TPID Medan Bahas Renstra Pengendalian Inflasi Tahun 2024

418

tobasatu.com, Medan | Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Medan membahas rencana strategis (renstra) pengendalian inflasi tahun 2024, Rabu (24/1/2024).

Rapat dipimpin oleh Wali Kota Medan Bobby Nasution diwakili Kabag Perekonomian Regen didampingi Deputi Direktur Bank Indonesia Perwakilan Sumut Wahyu Yuwana.

Hadir pada rapat ini Dirut PUD Pasar Medan Suwarno, Dirbang/SDM PUD Pasar Medan Imam Abdul Hadi, Kabag Kerja Sama Pemko Medan Lilik, perwakilan Kodim 0201/Medan, Polrestabes Medan, Kejari Pelabuhan Belawan, dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait lainnya.

Regen mengatakan rapat diadakan tak hanya mempersiapkan langkah-langkah strategis pengendalian inflasi tahun 2024, tetapi juga sebagai sarana evaluasi pengendalian inflasi tahun 2023.

Sepanjang tahun 2023, sejumlah program dilakukan yakni Gerakan Pangan Murah (GPM), pasat murah dan Pasar Keliling yang dilakukan PUD Pasar hingga Kerja sama Antar Daerah (KAD). Untuk tahun 2024, tentu target akan lebih berat. Meski begitu, pengendalian inflasi jangan terlalu rendah dan tidak pula terlampau tinggi.

Rapat ini, sambung Regen, agar program yang berjalan, bisa tercapai secara efektif. Sehingga pengendalian inflasi lebih baik lagi, terutama dalam pendistribusian barang dan keterjangkauan harga.

Dalam rapat itu pula terungkap, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Medan, selama Januari 2024, komoditas tomat justru memicu inflasi. Selain tomat, ada pula ikan tongkol, dan daging ayam ras. Ketiga komoditas ini selalu muncul sebagai penyumbang inflasi di bulan Januari dalam 3 tahun terakhir.

Menanggapi ini, Dirut PUD Pasar Medan Suwarno memaparkan dari data yang diperoleh, harga tomat super di Pasar Induk terhitung Rabu (24/1/2024) di kisaran Rp18 ribu perkilogram. Dalam dua pekan terakhir, jumlah pasokan tomat yang masuk juga mengalami penurunan.

BACA JUGA  Dihadang Jalan Becek dan Berlubang, Kunjungan Jokowi ‘Tamparan’ Keras bagi Pemko Medan

“Biasanya itu yang masuk kurang lebih 10 ton tomat, tetapi sekarang jumlahnya menjadi 3 ton saja. Kalau dari para pedagang kabarnya memang hasil produksi yang mengalami penurunan,” ujar Suwarno.

Sementara itu, Deputi Direktur Bank Indonesia Perwakilan Sumut Wahyu Yuwana memaparkan curah hujan menengah-tnggi sejak November 2023, berdampak dengan terganggunya produksi hortikultura. Gangguan meliputi pembusukan saat pembibitan, tanaman yang layu, dan gangguan jalur distribusi pangan akibat banjir atau longsor.

Wahyu mengajak unsur Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Medan membuat early warning sistem atau peringatan dini terhadap komoditas yang dapat memicu laju inflasi. (ts04)