Pasar Saham Optimis di Tengah Pandemi Covid-19

581
Ilustrasi bursa saham. (tobasatu.com/ist)

tobasatu.com, Medan | Memasuki era New Normal di pertengahan 2020 Pandemi Coronavirus Disease (COVID-19) masih menjadi tema utama perbincangan di berbagai sektor. Di pasar modal Indonesia, peristiwa ini turut direspons para investor dalam menentukan keputusan arah investasi.

Kepala Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara Muhammad Pintor Nasution Selasa (7/7/2020) mengatakan saat ini hampir seluruh kinerja indeks Bursa Global mengalami penurunan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 21,13% di level 4.905 pada 30 Juni 2020, dibanding akhir tahun 2019. Pada umumnya, seluruh indeks sektoral mengalami penurunan secara year to date.

Sektor yang mengalami penurunan paling dalam selama tahun 2020 adalah sektor property dan real estate sebesar -36,09%. Di sisi lain, sektor consumer goods menunjukkan kinerja indeks yang relatif baik dibandingkan indeks acuannya (IHSG dan LQ45).

“Bahkan, sektor consumer goods mampu mencatatkan kinerja positif sejak adanya pengumuman kasus COVID-19 pertama di Indonesia,” ujarnya.

Positifnya, lanjutnya,  aktivitas perdagangan justru terus meningkat. Rata-rata frekuensi perdagangan meningkat 9,64% menjadi 514 ribu kali per hari dengan rata-rata total nilai transaksi dan volume transaksi masing-masing sebesar Rp 7,67 triliun per hari dan 7,63 miliar lembar per hari.

Sejak Maret 2020, aktivitas transaksi terus mengalami peningkatan seiring diterbitkannya rangkaian kebijakan Pemerintah dan otoritas sektor keuangan dalam melakukan stabilisasi kondisi perekonomian dalam negeri.

Meski aktivitas ekonomi nasional dibayangi Pandemi COVID-19, hal ini tidak menyurutkan minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal.

Sementara perkembangan Initial Public Offering (IPO), terdapat 29 perusahaan tercatat baru di BEI sampai dengan 1 Juli 2020 dan terdapat 22 pipeline pencatatan efek saham baru. Pencapaian Perusahaan Tercatat Baru di BEI ini merupakan jumlah tertinggi di antara bursa efek di kawasan ASEAN.

Hingga 17 Juni 2020, terdapat 296 perusahaan tercatat atau 43,3% dari total perusahaan tercatat di BEI telah menyampaikan Laporan Keuangan Kuartal 1-2020.

Total agregat laba bersih dari 296 Perusahaan Tersebut pada Kuartal 1 (Q1) 2020 mencapai Rp 63,4 triliun atau mengalami penurunan sebesar 19,71% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Nilai perhitungan kinerja keuangan Perusahaan Tercatat ini akan terus bergerak, karena batas waktu penyampaian Laporan Keuangan Q1-2020 Perusahaan Tercatat direlaksasi sampai akhir 30 Juni 2020,” ujarnya.

Pada Juni 2020, telah dicatatkan 2 produk ETF baru di BEI, sehingga sampai dengan saat ini, telah terdapat 45 ETF tercatat, 22 Manajer Investasi Penerbit ETF, dan 7 Dealer Partisipan ETF di Pasar Modal Indonesia.

Sebagai upaya dukungan terhadap program pemerintah dalam memitigasi dampak COVID-19 terhadap aktivitas perekonomian nasional, Self-Regulatory Organisation (SRO) melalui koordinasi bersama-sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah menetapkan serangkaian stimulus yang akan diberikan kepada stakeholders pasar modal.

Diantaranya, pertama, dukungan BEI dalam penyediaan infrastruktur teknologi informasi (TI) kepada Anggota Bursa (AB) selama work from home (WFH) dengan menggunakan internet dan cloud.

Kedua, pemotongan biaya pencatatan saham tambahan sebesar 50% dari perhitungan nilai masing-masing biaya bagi perusahaan tercatat.

Ketiga, penerapan relaksasi atas Dana Jaminan dengan memberikan keringanan atas kutipan setoran Dana Jaminan kepada Anggota Kliring yang sebelumnya sebesar 0,01% menjadi 0,005% dari nilai setiap Transaksi Bursa atas Efek Bersifat Ekuitas.

Keempat, penerapan relaksasi keringanan biaya kepada penerbit efek berupa pembebasan biaya penggunaan e-Proxy, pembebasan biaya Pendaftaran Efek Awal atas Efek yang diterbitkan melalui Equity Crowdfunding (ECF), dan pengurangan Biaya Pendaftaran Efek Tahunan sebesar 50% atas Efek yang diterbitkan melalui ECF.

Kelima, pemberian alternatif jaringan koneksi menggunakan Virtual Private Network (VPN), penyesuaian biaya penyimpanan (safekeeping fees) sebesar 10% dari sebelumnya 0,005% per tahun menjadi 0,0045% per tahun.

Keenam, dukungan kepada industri reksa dana berupa pemberian alternatif jaringan koneksi menggunakan VPN, penyesuaian biaya bulanan produk investasi untuk produk investasi yang terdaftar, dan pembebasan biaya pendaftaran Produk Investasi yang didaftarkan. (ts-20)

Loading...
loading...