polymerase Chair Reaction (PCR) atau test swab yang dinilai lebih akurat untuk mendeteksi Covid-19.

“Jadi sample pasien dari Madina misalnya, tidak harus menunggu 12 jam perjalanan baru bisa dilakukan test. Kondisinya sudah tidak akurat dan virusnya sudah mati,” sebut Akbar.

Akbar menilai saat ini skema penggunaan dana refocusing  terkesan copy paste, dan terburu-buru, sebab bahkan Gubernur tidak mengajak Pansus untuk ikut membahas penggunaan anggaran tersebut.

“Pemprov harus berhati-hati dalam menggunakan anggaran refocusing agar tepat sasaran, menyentuh langsung masyarakat yang terdampak,” tuturnya.

BACA JUGA  Pansus Covid-19 Usulkan Bantuan Tahap II dalam Bentuk Uang Tunai

Dana refocusing tahap I juga dinilainya kurang tepat sasaran sebab dari Rp501,2 miliar dana yang dianggarkan, Rp300 miliar diantaranya dipergunakan untuk Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan sisanya untuk stimulus ekonomi. Sehingga tak heran perekonomian rakyat nyaris ambruk.

Terkait pandemi Covid-19, Pemprov Sumut secara keseluruhan menganggarkan dana penanggulangan sebesar Rp1,5 triliun, yang diperoleh dengan melakukan refocusing sejumlah mata anggaran. 

Dana itu akan dicairkan dalam tiga tahapan yakni Tahap I (April-Juni) sebesar Rp502,1 miliar, Tahap II (Juli- September) sebesar Rp500 miliar dan, dan Tahap III (September-Desember) sebesar Rp500 miliar. (ts-02)

Loading...
loading...