Akibat Infrastruktur Buruk, Objek Wisata Danau Toba Sepi, Berastagi Lebih Diminati

349
Geopark Kaldera Toba di kawasan Sipinsur, merupakan bagian dari point GKT yang diusulkan masuk menjadi Geopark Global Network di bawah naungan UNESCO. (tobasatu.com).

tobasatu.com, Medan | Memasuki fase Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di tengah pandemi Covid-19, dunia pariwisata tanah air mulai bergeliat, termasuk di Sumatera Utara.

Namun sayangnya, objek wisata Danau Toba yang menjadi andalan Sumatera Utara, dan telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGG), saat ini terlihat sepi dan kurang diminati wisatawan.

Hal ini terlihat berbeda dengan objek wisata Berastagi di Kabupaten Karo, justru semakin diminati wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Setiap minggu, Berastagi selalu dipadati wisatawan.

Sekretaris Perkumpulan Demokrasi Empatbelas (De’14) HM Nezar Djoeli menanggapi hal ini menyatakan sangat menyayangkan kondisi wisata Danau Toba kini bukan menjadi tempat favorit lagi sebagai tempat berlibur.

“Ketika berkunjung ke Danau Toba dalam lebaran Idul Adha,  Sabtu saya melihat langsung kondisi Danau Toba yang sepi dan tidak seramai beberapa waktu lalu sewaktu di era 80-an sampai 90-an. Walaupun sekarang kondisi covid tetapi destinasi wisata sungai dan pegunungan Berastagi menjadi tempat yg lebih di minati,” sebut Nezar, Minggu (2/8/2020).

Kondisi ini menurut Nezar terjadi antara lain disebabkan infrastruktur jalan menuju ke kawasan wisata yang rusak parah.

“Ini semua karena tidak ada kerjasama yg baik antara pemerintah kabupaten, pusat dan provinsi dalam penanganan infrastruktur. Dan banyaknya KJA (Keramba Jaring Apung) milik perusahaan dan masyarakat yg tidak seharusnya ada di zona A1,” sebut Bezar.

Seharusnya, tambah Nezar, Kepala Dinas Binamarga dan Kadis Pariwisata selaku perpanjangan tangan pemerintahan pusat untuk kabupaten melihat dan prihatin dengan kondisi ini,” tambahnya.

Saat berwisata ke Parapat, jelas Nezar, di sepanjang jalan Siantar menuju Parapat ditemukan 4 titik longsor.

“Jangan masing masing tuding kewenangan. Harus ada kerjasama yg baik dalam meningkatkan potensi pariwisata. Bawa usulan pemerintahan kabupaten apabila kewenangan jalan tersebut jalan nasional. Apabila jalan pvopinsi lakukan usulan penganggaran melalui dewan,” ujarnya.

Menurut Nezar, APBD jangan hanya mengarah kepada kepentingan-kepentingan kelompok tertentu saja. Lakukan apa yg menjadi visi dan misi gubernur yaitu pemerintahan yg bermartabat. Kalau gak mampu mending mundur saja dari pemangku jabatan,” ujarnya.

Demikian juga untuk Dinas Pariwisata. Menurut Nezar, juga harus melakukan sinergisitas dengan pemerintahan kabupaten dalam mengeluarkan regulasi-regulasi penataan wilayah.

“Bangunan-bangunan liar di pinggir jalan arah ke pusat kota tertibkan dengan pemerintah kota. Jangan hanya saling tuding kebijakan dan kewenangan. Apalagi sekarang UNESCO sudah membuat Danau Toba menjadi menjadi Geopark Kaldera Toba, dan masuk dalam UNESCO Global Geopark (UGG). 

“Kesempatan ini harus di manfaatkan untuk promosi Danau Toba di luar negeri dengan gratis. Fokus dalam mengelola objek pariwisata yg bisa mendatangkan devisa maupun PAD bagi pemerintah Sumut bermartabat,” ujarnya. (ts-02)

BACA JUGA  Nirwana Penyangga Perekonomian Sumatera Utara
Loading...
loading...