Pandemi Covid-19, Pengrajin Tas Etnik di Sumut Beralih Memproduksi Masker

757
Masker etnik buatan para pengrajin UMKM di Sumut. (foto: Ist)

tobasatu.com, Medan | Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan seluruh dunia, membuat banyak aspek terdampak, termasuk para pelaku Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) di Kota Medan.

Kebijakan pemerintah yang membatasi kegiatan tatap muka, membuat pelaku UMKM mengalami penurunan omset akibat sulit mendapatkan bahan baku, distribusi menjadi terhambat termasuk modal dan produksi yang terbatas.

Salah seorang pelaku UMKM di Kota Medan yang tobasatu.com temui adalah Marina Syofia, pemilik Rumah Nayozie yang berlokasi di kawasan Jalan Dr.Mansyur, Medan, Sumatera Utara, Selasa (20/10/2020).

Marina Syofia, pemilik Rumah Nayozie.

Rumah Nayozie milik Syofia yang akrab disapa Opi, selama ini memproduksi produk etnik berbahan baku ulos dan batik khas Sumatera Utara berupa tas, baju, dompet, sepatu dan cluth. Sejak hadir sekitar tahun 2013 silam, produksi Rumah Nayozie yang memiliki lima pekerja ini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Pulau Jawa diantaranya Jakarta, Surabaya dan Bandung.

Menurut Opi, produk Rumah Nayozie juga sering dipamerkan di berbagai ajang pameran UMKM yang digelar berbagai instansi baik itu tingkat kementrian maupun dinas di Sumatera Utara diantaranya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi, Dinas Pariwisata, dan lainnya.

Dari situlah dia kemudian mendapatkan berbagai pesanan untuk memproduksi hasil kerajinan etniknya secara massal.

“Di awal pandemi Covid-19 terjadi, produksi Rumah Nayozie sempat terhenti. Sebab tidak ada orang yang berani keluar rumah, tidak ada yang membutuhkan tas, sepatu dan baju. Sebab yang dibutuhkan orang adalah bahan makanan dan alat-alat kesehatan,” sebut Opi.

Atas dasar itulah kemudian Opi dan para pekerjanya mencari alternatif lain untuk bertahan dengan memproduksi masker kain spunbon, yang belakangan juga memproduksi masker dari bahan etnis seperti ulos dan batik.

BACA JUGA  Sweeping UMKM oleh Oknum Kepolisian Mendominasi Laporan Sepanjang tahun 2017
Masker dari bahan kain ulos ini cukup diminati bahkan hingga ke Pulau Jawa.

Opi bersyukur bisnis yang dijalaninya hanya sempat terpuruk tiga bulan pertama saat Covid-19 melanda. Sejak memproduksi masker, usahanya perlahan kembali bangkit sebab banyak permintaan untuk memproduksi masker secara massal.

Melalui komunitas Ikatan Fashion dan Craft (IFC), Opi dan sejumlah rekannya kini banyak mendapat tempahan masker baik skala kecil maupun skala besar mencapai ratusan ribu masker.

Pesan Opi kepada para pelaku UMKM lainnya dalam menghadapi situasi Covid adalah tetap bersabar dan terus berusaha. Karena tetap ada peluang bagi mereka yang ingin berusaha.

Selain itu, menurut Opi harus tetap menjalankan protokol kesehatan 3 M yakni memakai masker, menjaga jarak, serta rajin-rajin mencuci tangan menggunakan sabun dengan air yang mengalir.

“Insya Allah bila kita tetap menjalankan protokol kesehatan, kita akan terlindungi dari bahaya Corona,” sebut Opi. (ts-02)