Mengenal Masjid Al Osmani, Peninggalan Kerajaan Deli dengan Ornamen 5 Kebudayaan   

1406

tobasatu.com, Medan | Tahukah anda masjid tertua di kota Medan? Masjid Raya Al Oesmani atau yang sering disebut warga sekitar dengan Masjid Kuning terletak di Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, sudah berdiri megah sejak tahun 1854, dengan memiliki ornamen dari 5 kebudayaan. Masjid dari Kerajaan Deli ini menggambarkan Islam sebagai agama yang terbuka bagi seluruh umat manusia.

Masjid Raya Al Oesmani, atau yang sering disebut warga sekiitar sebagai “Masjid Kuning” ini terletak di ajalan Komodor Laut Yos Sudarso Km 17,5, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan.

Badan Kenaziran Masjid Al Oesmani Al Ustadz Ahmad Farunu menjelaskan, Masjid Raya peninggalan Kerajaan Deli, oleh Sultan Osman Perkasa Alam, yakni sultan ketujuh, pada tahun 1854 ini awalnya hanyalah masjid yang berukuran 16×16 meter, yang keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu.

Namun setelah wafatnya Sultan Osman Perkasa Alam, Masjid Raya ini direnovasi, menjadi bangunan permanen oleh anak beliau Sultan Mahmud Perkasa Alam ditahun 1870 sampai 1872 dan kemudian terus dilakukan perbaikan, hingga menjadi bangunan seperti sekarang.

Pada masanya, Masjid Al Oesmani ini digunakan sebagai tempat ibadah Sultan dan pusat keagamaan lainnya, tidak jauh beda dengan fungsinya dimasa sekarang, sementara itu bangunnan kerajaan sudah rata dengan tanah dan dibangun sekolah yang sekarang bernama YASPI (Yayasan Pendidikan Islam).

Masjid Raya Al Osmani ini merupakan masjid yang memiliki perpaduan arsitektur 5 kebudayaan, mulai dari Timur Tengah yang terlihat pada kubah persegi delapan, arsitektur India yang tampak pada ukiran tiang, arsitektur China yang terlihat pada setiap pintu masjid, Melayu dan juga Spanyol yang dilihat dari warna dan desain bangunannya.

Terdapat 3 pintu utama berukuran besar dimasjid ini, selain dapat melihat berbagai macam arsitektur budaya, didalam masjid megah ini kita juga dapat melihat sebuah mimbar antik terbuat dari kayu ukir yang digunakan khotib untuk ceramah sholat jumat, yang masih terjaga pada masanya hingga sekarang.

BACA JUGA  Jamaah Masjid Miftahul Jannah Apresiasi Program Menyapa Subuh Kapolrestabes Medan

Sedangkan di belakang masjid, terdapat sebuah bedug tua dan pertama dizaman Sultan Osman Perkasa Alam, yang masih kokoh. Namun karena perkembangan zaman bedug ini tak lagi digunakan dan disimpan. Sementara itu di areal depan dan samping kiri masjid terdapat pula komplek pemakaman keluarga Sultan Deli.

Badan Kenaziran Masjid Al Oesmani ini juga menyampakan, meski bulan suci Ramadhan 1443 hijriyah, masyarakat melaksanakan ibadah ditengah wabah covid 19, kegiatan keagamaan akan terus dilakukan, seperti sholat tarawih, tadarus al qur’an, berbuka puasa, peringatan malam nuzul qur’an dan pada setiap hari kamis akan dilaksanakan berbuka puasa dengan bubur pedas yang sudah menjadi rutinitas dibulan suci ramadhan, sekaligus melestarikan masakan tradisional yang menjadi santapan favorit Sultan Melayu dibulan puasa pada masanya. (ts14)