Pemerintah RI Upayakan Evakuasi Sembilan WNI Asal Binjai yang Terjebak Perang Ukraina-Rusia

633
Pihak keluarga sembilan orang warga Kota Binjai yang bekerja di Ukraina saat ini terkepung ditengah konflik Rusia - Ukraina, melakukan webiner bersama Dubes KBRI Ukraina dan biro Kemenlu, di ruang Binjai Command Center (BCC) Pemko Binjai, Senin (07/03/2022).

tobasatu.com, Binjai | Pihak keluarga sembilan orang warga Kota Binjai yang bekerja di Ukraina saat ini terkepung ditengah konflik Rusia – Ukraina, melakukan webiner bersama Dubes KBRI Ukraina dan biro Kemenlu, di ruang Binjai Command Center (BCC) Pemko Binjai, Senin (07/03/2022).

Kedatangan keluarga para pekerja di sebuah Pabrik Plastik tepatnya di Kota Chernihiv (sekitar 2 jam dari Kiyv yang merupakan Ibukota Ukraina) serta diinisiasi oleh Dubes RI LBPP Untuk Ukraina periode 2017-2021, Prof Dr H Yuddy Chrisnandi SH ME dan PWI Kota Binjai, Arma Delisa Budi guna melakukan Zoom Meeting serta mencari solusi untuk melakukan evakuasi.

Yuddy Chrisnandi, Dubes RI LBPP untuk Ukraina Gofur, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Perdagangan Kota Binjai Drs H Hamdani Hasibuan, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Binjai Nelly Rosa Hasibuan, Ketua PWI Binjai Arma Delisa Budi, mewakili Binjai Berdiskusi Leriadi, Direktorat Eropa 2 yang membawahi Ukraina dan Rusia Lucky Winardi, Direktur Perlindungan Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha dan Karina Wulandari serta para kesembilan pekerja asal Binjai dan Langkat.

Menurut Ayi Rodiyah, Istri dari Iskandar dan juga orangtua dari Muhammad Aris Wahyudi yang bekerja di Kota Chernihiv, Ukraina, hingga saat ini dirinya masih bisa melakukan komunikasi melalui Video Call dengan keluarganya.

“Sebagai seorang istri dan orangtua, tentunya saya sangat khawatir dengan keselamatan keluarga kami. Kami sebagai keluarga tentunya berharap kepada Pemerintah Indonesia, agar segera melakukan evakuasi dan dipulangkan ke Indonesia,” tutur Rodiyah.

Ia juga mengatakan, saat ini Kota Chernihiv masih berlangsung musim Salju. Hal itu diketahui dari suaminya melalui sambungan telepon seluler.

“Saat ini disana lagi musim salju dan tentunya iklimnya sangat dingin. Suami saya juga mengatakan, pada saat berada di Bunker, ia tidur dengan posisi duduk,” terang wanita berhijab ini sembari mengaku terus berikhtiar dan berdoa untuk keselamatan Suami dan anak serta rekan-rekannya.

BACA JUGA  PDAM Tirtasari Binjai akan Bangun IPA Berkapasitas 600 Liter/Detik

Sementara itu, Yuddy Chrisnandi, saat melakukan Zoom Meeting mengaku mengenal kesembilan warga asal Binjai yang sudah bekerja di Pabrik Plastik yang ada di Kota Chernihiv sejak tahun 2018 lalu.

Dijelaskan Yuddy, Kota Chernihiv merupakan jalur tentara Rusia melalui Belarusia. “Untuk melewati jalur tersebut tentunya memerlukan waktu, karena diluar pabrik lebih bahaya dari pada di dalam pabrik,” ungkap Yuddy sembari menegaskan bahwa Kota Chernihiv bukan merupakan target tentara Rusia.

Sebagai Dubes RI LBBP untuk Ukraina Periode 2017-2021, Yuddy juga mengatakan, Chernihiv yang merupakan jalur tentara Rusia menuju Belarusia, saat ini oleh Pemerintah Ukraina dilarang untuk dilintasi. “Selain dilarang untuk dilintasi, dijalur itu oleh Pemerintah Ukraina juga diterapkan jam malam,” urainya.

Lanjut Yuddy Chrisnandi, Pemerintah Indonesia yang ada di Belarusia maupun di Ukraina, hingga saat ini akan terus berusaha melakukan evakuasi terhadap seluruh Warga Negara Indonesia yang terjebak akibat perang dari negara pecahan Uni Soviet ini.

Diplomat dari Kementerian Luar Negeri, Lucky Winardi yang secara intens membantu evakuasi warga Negara dari Ukraina, juga menegaskan bahwa jalur yang dimaksud tersebut hingga saat ini tidak bisa dilalui.

“Begitupun Dubes kita terus berkordinasi dengan Dubes Ukraina di Kiyv dan Dubes Rusia di Moskow,” tegas Lucky yang mengaku bahwa saat ini dirinya juga berada di Kota Chernihiv, yang berjarak sekitar 100 Km dari Kiyv, Ibukota Ukraina.

Diakui Lucky, hingga saat ini dirinya juga masih terus mengamati langsung proses evakuasi.

“Kita ada tim khusus, jadi tidak perlu khawatir dan tentunya kami sangat memprioritaskan keamanan dalam konteks konfliks ini. Artinya ini merupakan komitmen Pemerintah Indonesia,” pungkasnya.

Judha Nugraha yang juga mewakili Direktur perlindungan kementerian Luar Negeri menegaskan, dalam konflik peperangan antara Ukraina dengan Rusia, pihaknya sudah mengeluarkan 113 WNI dari Ukraina. Dari jumlah itu, 80 orang diantaranya sudah  dipulangkan dengan pesawat ke Indonesia.

BACA JUGA  DPC PKB Kota Binjai Apresiasi Keberhasilan Binjai United U17

“Perlu diketahui, Kota Chernihiv hingga saat ini masih menjadi zona pertempuran. Kami berjanji setelah ada titik terang maka kami akan segera meevakuasi seluruh WNI yang terjebak dalam konflik itu,” ujar Judha.

Menurut Judha, jika situasi bisa nnti nya mengevakuasi pekerja yang masih terjebak itu akan di ungsikan sementara ketempat aman seperti di Yordania, daerah terdekat Ukraina dan nanti nya baru bisa kembali ke Indonesia.

“Kalau untuk saat ini tidak mungkin di lakukan, yang penting tidak putus komunikasi antara kita sesama pihak kemenlu dan dubes, yakin lah perkembangan kita pantau terus,” sebut Judha Nugraha.

Iskandar, salah seorang dari 9 Pekerja asal Binjai dan Langkat yang bekerja di Pabrik Plastik yang ada di Kota Chernihiv, mengaku khawatir dengan keselamatsn dirinya dan rekan rekannya.

“Saat ini kami tidak di Bunker lagi. Kami sekarang bersembunyi dilantai bawah pabrik. Alhamdulillah untuk kebutuhan makanan sampai sekarang masih disubsidi oleh bos kami. Begitupun kami khawatir tentang keselamatan kami,” demikian kata Iskandar dalam Zoom meting itu.

Berikut nama nama warga Binjai yang bekerja di Chernihiv, Ukraina, Iskandar, Muhamad Raga Prayuda, Muhamad Aris Wahyudi, Syahfitra Sandiyoga, Agus Alfirian, Rian Jaya Kusuma, Dedi Irawan, Zulham Ramadhan dan Amri Abas. (ts-25)

Loading...
loading...