Di Sergai Ada Pura Bali, Diwarnai Dengan Keterikatan Budaya dan Semangat Gotong Royong

433
pencampuran antar budaya yang terjadi di Desa Pegajahan, khususnya masyarakat Bali, membuat tertarik para budayawan dan wartawan senior yang notabene merupakan Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Tahun 2023 untuk berkunjung.

tobasatu.com, Sergai | Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dikenal sebagai daerah yang multikultural karena didiami oleh masyarakat dengan latar belakang identitas yang berbeda. Meskipun kental dengan budaya Melayu, di Kabupaten yang punya semboyan “Tanah Bertuah Negeri Beradat” ini, tinggal warga etnis Jawa, Batak, Padang, sampai keturunan Tionghoa. Tak cuma itu, ternyata di Kabupaten Sergai hidup dan menetap pula masyarakat yang secara geografis berjarak cukup jauh dari daerah asalnya, Bali.

Pura Bali di Desa Pegajahan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).

Masyarakat Bali di Kabupaten Sergai punya sejarah panjang dan menarik. Dikisahkan oleh Komang Reni, Ketua Sukaduka Umat Hindu Bali, mayoritas masyarakat yang punya asal dari Pulau Dewata ini tinggal di Desa Pegajahan, Kecamatan Pegajahan. Ia menyebut semuanya berawal pada tahun 1963, saat terjadi letusan Gunung Agung di Kecamatan Karangasem, Pulau Bali, yang mengakibatkan perubahan sosial signifikan di Bali. Sejumlah 63 keluarga atau sekitar 200 jiwa yang terpaksa mengungsi di Kota Denpasar dijadikan sebagai karyawan kontrak PTPN II selama 6 tahun pertama, terhitung sejak 1963 sampai tahun 1969 di Kecamatan Perbaungan, lewat program transmigrasi.

Transmigrasi adalah suatu program yang dibuat oleh pemerintah Indonesia untuk memundahkan penduduk dari suatu daerah ke daerah yang padat penduduk (kota) ke daerah yang masih kurang penduduk atau bahkan tidak ada penduduknya di dalam suatu wilayah Indonesia.

Meskipun awalnya hanya menjadi karyawan kontrak, Komang Reni menyebut masyarakat Bali berhasil melakukan banyak kegiatan dan mempererat hubungan silaturahmi dengan sesama kelompok masyarakat sesama etnis dan agama, seperti kegiatan arisan sesama penganut Hindu yang berasal dari Bali.

“Pada akhir kontrak kerja mereka, pihak perusahaan menawarkan dua pilihan yaitu apakah mereka akan mengakhiri kontrak atau melanjutkan kembali. Sebagian masyarakat Bali memohon untuk mundur dengan hormat karena ingin kembali ke tanah leluhurnya di Bali, dengan pertimbangan mereka masih memiliki harta warisan di pulai Bali yang dapat dikelolah kembali,” ucapnya.

Keberadaan Pura Bali di Desa Pegajahan berawal pada tahun 1963, saat terjadi letusan Gunung Agung di Kecamatan Karangasem, Pulau Bali, yang mengakibatkan perubahan sosial signifikan di Bali. Sejumlah 63 keluarga atau sekitar 200 jiwa yang terpaksa mengungsi di Kota Denpasar dijadikan sebagai karyawan kontrak PTPN II.

Sementara sebagian masyarakat menyatakan ingin melanjutkan kontrak kerjanya dan ingin terus menetap di Desa Pegajahan dan membentuk perkampungan masyarakat Bali. Banyak dari mereka yang melanjutkan kontrak kerja kedua dengan waktu selama 3 tahun. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Bali melakukan adaptasi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Mereka juga menyisihkan gaji untuk tabungan sehingga dapat membeli tanah dan membuka usaha lainnya di luar kompleks perkebunan. Hal ini membantu mereka menjadi masyarakat permanen di Desa Pegajahan dan bergabung dengan masyarakat lokal setelah kontrak kerja mereka berakhir.

“Namun sekarang warga Bali yang tersisa hanya kurang lebih 7 KK saja,” ucap Komang.

Masyarakat Bali yang berada di perkebunan tidak hanya fokus pada pekerjaan mereka, tetapi juga mulai memikirkan bagaimana membentuk hubungan yang lebih baik dengan masyarakat setempat. Mereka menyadari bahwa integrasi yang lebih baik dengan masyarakat perkebunan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mereka dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.

Untuk mewujudkan hal ini, masyarakat Bali mulai membentuk paguyuban-paguyuban dan organisasi solidaritas seperti “Parisada Hindu Dharma”. Ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat Bali memiliki semangat gotong royong dan solidaritas yang kuat. Dengan bergabung dalam organisasi ini, masyarakat Bali dapat saling membantu dan mendukung satu sama lain, baik dalam hal keagamaan maupun sosial. Selain itu, mereka juga dapat memperkuat hubungan dengan masyarakat setempat dan mempererat rasa persaudaraan antar etnis. Inisiatif yang diambil oleh masyarakat Bali ini patut diapresiasi dan dijadikan contoh bagi masyarakat lainnya. Dengan membangun hubungan yang lebih baik dengan masyarakat setempat, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan damai, serta meningkatkan kesejahteraan bersama.

