PT TPL Minta RDP dengan DPRD Ditunda Akibat Covid-19

759
RDP Komisi B dengan PT TPL.

tobasatu.com, Medan | PT Toba Pulp Lestari (TPL) Tbk meminta penundaan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi B DPRD Sumut, karena saat ini Sumut masih kondisi pandemi Covid-19.

Sehingga semua pihak berupaya melakukan pencegahan merebaknya virus ini, termasuk di komplek pabrik PT TPL yang berada di Parmaksian. 

Demikian dikatakan Manager Sosialisasi Capitan (Socap) PT TPL, Tagor Manik didampingi Humas Dedy Armaya dan Ebenezer Simanulang, Selasa (14/7/2020).

Hal itu diungkapkan Tagor Manik menanggapi Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi B DPRD Sumut, Dinas Kehutanan Sumut dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Gedung Dewan Jalan Imam Bonjol Medan, Senin (13/7/2020). 

RDP itu sedianya dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi perkebunan PT TPL. Namun karena Covid-19, kunjungan tersebut belum dapat dipenuhi.

Menurut Tagor Manik, pihak PT TPL juga menyampaikan surat permohonan penundaan pelaksanaan RDP kepada Pimpinan Komisi B DPRD Sumut karena situasi Virus Corona.  

“Mewakili perusahaan, saya menyampaikan permohonan maaf dan surat penundaan RDP Komisi B DPRD Sumut bersama PT TPL,  Dinas Kehutanan Sumut dan instansi terkait karena situasi Virus Corona memaksa kami untuk bermohon penundaan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi B DPRD Sumut Zeira Salim Ritonga menyebutkan bahwa PT TPL, Tbk, terindikasi melakukan perambahan kawasan hutan lindung di Kabupaten Samosir dan Padangsidempuan. 

Karena itu, dia mendesak agar Dinas Kehutanan harus tegas dalam melakukan penertiban dan penindakan terhadap pihak-pihak yang melakukan pelanggaran.  

“Dinas Kehutanan Sumut jangan main mata dengan PT TPL. Karena perusahaan tersebut terindikasi melakukan perambahan di kawasan hutan lindung,” tutur Wakil Ketua Komisi B DPRD Sumut, Zeira Salim Ritonga, menanggapi hasil pertemuan dengan PT TPL yang digelar Senin (13/7/2020) kemarin. Rapat dipimpin Ketua Komisi B Victor Silaen. 

Rapat digelar guna mempertanyakan pemanfaatan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (IUPHHK HTI) yang diusahai PT TPL.

Disebutkan Zeira, dalam rapat PT TPL yang dahulunya bernama PT Inti Indorayon Utama, tidak bisa menjelaskan luas lahan yang mereka usahai saat ini.  

Zeira mengklaim mendapatkan informasi bahwa titik koordinat ribuan lahan yang diusahai  PT TPL di Desa Sipirok Kecamatan Angkola Timur, Tapanuli Selatan, berada di kawasan hutan lindung.

Dijelaskan, sesuai Undang-Undang No.41 tahun 1999, seharusnya Hutan Tanaman Industri (HTI) tidak boleh berada di areal hutan lindung. 

“Berdasarkan gambar citra satelit yang kita peroleh, PT TPL membuka jalan dan membuka usaha di kawasan hutan lindung. Untuk apa membuka jalan di kawasan hutan lindung, bukankah di areal hutan lindung tidak boleh ada kegiatan penebangan hutan untuk industry,” sebut politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu. 

Dia menilai saat ini terdapat ketidaksesuaian antaran izin usaha yang dimiliki PT TPL dengan pemanfaatan hutan.

PT TPL juga dinilai Zeira tidak melakukan penyesuaian (addendum) SK Menhut No.575 tahun 2014 mengenai review perubahan kawasan hutan dari SK No 44 sebelumnya. 

Selain itu, Zeira juga mendesak agar PT TPL selaku pemilik HTI harus membuat pola kemitraan dengan masyarakat dengan memberikan modal minimal 20% dari areal yang mereka usahai, sehingga tidak terjadi konflik sosial dengan masyarakat setempat. 

Zeira yang merupakan anggota DPRD Sumut dari Dapil VI Kabupaten Labuhanbatu, Labura dan Labusel, berharap agar Dinas Kehutanan juga mampu menegakkan aturan, dan memberikan data yang factual yang dimintakan dewan.

“Sudah 10 kali kita panggil rapat ini Dishut Sumut, tapi datanya tidak lengkap,” tandas Zeira. (ts-02)

BACA JUGA  7.000 Hektar Hutan Adat Akan Dikeluarkan Dari Wilayah Konsesi PT TPL
Loading...
loading...