Masa Depan Media Disruptif, Perlu Kualitas dan Ciri Khas Agar Bisa Bertahan

216
Anggota Dewan Pers Ahmad Djauhar tampil sebagai narasumber dalam workshop yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Sumatera Utara.

tobasatu.com, Medan | Anggota Dewan Pers Ahmad Jauhar menyatakan masa depan media khususnya cetak, ke depan akan semakin disruptif, karena akan digantikan dengan media digital (siber).

Untuk itu media digital (siber) ke depan, haruslah yang memiliki kualitas.

“Media jangan membuat berita yang biasa-biasa saja. Setiap media mestilah mencari kekuatannya sendiri, kekuatan yang mampu membuat customer mau membayar,” tutur Ahmad Jauhar saat tampil sebagai narasumber pada Workshop Jurnalisme Digital bertema “Masa Depan Media Digital, Kode Etik dan Pedoman Media Siber” yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), di Gedung Bina Graha Pemprov Sumut Jalan Diponegoro Medan, Rabu (16/2020).

Ahmad Jauhar yang merupakan Ketua Komisi Penelitian, Pendataan, dan Ratifikasi Pers, lebih lanjut menyatakan media cetak merupakan salah satu industri yang mengalami disrupsi inovasi paling keras. 

“Sama halnya dengan ojek pangkalan yang tergusur ojek online. Taksi argo menjadi taksi online. Pasar menjadi market place daring,” ungkapnya. 

Dengan adanya disrupsi inovasi maka akan tercipta pasar baru, aturan main baru, nilai-nilai bisnis yang baru. Cara berbisnis yang baru. Jaringan bisnis yang baru pula. Maka tercipta juga arena persaingan (playing field) yang baru.

Djauhar juga menyebut, masa depan media juga tergantung konvergensi. Yakni penggabungan berbagai jenis media yang bersatu. 

“Seperti organisme, media massa pun bertumbuh dari newsroom, newsbrand, news commerce, news community, news collaboration, serta news corporation,” tambahnya.

Terkait perkembangan media sosial saat ini, Djauhar menyebut media siber harus berafiliasi dengan media sosial yang memang disebutkan sebagai perpanjangan tangan media tersebut. 

“Jadi media online ini jika menyebarkan informasi atau beritanya di media sosial, memang harus disebutkan bahwa medsos itu merupakan perpanjangan tangan media online tersebut. Ini dinaungi oleh Dewan Pers,” tegasnya.

Workshop dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Utara diwakili Kadis Kominfo Provsu, Ir.H.Irman Oemar Msi, yang sekaligus tampil sebagai keynote speaker.

Selain itu, hadir pula sebagai narasumber Kanit II Subdit V Siber Dit Reskrimsus Polda Sumut, IPTU Victor Pasaribu SH dan Kabid Pengelolaan Informasi Kominfo Sumut, Harvina Zuhra serta mantan Kadis Kominfo Pemprovsu, Edy Sofyan sebagai moderator.

Kadis Kominfo Sumut Irman Oemar dalam paparannya menjelaskan prospek media digital ke depan dipastikan sangat menjanjikan. 

“Media digital memiliki peluang yang sangat besar.Upaya-upaya Pemprovsu sudah dilakukan dalam berbagai kegiatan, untuk menuju good governance,” ujar Irman Oemar.

Dikatakannya, Gubsu berpesan, akan selalu meminta masukan-masukan dari media demi mewujudkan konsep pembangunan yang baik. 

“Penelitian terbaru menyebut 50 persen masyarakat dunia, khususnya di Indonesia telah banyak memanfaatkan media digital ini,” katanya lagi.

Ketua SMSI Sumut, Zulfikar Tanjung dalam sambutannya menyampaikan, turut berterima kasih atas terselenggaranya Workshop Jurnalistik Digital tersebut. 

“Ini semua berkat kerja keras panitia dan dukungan semua pihak,” katanya, seraya menyebutkan bahwa kehadiran anggota dewan pers juga akan dirangkai dengan melakukan verifikasi faktual terhadap 13 media siber anggota SMSI.

Dia berharap workshop ini dapat bermanfaat untuk semua pihak, khususnya anggota SMSI.

“Semoga workshop ini bermanfaat bagi kita. Kemudian, Dewan Pers selama dua hari ke depan akan memverifikasi faktual 13 media online (siber) yang ada di Sumatera Utara,” kata Zulfikar.

Ketua Panitia Workshop yang juga Sekretaris SMSI Sumut, Erris Julietta Napitupulu, menyatakan Workshop ini adalah pertama kali diselenggarakan oleh SMSI Sumut. 

“Adapun tema yang kita ambil ini memang terkait dengan apa-apa yang dialami oleh pemilik media online yang banyak terjerat UU ITE,” kata Erris.

Erris juga berharap, dengan adanya Workshop yang mengadirkan Dewan Pers dan Subdit Siber Poldasu agar pemilik media dapat lebih memahami hukum dan lebih profesional dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

Sementara itu, Kanit II Subdit V Siber Dit Reskrimsus Polda Sumut, IPTU Victor Pasaribu SH juga turut memaparkan landasan hukum UU ITE. Victor menjelaskan landasan hukum diberlakukannya patroli siber oleh Polri guna mengantisipasi penyalahgunaan media digital sebagaimana dimaksud.

“Hal ini adalah implementasi UU RI No.19 Tahun 2016 perubahan atas UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Kita tahu semakin hari pengaruh media informasi semakin tinggi. Bahkan tak sedikit anak di bawah umum terkena pengaruhnya,” ujar Victor.

Victor mengingatkan, seluruh elemen harus selalu mengawasi perkembangan teknologi dunia maya, dalam hal media informasi khususnya media sosial.

Adapun Kabid Pengelolaan Informasi Kominfo Sumut, Harvina Zuhra mewakili Pemprov Sumut, berharap media digital (siber) lebih memperbaiki diri. 

“Kita sudah mulai memberlakukan peraturan sesuai imbauan Dewan Pers, bahwa Pemprovsu hanya akan mengakui dan melayani media yang sudah terverifikasi Dewan Pers,” ungkapnya.

“Tentunya secara bertahap, memang banyak kritik yang kita terima. Tapi ini untuk kebaikan kita bersama. Kami juga tidak serta-merta melakukan pembatasan. Bertahap, dan masih ada waktu bagi rekan-rekan media untuk memperbaiki diri,” ujar Vina.

Turut hadir pada Workshop  bertema “Masa Depan Media Digital, Kode Etik dan Pedoman Media Siber”, Kapendam Kolonel Inf Zeni Djunaidhi mewakili Pangdam I/BB, Kasubbid Penmas Polda Sumatera Utara AKBP MP Nainggolan mewakili Kapolda Sumut, Ketua PWI Sumut H Hermasjah SE, para Penasihat SMSI Sumut Khairul Muslim, Austin Tumengkol, seluruh Pengurus SMSI Sumut dan para undangan. (ts-02)

BACA JUGA  Wali Kota Dukung Upaya Pokja PWI Medan Wujudkan Pers Profesional
Loading...
loading...