Masjid Jamik Ismailiyah; Salah Satu Jejak Kebesaran Kerjaan Bedagai, Kini Jadi Primadona Warga Tanjung Beringin

1301

tobasatu.com, Sergai | Berdiri menawan dengan dinding dan tiang yang berada dalam koridor asli, masih kokoh hingga sekarang. Keunikan dan konstruksinya berbaur oleh berbagai unsur luar yang kemudian menyatu dalam warna suatu kebangsaan daerah.

Inilah yang kita lihat ketika berada di Masjid Jamik Ismailiyah di Desa Pekan Tanjung Beringin, Kecamatan Tanjung Beringin, Serdang Bedagai (Sergai). Masjid ini menjadi pertanda salah satu jejak sejarah kebesaran dan kemasyuran peninggalan kerajaan Bedagai.

Tengku Abdul Azim (66) yang biasa disapa Pak Konteng, pengurus masjid yang juga salah satu tokoh sejarah ini mengatakan warna khas masjid tersebut adalah warna kerajaan Melayu yakni kuning, putih dan biru.

Dia menjelaskan, masjid tersebut didirikan tahun 1882 atas perintah Tengku Ismail, leluhur Tengku Ostman Raja dari Kerajaan Deli yang kini bersinggasana di Medan. Saat itu, kerajaan yang dipimpin Tengku Ismail gelar Pangeran Sulung Laut ini masih bernama Negeri Padang Bedagai. Wilayah kekuasaan meliputi Tanjung Beringin, Sei Rampah, Teluk Mengkudu, Dolok Masihul dan Bandar Khalifah. Tidak bisa dipungkiri, garis wilayah dan nama daerah itu telah turut mengilhami pembentukan Kabupaten Sergai.

Arsitektur Masjid Jamik Ismailiyah Tanjung Beringin secara umum bergaya bangunan Turki dan Arab. Ini dapat dilihat dari ukiran dan relife nama Allah SWT dan Muhammad SAW pada tiang penyangga teras masjid. Ukiran itu sebanyak 24 buah dan kondisinya masih sangat baik. Bahan bangunan yang didatangkan dari Malaysia masih tampak kokoh.

Bagian dalam mesjid terdapat empat tiang penyangga terbuat dari kayu yang menampilkan kesan kokoh. Pilar-pilar berdiri agak berdekatan karena bagian dalam masjid memang tidak terlalu luas. Tiang-tiang itu juga menjadi pembatas sholat antara laki-laki dan wanita.

BACA JUGA  Sehari Jelang Ramadan, 10 Rumah di Sicanang Rata Tanah Diamuk Jago Merah

Mimbar khutbah yang terbuat dari kayu dipenuhi ukiran yang sangat rumit. Sama seperti pernak pernik lainnya, mimbar tersebut juga di datangkan dari Penang, Malaysia. Ciri khas berikutnya adalah kedudukan delapan pintu dan enam jendela terasa elegan dengan khas jendela berdaun.

Untuk desain atap masjid menonjolkan bentuk istana dengan model lebah bergantung, kubahnya sama dengan kubah masjid lain, tapi sedikit lebih memanjang, seng yang banyak mengandung timah masih kokoh hingga sekarang.
Tembok pagar tua setinggi satu meter dan lantai masjid juga masih baik. Begitu juga tempat wudhu di sebelah kanan bangunan. Hana menara masjid setinggi 15 meter dibangun menyusul.

Dibagian belakang masjid, tampak deretan makam dengan berbagai ukuran. Di masjid Jamik Ismailiyah, ada tiga makam yang akan menonjol dan menarik perhatian. Ketiga makam ini dipagar besi. Di sinilah almarhum Tengku Ismail dan kedua adiknya Tengku Rahmad dan Tengku Rasyid dimakamkan.

Di bulan Ramadhan. Masjid Jamik Ismailiyah ini menjadi primadona bagi umat muslim untuk melaksanakan sholat lima waktu maupun kegiatan keagamaan lainnya. Bagi masyarakat Tanjung Beringin merasakan kenyamanan yang berbeda dengan masjid lain jika melakukan sholat di Masjid Jamik Ismailiyah tersebut.

Para jamaah banyak memilih berbuka puasa bersama di masjid tersebut dan dilanjut sholat magrib bersama. Hanya saja, ada tradisi terdahulu yang hilang yakni makan bubur pedas khas bubur melayu untuk berbuka puasa. (ts23)

Loading...
loading...