Rilis Film A Thousand Midnights in Kesawan Ditunda Akibat Pandemi

5224
Sutradara Film A Thousand Midnight in Kesawan Jenni Buteto saat berbicara dalam sebuah diskusi.

tobasatu.com, Medan | Rilis film A Thousand Midnights in Kesawan (ATMiK) besutan sutradara Djenni Buteto dan Hendry Norman ditunda. Penundaan ini disebabkan belum dibukanya bioskop di Medan karena status pandemi covid 19 yang masih mengkhawatirkan. 

Informasi terakhir, Walikota Medan Bobby Nasution menyatakan Kota Medan berada di zona oranye. 

Djenni Buteto, dalam keterangan yang diterima redaksi tobasatu.com, Selasa (22/6/2021) mengatakan rencananya film ATMiK rilis akhir Juni 2021, namun karena kondisi belum memungkinkan akhirnya rilis filmnya ditunda. 

Djenni berharap bioskop di Medan segera dibuka seperti di beberapa kota besar lainnya. Namun tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan. 

“Bioskop itu merupakan etalase utama film, pembuat film sekarang lesu karena bioskop pada tutup. Karya mereka kesulitan bertemu penontonnya meskipun sudah ada bioskop online. Masyarakat juga kan butuh hiburan. Dengan protokol kesehatan untuk bioskop seperti di kota-kota lain, Medan kurasa bisa mengikuti,” ujar Djenni. 

Produk Kreatif via Crowdfunding 

Di tengah pandemi covid 19 banyak pekarya kesulitan finansial. Penjualan produknya tersendat, pertunjukan dan pameran tidak berlangsung secara fisik sehingga mempengaruhi promosi dan berimbas pada penjualan. 

Hal ini juga menimpa pembuat film. Sponsor dan investor yang selama ini sulit dijangkau pembuat film Medan semakin susah ditemui untuk membiayai produksi. Salah satu cara alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan cara urun dana atau crowdfunding.

“Crowdfunding ini membutuhkan manejemen tersendiri agar berhasil sesuai tujuannya, yakni pembiayaan produksi karya,” ujar Andi Hutagalung, salah satu sutradara film asal Medan. Saat ditemui dalam diskusi bertajuk ‘Produk Kreatif via Crowdfunding, Efektifkah?’ di Literacy Coffee, kemarin, ia menambahkan bahwa urun dana bisa dilakukan asalkan kesadaran dan apresiasi masyarakat akan produk kreatif sudah memadai. “Masyarakat memiliki kepentingan sebagai konsumen akan produk-produk kreatif ini, mereka adalah pasar produk-produk kreatif ini,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Alween Ong, yang juga hadir sebagai salah satu pembahas. Menurutnya crowdfunding ini cermin harmonisnya kondisi kreator dan stakeholder, yakni masyarakat itu sendiri. Pegiat bidang kreatif turut menunjang ekonomi pembangunan suatu daerah, sudah seharusnya mendapat perhatian oleh pemimpin daerah. 

“Medan ini punya banyak pegiat bidang kreatif yang punya produk bagus dan bernilai ekonomi tinggi. Mulai dari musik, film, kriya, seni rupa, yang bisa lebih baik lagi namun butuh promosi, pemasaran yang tepat. Ini yang perlu digiatkan dan butuh akses dari pemerintah untuk memperlancarnya. Itu support konkrit, pemerintah harus berinvestasi di situ,” paparnya. 

Di bidang film, crowdfunding pernah dilakukan oleh Djenni Buteto saat membuat film panjang pertamanya La Lebay 2015 lalu. Saat itu ia meniru apa yang dilakukan Samaria Simajuntak saat memproduksi film Demi Ucok. Ia melakukan crowdfunding untuk membiayai film tersebut dan berhasil. Hal inilah yang ditiru Djenni Buteto di Medan untuk membantu produksi film La Lebay. Setidaknya ada 20 orang co-producer yang urun dana waktu itu. 

“Sangat bahagia ada mereka yang mau urun dana untuk biaya film La Lebay waktu itu. Sebagai feed back kami beri merchandise dan tiket serta namanya dicantumkan di credit title sebagai co-producer, mirip apa yang dilakukan oleh Samaria Simanjuntak. Aku sangat terinspirasi oleh beliau saat itu,” ujar Djenni. 

Baginya sangat penting sekali orang Medan tetap memproduksi film dengan tema kedaerahan atau local issue. Sebab selain dalam sejarah kota ini memiliki segudang produksi film yang beredar di bioskop nasional, penonton film di Medan sangat tinggi jumlahnya. Ini adalah pasar positif bagi film sebagai produk kreatif. Tinggal bagaimana membuat film yang bagus dan menarik sehingga membangkitkan pamor film Medan di pasar daerahnya sendiri.

“Setidaknya ada 99 profesi yang terlibat dalam sebuah pembuatan film. Jika ini hidup sebagai industri, bisa dibayangkan berapa lapangan kerja yang terbuka lebar,” pungkas Djenni.  (ts-02)

BACA JUGA  Duh Medan…! Baru Syuting Perdana, Kru Film Kesawan The Movie 'Dipalak' Preman
Loading...
loading...