Cerita Hakim PN Medan Terpapar Corona, Diledek Sang Anak ‘Mamak Covid’

853
Rurita Ningrum saat dilantik sebagai Hakim Ad Hoc PN Medan. (foto: (Ist)

Minggu pertama September 2020. Media massa diramaikan dengan kabar 38 orang di Pengadilan Negeri (PN) Medan positif terpapar Corona Virus Disease (Covid-19).

Mereka diketahui positif Covid-19 berdasarkan hasil swab yang dilakukan pada 27 Agustus 2020. Dari jumlah itu, 13 diantaranya merupakan hakim di PN Medan termasuk Ketua PN Medan Sutio Jumagi,  dimana sang istri–Rahmi Sutio, akhirnya meninggal dunia akibat terpapar virus tersebut pada 13 September 2020.

Satu diantara hakim PN Medan lainnya yang terpapar Covid-19 adalah Rurita Ningrum, Hakim Ad Hoc Tipikor PN Medan  yang juga dikenal sebagai aktivis perempuan dan pengamat anggaran lewat lembaga Forum Indonesia Transparansi Anggaran (FITRA) Sumut.

Awalnya, Ruri–demikian ibu satu anak itu biasa disapa, sangat terkejut tak menyangka dirinya bakal terpapar virus Covid-19.  Sebab dia merasa sehat-sehat saja, meski diakui Ruri dia memang mengidap penyakit asma dan sinusitis yang gejalanya sangat mirip dengan Covid-19.

Hakim Ad Hoc PN Medan Rurita Ningrum

Saat diketahui terpapar Covid-19, dokter menyarankan Ruri untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Di rumah itu pula dia tinggal bersama anak semata wayangnya yang sering dipanggilnya ‘abang pipi donat’, ibu dan saudaranya. Sementara sang suami tengah bekerja di Kota Solo.

Oleh dokter, Ruri hanya diminta menjalani isolasi mandiri di rumah. Dia diberi vitamin dan obat-obatan sembari diminta beristirahat guna memulihkan stamina tubuhnya.

Masa isolasi di rumah menurut Ruri bukanlah suatu hal yang mudah. Dia merasa jenuh karena harus mengurung diri di kamar siang dan malam.  Apalagi  saat itu rumahnya sedang direnovasi, menaikkan lantai agar rumah tidak kebanjiran lagi. Rumahnya jadi sering dipenuhi debu, suara berisik dimana-mana.

Apalagi dia harus jaga jarak dengan anak dan keluarganya, demi menjaga agar mereka tidak ikut tertular.

Meski sedang sakit, sebagai seorang ibu sesekali dia juga merasa rindu untuk memasakkan buah hatinya. Tak terlihat raut kecemasan di wajah sang anak yang kerap meledek ibunya dengan panggilan “Mamak Covid”. Sang buah hati membuat Ruri semakin semangat untuk sembuh.

BACA JUGA  FITRA Sumut Soroti Anggaran Raker DPRD SU Rp2,5 Miliar

Demikian juga sang ibu yang tinggal bersamanya. Mereka semua saling menguatkan dan memberikan semangat agar dirinya segera pulih kembali. Dukungan dari keluarganya membuat masa pemulihan lebih cepat dilakukan.

Sementara proses isolasi dilakukan, Ruri awalnya menyimpan informasi soal kondisinya yang terpapar Covid-19. Alasannya, karena dia tak ingin saudara atau rekan kerjanya menjadi panik dan cemas.

Namun akhirnya satu persatu teman teman yang baru berinteraksi dengannya diajak berkomunikasi menyampaikan kabar kalau ternyata hasil SWAB, dirinya positif Covid-19. Dia bersyukur mendapatkan banyak dukungan dan semangat yang menguatkan dari para sahabat.

Ruri mengaku tidak tahu dimana persisnya dia terpapar Covid-19. Sebab pekerjaannya membuat dia harus sering bepergian ke luar kota. Namun Ruri menduga kuat terpapar virus tersebut saat tengah berobat ke rumah sakit, mengingat penyakit Asma dan Sinus yang dideritanya membuat dia harus kerap mendatangi rumah sakit.

Apalagi rumah sakit tempat dia berobat juga dijadikan rumah sakit rujukan pasien Covid-19.

Sejak beberapa bulan terakhir menurut Ruri memang kondisi tubuhnya sempat drop. Sehingga dia harus sering ke rumah sakit untuk berobat.

Sebelum dilakukan swab pertama, sinusnya sedang kambuh berat. Dokter meminta agar dilakukan foto di bagian wajah mirip MRI (Magnetic Resonance Imaging)–yakni suatu tindakan medis yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menampilkan gambar organ serta jaringan di dalam tubuh. Namun saat itu hanya kepala saja yang dimasukkan ke alat sebesar peralatan MRI itu.

Dokter menyarankan agar segera dilakukan operasi sinus karena cairan sudah memenuhi rongga sinus di pipi bagian kiri dan di sekitar rongga mata,  yang menyebabkan keluhan rasanya gigi-gigi di bahaian sebelah kiri serasa mau copot, dan mata rasanya berdenyut.

BACA JUGA  Diskusi Publik FITRA & Ombudsman, Masyarakat Didorong Buat Pengaduan Secara Online

Namun karena situasi sedang pandemi  Covid-19, Ruri menunda jadwal operasi sinus tersebut. Pasca dua hari kontrol dengan dokter THT tersebut dengan lima jenis obat yang harus dikonsumsi, kondisi kesehatannya pun semakin membaik. Kupingnya  tidak lagi pekak, gigi dan mata mulai normal.

Pada 9 September 2020, Rurita Ningrum melakukan tes swab kedua, dia bersyukur bahwa pada tes kedua yang dilakukannya dia sudah dinyatakan negatif Covid-19.

Ruri menilai penanganan Covid-19 yang mulai menyerang Indonesia sejak awal tahun 2020 sangat tidak jelas. Sebab informasi yang beredar di televisi dan media sosial justru membuat masyarakat menjadi takut untuk memeriksakan diri di rumah sakit milik pemerintah. Saat tidak ada pandemi saja pelayanan di rumah sakit pemerintah sangat tidak baik, apalagi saat-saat musibah pandemi ini terjadi.

Terlepas dari adanya sekelompok masyarakat yang menganggap bahwa Covid-19 ini adalah sebuah teori konspirasi, Rurita Ningrum mengimbau masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun di air yang mengalir. Dia juga mengimbau masyarakat untuk rajin menggunakan hand sanitizer.

Ruri juga berbagi tips untuk meningkatkan stamina tubuh agar tak mudah terjangkit penyakit, sering-seringlah mengonsumsi vitamin C, E dan tidur lebih awal serta banyak minum air putih.

Selain itu dia juga mengonsumsi rimpang-rimpangan yakni jahe dipotong-potong, tambah sedikit kunyit, direbus bersama asam jawa, gula merah dan daun sereh, kemudian setelah mendidih minuman herbal tersebut disaring kemudian hidangkan bersama perasan jeruk nipis, yang menurutnya rasanya segar sekali. (Hafnida Dalimunthe)

Loading...
loading...