Masyarakat Bali yang berada di perantauan memiliki keterikatan yang kuat pada unsur-unsur kebudayaan leluhur mereka. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka memegang teguh adat istiadat dan ajaran Hindu yang merupakan bagian dari identitas budaya Bali. Untuk mempertahankan tradisi dan kepercayaan mereka, masyarakat Bali membangun Pura Dharmaraksaka di sekitar rumah mereka. Pura ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan ritual bagi masyarakat Bali yang tinggal di sekitarnya. Meskipun jauh dari tanah kelahiran mereka, mereka masih dapat merayakan budaya dan adat istiadat seperti di Bali bersama sesama masyarakat Bali lainnya. Tak hanya itu, Pura Dharmaraksaka juga telah menjadi pusat perhatian bagi banyak orang, termasuk wisatawan yang tertarik untuk belajar tentang budaya Bali dan ajaran Hindu. Destinasi wisata ini menawarkan pengalaman yang autentik bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana keagamaan dan budaya Bali yang asli. Inisiatif masyarakat Bali untuk membangun Pura Dharmaraksaka adalah sebuah contoh nyata bagaimana kita dapat mempertahankan budaya dan tradisi leluhur kita, meskipun jauh dari tanah kelahiran. Selain itu, hal ini juga dapat menjadi potensi wisata yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Kegiatan yang kita sering dilakukan yaitu, 25 hari menjelang hari raya Galungan. Nanti berdatangan masyarakat Hindu Bali yang berasal dari Kota Medan, Siantar, Aek Kenopan, dan Binjai, saat perayaan itu,” tambah Komang.

Kehadiran kampung Bali di tengah-tengah masyarakat Pegajahan menjadi bukti nyata bagaimana keberagaman suku dan budaya dapat menjadi kekuatan untuk saling menghargai dan saling bertoleransi. Meskipun masyarakat etnis Bali merupakan kelompok pendatang, mereka telah mampu hidup rukun dan damai selama bertahun-tahun dengan masyarakat setempat yang berasal dari berbagai suku dan budaya seperti suku Jawa, Batak, Melayu, dan lain sebagainya.

Untuk dapat diterima oleh masyarakat setempat, masyarakat Bali dituntut untuk mampu beradaptasi dan saling menghargai satu sama lain. Jika hal ini tidak terjadi, sulit bagi etnis Bali untuk diterima secara penuh oleh masyarakat atau penduduk etnis lain yang sudah menetap di daerah ini. Namun, proses adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat Bali tidaklah mudah. Mereka harus belajar untuk bergaul secara utuh dengan masyarakat setempat dan mulai memahami adat istiadat serta kebiasaan yang berlaku di daerah tersebut.

Tentunya, dengan adanya transmigrasi dan proses adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat Bali, kemungkinan terjadinya penurunan unsur-unsur kebudayaan leluhur yang mereka bawa sangat besar. Hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut, terutama dalam hal bagaimana masyarakat Bali memulai kehidupan sosial dan berinteraksi dengan lingkungan baru serta masyarakat setempat.

Meskipun demikian, keberagaman suku dan budaya yang ada di Desa Pegajahan tetap menjadi potensi yang besar untuk saling belajar dan bertukar pengalaman. Adanya pencampuran antar budaya yang terjadi di Desa Pegajahan juga menjadi bukti bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang saling menghargai dan saling toleransi.

Dikunjungi Budayawan dan Wartawan Senior dari Jakarta

Melihat pencampuran antar budaya yang terjadi di Desa Pegajahan, khususnya masyarakat Bali, membuat tertarik para budayawan dan wartawan senior yang notabene merupakan Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Tahun 2023 untuk berkunjung.

Kedatangan para Dewan Juri yang juga Budayawan ini terdiri dari  Ninok Leksono, Nungki Kusumastuti, Agus Dermawan T, dan Yusuf Susilo Hartono, awalnya mengikuti rangkaian Hari Pers Nasional Tahun 2023 (HPN) yang dihelat di Kota Medan. Namun, berkat promosi yang disampaikan oleh para pengurus PWI Sergai membuat para Budayawan tertarik dan akhirnya melakukan lawatan ke Kabupaten Tanah Bertuah Negeri Beradat.

Sebelum berkunjung ke pura Bali di Pegajahan, rombongan terlebih dahulu mencicipi kuliner khas laut di Pantai Pondok Permai dan sesudahnya juga mampir ke lokasi pacuan kuda Jerico Stable.

Kadis Kominfo Sergai Drs H Akmal, AP, M.Si saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (14/3/2023) menyampaikan jika melalui kunjungan para Budayawan maupun para wartawan dari ibu kota tersebut diharapkan dapat mempromosikan potensi wisata di Kabupaten Sergai, katanya.

“Saat saya mendampingi mereka untuk mengunjungi pura Bali di Pegajahan, mereka sangat antusias dan merasa kagum dengan keberagaman suku dan budaya yang ada di Kabupaten Sergai. Tak hanya di pura Bali saja, mereka juga sempat mampir di Pantai Pondok Permai untuk mencicipi kuliner khas laut dan mendatangi pacuan kuda di Jerico Stable,” pungkasnya. (ts-23)